Samuel Mengenalkan Sahabatnya

2.1K 23 0
                                    

 

Samuel mengenalkan sahabatnya

 

Tak beberapa lama ada seorang pria bertubuh tinggi,  tampan dan berkulit putih membuka pintu kafe. Ia terlihat sedang mencari seseorang. Ia pandangi seluruh kafe. Setelah mengetahui orang tersebut, Samuel melambaikan tangan dan memanggilnya “Hai.. kemari.” Seru Samuel. Pria tersebut menuju meja samuel dan berdiri dihadapannya.

“Samuel..?” Sapa pria tersebut.

“Fiki Ramadan..? Samuel bangkit dari tempat duduknya dan berdiri. Mereka berjabat tangan dan berpelukan. “Sudah lama sekali aku tak pernah mendengar kabarmu sobat. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Sambil menepuk-nepuk bahu Fiki dan terlihat begitu gembira.

“Baik sob. Maafkan aku jika aku tak pernah menghubungimu setelah acara wisuda kelulusan.”

“Ayo silahkan duduk?” Samuel manerik kursi dan mempersilahkan Fiki untuk duduk. “Perkenalkan ini temanku, Fika Anggraini, Fika ini kenalkan teman yang aku ceritakan tadi, Fiki Ramadan.”  

“Fika..” Fika mengulurkan tangannya.

“Fiki..., senang berkenalan dengan anda?” Fiki membalas jabat tangan Fika. Ia tersenyum kearah Fika.

“Fiki dan Fika. Eh sepertinya nama kalian kembar ya. Kayak saudara kembar saja. Hahaha..?” Samuel tertawa lebar saat itu. Fiki dan Fikapun juga tertawa melihat celotehan Sam.

“Sebelumnya kamu kerja dimana Fik?” tanya Samuel.

Fika menyela pertanyaan Samuel “Sebentar, maksud kamu itu bertanya kepada siapa? Fiki, atau diriku.” Fika agak bingung dengan panggilan Samuel, ia bertanya kepada siapa? Fika, atau Fiki. Mengingat nama mereka berdua hampir sama. Cuma beda huruf belakangnya saja.

“Maaf saya ulangi lagi pertanyaannya. Ehemm..” Samuel berdehem. “Sebelumnya kamu kerja dimana FIKI? “Samuel mengulangi kalimat tanyanya. Tapi kali ini ia perjelas. Pertanyaannya menuju pada sahabat lamanya. Pertanyaannya untuk Fiki.

Setelah menyadari pertanyaannya ditujukan kepadanya, Fiki langsung menjawab. “Ohh.  lulus kuliah aku merantau di Jakarta. Aku bergerak di bidang Event Organiser. Ya sudah lama juga sih aku bergelut di bidang itu. Aku membantu usaha pamanku.”

“Aku sudah mendengar itu dari teman-temanmu. Tapi aku tak tahu kalau kamu merantau ke Jakarta  Aku kira kamu sudah di boyong dengan ayahmu ke Singapura.” Senyum Samuel menyeringai. Ia sangat senang sekali bisa bertemu dengan sahabat lamanya.

“Ohh.. tidak Sam. Aku begitu mencintai indonesia. Dan aku dari dulu tak tertarik untuk kerja di Singapura. Aku lebih suka makanan indonesia.”

“Yang  jelas kamu juga lebih suka cewek indonesia bukan. Hahaha.” Sam kembali tertawa, begitu pula dengan Fiki. “Eh.. sepertinya Fika juga pernah cerita punya saudara di Singapura. Benar bukan?” tanya Samuel kepada Fika.

“Iya ibuku pernah cerita. Kalau aku juga punya saudara di sana. Tapi aku tak mengenal dia. Soalnya aku tak pernah bertemu dengannya.” Fika teringat bahwa suatu hari ibunya pernah bercerita kalau ada keluarganya yang tinggal di Singapura. Fika hanya meng iyakan perkataan ibunya. Fika tak tahu persis siapa keluarganya itu.

“Ohh.. mungkin aku bisa mengajakmu ke Singapura untuk mencari saudaramu disana?” Sahut Fiki dengan penuh semangat.

“Hey.. Aku saja tak pernah tahu wajahnya seperti apa? Alamatnya dimana? Bagaimana kalau acara mencari saudaraku diganti dengan acara jalan-jalan. Itu mungkin lebih asyik?” Kata Fika sambil tersenyum kearah Fiki.

“Enakan di kamu Fika. Baru kenal Fiki saja sudah mau minta diajak jalan-jalan. Aku saja yang sudah kenal lama tak pernah diajak jalan-jalan kesana?” Protes Samuel saat itu.

“Ya itu keunggulanku dari kamu Sam. Hahaha?” Fika tertawa lebar.

“Boleh-boleh. Nanti kita sekalian jalan-jalan kesana ya? Lihat karapan sapi?” Sahut Fiki.

Fika menyipitkan matanya dan menatap Fiki. Ia memikirkan kalimat terakhir Fiki melihat karapan sapi. Fika mulai sadar “Eh.. bukannya karapan sapi itu ada di Madura ya? Masak ada karapan sapi di Singapura. Kamu mau ajak aku kemana? Ke Singapura atau ke Madura?” Fika bingung sambil garuk-garuk kepala.

“Ya jalan-jalannya ke Madura saja lah. Lihat karapan sapi. Hahahaa..” Fiki kembali tertawa lepas melihat tingkah laku Fika saat itu.

“Ahh.. dasar kamu. Semua cowok itu sukanya ngerjain aku. Samuel, dan sekarang kamu, cowok yang baru ku kenal. Dasar cowok-cowok nakal.” Gerutu Fika saat itu. Samuel dan Fiki kembali tertawa. Fika mengerutkan wajahnya kesal.

“Hehehe.. senang bertemu denganmu Fika. Kamu itu sangat cerewet menurutku.” Fiki tersenyum kepada Fika.

“Aku cerewet. Dari mana? Sepertinya anda salah orang deh?” Sanggah Fika yang tak mau ia di bilang crewet.

“Betul Fiki, Temanku yang satu ini memang sangat cerewet. Yah maklum lah sesuai dengan profesinya.” Sahut Samuel.

“Memang profesimu apa Fika?” Tanya Fiki penasaran.

“Dia seorang penyiar radio. Tepatya radio satwa. Hahaha..” Cepat-cepat Samuel menyela pertanyaan Fiki sebelum Fika menjawabnya.

Really. It’s interesting job? Hahaha..” Sahut Fiki dengan terus tertawa.

“Tidak-tidak. Enak saja Sam kamu bilang aku penyiar radio satwa. Aku itu penyiar radio rusak. Hahahha.. puas kamu Sam?” Fiki memicingkan matanya ke arah Samuel dan kembali tertawa.

“Hahahahha... lucu-lucu.” Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Terlihat sangat akrab diantara mereka bertiga.

Fika teringat dengan kata-kata samuel. "aku yakin kamu bakalan suka dengannya.” Mengapa Samuel begitu yakin aku menyukai orang yang baru aku kenal? Ternyata anggapan Samuel benar. Ia menyukai teman samuel tersebut. Fika merasa sangat akrab dengan Fiki. Ia begitu mudah bergaul. Semua tak seperti bayangannya. Ia menganggap orang yang baru dikenal tak pernah menyenangkan. Ternyata anggapannya itu salah. “Setidaknya aku mempunyai teman baru yang asyik diajak bicara selain Samuel.” Gumam Fika dalam hati. Fika terseyum menatap Fiki.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang