prolog

5.9K 71 3
                                    

prolog

 

Rembulan malam yang menampakkan dirinya begitu anggun. Dengan cahaya sinar yang  mempesona dikeheningan malam. Angin yang berhebus lembut  menegaskan suatu roman yang sangat indah. Semilir angin itu melukiskan suatu malam yang sepi abadi. Disertai rintik-rintik gerimis keci yang semakin membuat malam ini begitu dingin menggigil. Ya memang dipertengahan bulan ini telah terjadi pergantian musim yang begitu drastis. Terkadang panas dan terkadang turun hujan tak menentu. Halilintarpun menggelegar memecahkan keheningan malam. Terlihat gelap di sudut-sudut rumah. Tanpa penerangan, dan seisi rumah saat itu memamngvtelah tertidur dan mematikan semua lampunya. Hanya seberkas cahaya rembulan yang menyusup di balik tirai jendela kamar seorang gadis.

Fika Anggraini terlihat duduk dan menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia menatap kearah luar cendela. Menatap indahnya rembulan yang menggantung  di langit biru yang sedang mendung. Ia hembuskan nafas panjangnya. Fikirannya begitu kosong. Hanya terdengar suara tik..tik..tik sebuah jam beker, dan gemericik hujan yang tiada hentinya. Begitu gelap saat itu. Ia memang sengaja tak menghidupkan lampu kamarnya. Ia merasa sangat kelelahan dengan rutinitas hari ini. Pekerjaannya yang begitu banyak telah menguras tenaganya. Fika menatap jam beker, sudah menunjukkan pukul 01.15.  Entah mengapa ia tak bisa memejamkan mata. Padahal sebenarnya tenaganya yang telah terkuras lebih memudahkan ia untuk cepat tertidur.

Tiba-tiba ia merasakan pening di kepalanya. Rasa pening itu lama kelamaan menjadi rasa sakit yang tak bisa ia tahan. Dadanya sesak bahkan sulit sekali untuk bernafas. Fikirannya begitu kacau. Bayangan itu datang lagi. Telinganya tiba-tiba mendengung. Terdengar suara klakson kereta yang sangat keras di telinganya. Terlihat pula begitu  jelas lalu lalang orang yang berlarian dan menjerit di fikirannya. Pekikkan suara sirine kebakaran, tangisan beberapa orang dan teriakan, serasa semua suara tersebut memenuhi telinganya dan fikirannya. Arrggghhhh.... ia menjambak-jambak rambutnya. Ia tak bisa menahan rasa sakit kepala yang begitu hebat. Serasa diotaknya ada sebuah bom yang siap meledak saat itu juga. Bayangan dan suara-suara itu datang lagi, dan selalu muncul di fikirannya. Entah dari mana datangnya suara dan bayangan itu. Setiap malam, setiap waktu, selalu ia dihantui oleh suara dan bayangan itu. Padahal jarak antara rumahnya dan stasiun kereta sejauh tiga ratus meter dan tak pernah terdengar suara kereta sedekat itu. Tapi anehnya suara itu begitu jelas dan selalu menghantui jiwanya setiap saat.  Fika merasa sangat terganggu akan semua itu. Keadaan kembali normal. Sampai akhirnya Fika tertidur dalam bayang-bayang yang menakutkan.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang