Secepat itu, fiki melamarku

4.4K 14 2
                                    

Secepat itu, fiki melamarku

Sore itu, setelah Fika pulang dari bekerja. Seperti biasa ia meneyempatkan diri untuk pergi ke Taman. Ia duduk seorang diri. Terlihat Fiki tak bersamanya. Ia duduk di kursi taman yang dekat dengan pohon mahoni besar. Ia menatap kearah langit dengan tatapan yang kososng.

Tiba-tiba bayangan itu muncul kembali, terlihat begitu jelas difikirannya kereta yang melaju cepat, terdengar pula klakson kereta yang berbunyi sangat kencang. Kepalanya mulai pusing dan tak tertahankan. Nafasnya kian tersengal-sengal dan pandangannya mulai kabur. Fika terus menjambak-jambak rambutnya untuk menahan rasa sakit dikepalanya. Tak ada yang tau keadaan Fika saat ini. Fika masih merasakan sakit yang begitu hebat dikepalanya. Arrggg... ia menggerang kesakitan. Terlihat lalu lalang orang difikirannya, terdengar jeritan orang-orang bahkan suara sirinemobil pemadam kebakaran membuat telinganya mau pecah. Seperti ada bom yang akan meledak. Fika terus menjambak-jambak rambutnya, dan mengerang kesakitan. Dan tak lama bayangan itupun hilang difikirannya. Nafasnya pun mulai kembali normal. Bahkan penglihatannya sudah tidak kabur. Fika mengambil air mineral di tasnya, ia meneguk air itu untuk menenangkan jiwanya. Ia terlihat meneteskan air mata, ia selalu dihantui oleh fikiran itu. Entah dari mana bayangan-bayangan tersebut. Semakin ia mencoba mengingat-ingat, bayangan itu semakin kuat. Fika sangat tersiksa dengan semua itu. Ia terus menangis. Ia masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi padanya. Padahal, pernah ia pergi ke psikiater maupun dokter untuk menanyakan penyakitnya. Tak ada satupun dari mereka yang tau penyakit penyakit apa yang Fika derita. Mereka hanya mengatakan bahwa Fika hanya trauma pada suatu kejadian. Tapi kejadian apa? Kapan? Dan dimana? Pertanyaan itu sering muncul difikirannya. Hingga akhirnya ia biarkan bayangan itu muncul dan menyiksa dirinya.

Fika masih memandang langit-langit sore saat itu. Begitu indah ia pandang. Sesekali ia mengusap air matanya akibat tangisannya tadi. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menutup mata Fika dengan tangannya.

“Siapa sih ini?” Fika penasaran dengan orang yang menutupi matanya. Orang tersebut tak menjawab pertanyaan Fika. Ia terus menutupi mata Fika dengan tangannya.

“Ohh.. aku tau siapa orang ini. orang yang paling jahil dikehidupanku. Siapa lagi kalau bukan. FIIIIKIIIII.......” Fika berteriak keras.

“Wow.. wow.. gak usah berteriak begitu neng.” Fiki kaget dengan teriakan Fika. “Hampir saja jantungku copot dengerin teriakanmu.” Fiki  mengelus dadanya yang kaget akibat teriakan Fika. Setelah itu Fiki duduk disamping Fika.           “Sayang maaf ya aku telat. Banyak sekali pekerjaan yang aku selesaikan di hari ini.”

“Tak apa-apa sayang. Aku nyaman kok ditempat ini. Baru nungguin kamu satu jam aja kok. Aku pernah menunggumu disini tiga bulan lamanya. Hahaha..” Balas Fika menyindir.

“Iya-iya sayang, gak bisa berkutik deh kalau begitu. Eh.. sayang, kamu habis nangis ya? Kok aku menutup matamu terasa basah?” Tanya Fiki yang merasa Fika baru saja menangis.

“Tak apa sayang, aku baru saja membaca novel yang aku beli kemarin. Ceritanya sungguh mengharukan.” Fika menutupi apa yang baru ia alami. Tentang bayangan itu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia menunjukkan novel itu kepada Fiki. Ia tak mau jika apa yang ia alami akan membebani Fiki juga.

“Ohh.. aku kira, kamu lagi ada masalah makanya kamu menangis. Sayang, kalau ada masalah, ada sesuatu yang perlu diceritakan, kamu boleh kok curhat semuanya  ke aku.  Fiki tersenyum kearah Fika. Ia membelai rambut Fika dengan lembut. Fikapun membalas senyumannya dan menyandarkan kepalanya di pundak Fiki.

“Iya sayang, makasih banyak kamu sudah sangat perhatian denganku. Aku sangat mencintaimu.” Fika tersenyum lembut saat itu. Ia senang bahwa Fiki sangat mengkhawatirkan dirinya. Kekawatiran dirinya menunjukkan bahwa ada rasa cinta yang besar di dalamnya.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang