Dua kejutan yang tak pernah terlupakan

3.6K 8 1
                                    

Dua kejutan yang tak pernah terlupakan

Fika menuju kearah kamar madi untuk mebersihkan wajahnya. Ia melihat wajahnya di kaca. Ia terlihat tak karuan, kusam, bahkan linangan air mata itu mengering dan menimbulkan suatu bekas putih-putih dipipinya. Ia tertawa melihat wajahnya dikaca. Begitu jelek saat ini, dengan matanya yang bengkak akibat lelah menangis dan masih terlihat memerah. Fika mulai membasuh mukanya dengan air. Ia usapkan facial soap ke wajahnya dan mulai membersihkan mukanya. Ia bilas wajahnya dengan air lagi untuk menghilangkan facial soap yang ada diwajahnya. Ia raih handuk yang tak jauh dari kaca itu. Ia tempelkan wajahnya ke handuk itu dan mulai mengusap-usapkan. Ia pandangi wajahnya lagi di kaca itu. “Nah ini sudah agak lumayan.” Ia tersenyum kearah kaca. Melihat wajahnya yang sudah bersih seperti semula.

Setidaknya Fiki telah mengantarkannya untuk pulang kerumah. Fiki tahu bahwa Fika harus beristirahat saat ini. Ia tahu kondisinya, yang tak henti-hentinya menangis saat itu.

Fika menuju kamarnya, ia sandarkan kepalanya pada kasur kesayangannya. Ia hembuskan nafas panjang itu. Ia terus memegang pipinya dengan satu tangan, apakah ini mimpi? “Benar, ini bukan mimpi, Fiki telah melamarku, yeeee..” Fika berdiri dan jingkrak-jingkrak dikamarnya. Tak beberapa lama ponselnya berdering. Satu pesan dari Fiki.

Fika, ayo cepat tidur, aku tahu kamu perlu istirahat sekarang.” Dalam hati Fika bertanya, kenapa ia harus disuruh cepat tidur? Ia memandang jam dinding yang menempel di tembok kamarnya. Masih pukul 19.30, kenapa harus menyuruhku untuk tidur secepat itu? Fika melanjutkan membaca pesan dari kekasihnya.

“Ayo tak usah menggerutu seperti itu, sekarang kamu ambil selimutmu dan tidur secepatnya. Have nice dream my love, bye-bye..

Fika hanya mengangkat kedua alisnya. Ia terlihat tersenyum picik setelah membaca pesan darinya, apa maksud dari semua ini? mengapa aku disuruh tidur lebih cepat dari biasanya? Padahal setiap malam ia pasti disuruh untuk menemaninya begadang, sekedar untuk menemaninya melihat acara bola. Ia kembali merik jam dinding itu. “Masih pukul 19.32. Ah sudahlah lagian aku juga sudah sangat capek hari ini. Tangisanku dari tadi telah menghabiskan semua tenagaku untuk hari ini. Memang benar juga saran Fiki untuk menyuruhku tidur cepat-cepat. Setidaknya aku bisa bangun lebih pagi dan lebih segar untuk hari esok. Ia meletakkan ponselnya ke meja. Dan merebahkan dirinya ke atas kasur yang empuk. Tak beberapa lama Fika terlelap tidur.

***

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang berdering keras. Fika masih enggan untuk membuka matanya. Ia biarkan ponselnya berdering. Dering ponsel itu terdengar lagi, bahkan sudah berkali-kali berdering. Fika masih memejamkan matanya. Matanya enggan untuk membuka, apalagi untuk meraih ponsel itu dan mengangkat telfon. “Ah.. siapa sih malam-malam menelfonku.” Gerutu Fika yang masih memejamkan matanya. Ponsel itu berdering lagi, entah sudah berapa kali ponsel itu berdering. Fika agak terganggu dengan suara posel tersebut. Ia kumpulkan tenaganya mencoba membuka matanya lebar-lebar dan berniat untuk mematikan ponselnya. Setelah dirasa ia bisa membuka matanya, ia menuju ke arah posel yang diletakkannya dimeja. Ia raih ponsel itu. Ia melihat layar ponselnya, dua puluh panggilan masuk dari Fiki. Tak lama ia melihat layar ponsel tersebut, ponsel itu berdering lagi. Kali ini Fika mengangkat telfon itu.

“Hallo..”

“Hallo sayang?” Ternyata Fiki yang menelfon.

“Ada apa Fiki?”

“Tak ada apa-apa, aku mau menanyakan tentang kabarmu.” Sahut Fiki.

“Hanya itu, huuuhhh..” Fika menghembuskan nafas panjangnya. Ia kecewa Fiki menelfon hanya untuk menanyakan kabarnya saat ini. “Aku baik-baik saja sayangku?” jawab Fika dengan ketus.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang