Potongan-potongan masa lalu yang menggangguku

1.4K 14 0
                                    

Potongan-potongan masa lalu yang menggangguku

 

Setelah mendapatkan novel yang telah di rencakan sebelumnya, mereka berdua memutuskan untuk mampir di “foodcourt” sekedar untuk mengisi perutnya yang kosong dari tadi sudah meronta-ronta. Setelah beberapa jam tenaganya terkuras habis didalam toko buku.

“Mau makan apa?” Tanya Fiki menawarkan.

“Rawon setan!” Usul Fika.

“Uupss.. benar-benar kuntilanak orang ini.” Fiki tertawa.

“Hahaha.. tak apalah biarin.” Fika melihat  menu yang di tawarkan, namun sayang daftar nama menu “Rawon Setan” tak ada di daftar menu. Fika menekuk wajahnya kecewa. “Yang ada cuma “Bebek Mercon dan Mie Akhirat.” Seru Fika sambil menunjuk menu makanan.

“Gimana? Tak ada “Rawon setan” disini, kamu mau pilih apa?” Tanya Fiki.

“Terserah kamu aja deh. Yang penting makan. Hehehe.” lagi-lagi Fika menyerahkan keputusan memilih menu makanan kepada Fiki.

“Ya sudah aku yang pesankan. Mbak...” Fiki memanggil pelayan. ”Saya pesan “Mie akhirat level lima, minumnya es oyen.” Pelayanpun mencatat apa yang di pesan Fiki. “Eh.. satu lagi mbak.. Fiki kembali memanggil pelayan.

“Apa lagi mas? Tanya pelayan tersebut.

“Gak pake lama ya? Hehehhee...” Fiki tertawa.

“Kamu itu Fiki, dasar.” Fika tersenyum getir.

“Dasar kenapa?” Tanya Fiki bingung.

“Cowok resek, kayak Samuel.”

“Hahaha.. ya pastilah, kan kita satu paket, satu angkatan dengan dia.” Fiki mulai membela diri. “Oh.. ya acara apa sih yang kamu siarin di tempatmu itu? aku ingin mendengar ceritamu.”

“Ohh.. itu, aku menyiarkan acara remaja.”

“Remaja satwa kah?”

“Mulai deh anak ini?” Gerutu Fika yang mulai manyun.

“Hahhaa.. ya sudahlah sekarang kamu cerita deh, biar aku tak menganggapmu bekerja sebagai penyiar radio satwa.”

“Oke.. ehem,, hem..” Fika mulai mengeluarkan suara khas penyiar radio. “Hai selamat pagi pemirsa, masih tetap stay on di radio remaja, di saluran  99.9 fm. Bagaimana kabar kalian pemirsa? Semoga kalian semuanya baik-baik saja, ya mungkin ada yang agak pilek atau meler ingusnya karena kemarin sore kehujanan. Hahaha. Kali ini saya akan menyiarkan acara yang akan ditunggu-tunggu...” Fika diam. Suasana mendadak hening.

“Kok tak dilanjutkan, acara apa?” Fiki penasaran.

Fika mulai berbicara lagi. “Yups.. kali ini saya akan menyiarkan acara yang kalian tunggu-tunggu, inilah dia “Remawa” Remaja Satwa. Saya akan menyiarkan bagaimana keadaan satwa yang ada di kebun binatang Surabaya. hahahhaa.” Fika tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Fiki.

“Sumpah lucu banget Fika. Aku rasa kamu tak cocok jadi penyiar radio, kamu lebih cocok menjadi seorang komedian, atau ikut Stand up comedy.” Fiki masih tak bisa menahan ketawanya.

“Ya itu yang harus dipunyai oleh seorang penyiar, biar acara yang dibawakan tak pernah garing.” Jelas Fika. Tak beberapa lama makanan yang mereka pesan sudah datang.

“Selamat makan!” Mereka berdua mulai menyantap makanannya.

“Fika?” Panggil Fiki.

“Iya, kenapa Fiki?”

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang