Potongan masa lalu itu

3K 13 1
                                    

Potongan masa lalu itu

 

“Dua puluh dua tahun yang lalu, seperti biasa. Aku masih menjajakan makanan kecilku di stasiun dekat sini. Waktu itu suasana masih terlihat biasa-biasa. Lalu lalang kereta datang dan pergi sesuai dengan keberangkatannya. Terlihat dari arah kejauhan terdapat kereta yang melaju dengan kencangnya. Aku sempat berfikir, kenapa kereta itu tak mengurangi kecepatannya, padahal sebentar lagi kereta itu akan menuju stasiun dan berhenti. Mataku masih melihat laju kereta yang sangat cepat. Kereta itu kian lama kian mendekati stasiun. Ada apa dengan kereta itu? apa yang sedang terjadi dengan kereta itu. Semakin lama kereta itu melaju semakin cepat. Bunyi dari klakson kereta itu begitu keras. Sepertinya menandakan ada sesuatu yang telah terjadi. Tak henti-hentinya masinis itu membunyikan klakson kereta itu. ya.. terdengar sangat jelas walaupun masih terlihat jauh. Kereta itu terus mendekat, dan memang benar. Ada masalah dengan kereta itu. Alarmpun mulai terdengar. Semua orang panik saat itu. kereta itu hampir sampai di stasiun dengan kecepatan tinggi. Ia terus melaju dan akhirnya kereta itu menabrak stasiun. Kereta itu terbalik.” Ibu Fika menghela nafas panjangnya.  

“Semua orang menjerit saat itu. Akupun ikut panik. Aku berusaha membereskan daganganku. Aku melihat banyak jeritan dan lalu lalang orang-orang. Kereta itu telah terguling dan terbakar. Sungguh sangat terlihat kacau. Peristiwa itu adalah kecelakaan dahsyat yang pernah saya lihat didepan mata. Kereta api itu terbakar hebat. Mobil pemadam kebakaran, tak henti-hentinya membunyikan sirine dan mencoba memadamkan api tersebut. Aku masih tertegun ditempat itu.” Ibu Fika berhenti bercerita. Ia kembali menghela nafas dalam-dalam. Ia ambil tissue yang ada dimeja untuk mengusap air matanya. Kemudia ia kembali bercerita.

“Aku melihat begitu jelas lalu lalang orang saat itu. jeritan orang petugas kereta api yang membawa beberapa mayat dari korban kecelakaan kereta. Aku memberanikan diri untuk mendekati kereta tersebut. Sungguh ini adalah kejadian yang sangat mengerikan. Aku melihat mayat-mayat bergelimpangan di stasiun kereta. Aku juga melihat beberapa pemadam kebakaran dan aparat kepolisisan mencoba menyelamatkan korban. Aku melihat seorang Ibu dengan menggendong anak bayinya keluar dari kereta dengan bantuan petugas kereta. Petugas kereta membopong ibu itu menuju pinggir kereta. Setelah itu petugas kembali menyelamatkan korban yang masih didalam. Aku melihat wanita itu sudah terluka parah. Bajunya sudah sobek-sobek. Bahkan badannya memar semua. Dengan darah yang ada di kepalanya. Aku merasa bahwa kepalanya terbentur sesuatu yang sangat keras. Aku memberanikan diri untuk meuju ke arah ibu itu. Ia terlihat menangis. Aku sangat iba saat itu. sepertinya ibu itu sudah tak bisa apa-apa lagi, dan anak perempuannya masih dalam gendongannya. Begitu lucu anak perempuan itu, bahkan ia terlihat pulas tidurnya. Tanpa tangisan dan rengekan sedikitpun. Aku melihat ibu itu terus saja menangis. Sepertinya ia melihat akan kehadiranku. Ia menangkat tangannya dan sepertinya menyuruhku untuk mendekat. Aku memberanikan diri untuk mendekati koraban kecelakaan itu. Tak terasa air mata ini tak henti-hentinya menangis melihat keadaan ibu tersebut. Ia sangat terluka parah. Darah dikepalanya tak henti-hentinya keluar denganmenggendong anak perempuannya yang sangat cantik dan lucu.”

“Ag.....rhhhh..”

Sepertinya ia memanggilku. Akupun mendekatinya. Aku iba melihat bayi perempuan itu. Aku cepat-cepat menggendongnya. Kemudian aku mendengar suara terbata-bata itu lagi.

“Jjja...gaaa..lahh.. aaanan..aaaku.” itulah kata-kata yang aku dengar saat itu. “jagalah anakku.” Akupun mengangguk dan terus menangis sambil menggendong bayi lucu itu. Terlihat ibu itu berusaha untuk melepaskan liontinnya. Dan menggenggam liontin itu dengan tangan yang penuh dengan darah.

“Ttee..riimaaal....aahhh.” Ibu itu terlihat menyerahkan liontin itu kepadaku. Akupun menerima liontin itu. Aku melihatnya saat itu, begitu indah. Liontin yang berwarna merah dan anggun telah aku pegang. Aku membuka liontin itu. Aku melihat terdapat foto ibu itu yang sangat cantik. Aku melihat ada satu nama didalam foto tersebut. “Fika.” Aku fikir ibu itu bernama Fika. Aku mendengar lagi ucapan ibu itu dengan terbata-bata.

“Ffiikkka...aannaakku..jaaa..gaalah Diia.” Perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya, ia menutup matanya dan terlihat senyuman ada di wajahnya yang penuh dengan darah.

“Aku menangis tak henti henti saat itu. melihat Ibu itu sudah tak bernyawa. Kemudian aku melihat bayi yang ada di tanganku, ia begitu lucu. Ternyata bayi itu bernama Fika. Aku tersenyum kearahnya. Aku memebelai kepalanya. Ia terlihat sangat lucu. Bayi itu masih pulas dalam tidurnya. Tak henti-henti aku berlinang air mata saat itu.” Ibu Fika telah menceritakan semuanya. Air matanya terus saja mengalir dan membasahi pipinya. Sudah berapa tissue telah ia gunakan.

“Ibuu..” terlihat Fika menangis saat itu. Ia memeluk ibunya. Serasa ia tak percaya akan apa yang telah terjadi.

Fiki juga tak percaya tentang apa yangtelah terjadi saat ini, wanita yang sangat ia cintai, wanita yang akan ia nikahi, adalah adik kandungnya sendiri. Ia tak bisa membendung kesedihannya. Serasa dunia ini berhenti berputar, jantung nya berdegup lebih kencang. Keringat dinginpun keluar dari tubuhnya.

“Fika.. anakku.” Panggil Ayah Fiki.

“Maafkan aku Fika, tak seharusnya aku menyembunyikan ini dari kamu.” Terlihat ibu Fika menyesali kejadian ini. Tak seharusnya ia terlambat untuk menyembunyikan semua itu. Semua telah terlambat, cinta telah tumbuh diantara mereka. Tapi ternyata hubungan ini tak boleh diteruskan. Hubungan saudara kandung tak bisa diteruskan sampai ke jenjang pernikahan. Seketika Fika melepas pelukan ibunya. Ia berdiri, pandangannya kosong, tak tau apa yang harus dilakukan. Tangisan itu tak bisa sertamerta mewakili kesedihannya yang teramat dalam. Tiba-tiba ia meninggalkan rumah dengan perasaan gamang. Setidaknya ia bisa menenangkan dirinya sebentar. Itu yang ada difikirannya sekarang.

“Fika.., Fika....” Panggil ibu Fika yang melihat Fika meninggalkan rumah. Fika tak mempedulikan teriakan ibunya. Hatinya terlalu hancur, bahkan hancur berkeping-keping. Tak tahu siapa yang harus disalahkan, ia tak bisa menyalahkan kedua orang tuanya karena tak menceritakan dari awal. Ia juga tak bisa menyalahkan Fiki yang tiba-tiba menanam cintanya, dan ternyata cinta itu tak memperbolehkan untuk diteruskan. Fika terus melangkahkan kakinya keluar rumah, tak tahu kemana tujuannya sekarang. Itulah keputusan terbaiknya, menenangkan dirinya sendiri.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang