Hari lamaranku dengan fiki

3.5K 12 0
                                    

Hari lamaranku dengan fiki

 

Hari ini adalah hari dimana impian dan harapan antara dua insan akan terwujud. Hari ini adalah gerbang rencana untuk sebuah pernikahan akan disusun. Semua tergambar indah saat itu. Ayah Fiki yang berada di Singapura akan datang ke Surabaya untuk melamarkan anak kesayangannya. Tepat jam 06.00 WIB, pesawat ayah Fiki telah mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Keinginannya untuk melihat Fiki akan menikah dengan orang yang dicintainya sudah didepan mata. Semua harapan Ayah Fiki hanyalah kepada anak satu-satunya, yaitu Fiki. Ia terlihat sangat senang hari ini. Sesekali dalam perjalanannya ia tersenyum sendiri. Membayangkan anak kesayangannya akan secepatnya melangsungkan pernikahan. Dan tak lama lagi iya akan menjadi seorang kakek, yang mempunyai beberapa cucu yang sangat lucu. Fikiran ayah Fiki saat ini melayang-layang jauh. Betapa bahagianya dia nantinya. Bahkan ia akan berjanji untuk selalu menyempatkan waktu untuk cucunya. Mengingat ia sekarang hidup sendiri sejak kematian Ibu Fiki dua puluh dua tahun yang lalu. Bayangan tentang kecelakaan yang telah menewaskan Istri dan anak perempuannya masih terbayang dalam ingatanya. Tapi Ayah Fiki tak mempedulikan semua itu. yang ia fikirkan sekarang adalah Fiki akan menikah. Hanya itu, seulas senyum selalu tergambar pada ayah Fiki saat ini.

Terlihat lalu lalang orang yang ada di bandara saat itu. Terlihat pula kerumunan orang yang sedang mengurus tiket penerbangan, atau bahkan hanya melihat jadwal penerbangan selanjutnya. Pria yang mempunyai perawakan tinggi besar, menggunakan jas berdasi dengan warna rambut agak memutih sedang menggeret kopernya. Lima menit yang lalu ia baru mendarat dari pesawatnya. Ia melihat sekeliling bandara, ia mencari orang yang akan menjemputnya. Sesekali tawaran sopir taksi tak ia hiraukan. Ia sedang menunggu seseorang saat itu.

Dari arah kejauhan terlihat seorang anak muda melambaikan tangan kearahnya. Ia membalas dengan lambaian tangan juga. Terlihat anak muda itu sedang menuju kemari.

“Ayah.. sudah lamakah?” Tanya Fiki kepada ayahnya yang baru saja turun dari pesawat. Fiki melihat penampilan ayahnya saat itu. Tak beberapa lama Fiki memeluk ayahnya. “Ayah, aku merindukanmu, bagaimana keadaanmu ayah?” Fiki menanyakan kabar ayahnya.

“Aku baik-baik saja anakku. Ayah baru saja turun dari pesawat sekitar lima menit yang lalu. Bagaimana kabarmu?” Ayah Fiki melempar senyuman itu kepada anaknya. Ia sangat senang melihat anaknya sekarang sudah tumbuh menjadi dewasa. Dengan perawakan yang begitu tampan, ia teringat saat masih muda. Bahkan menurutnya wajah Fiki tak jauh beda dengan waktu mudanya dulu. Ia tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Fiki. “Fiki kamu sudah sangat dewasa sekarang. Aku rasa sudah saatnya kamu menjadi ayah, seperti ayahmu sekarang yang sudah berhasil membesarkanmu.” Fiki hanya tersenyum dengan ucapan ayahnya.

“Oh ya.. mana calon istrimu Fiki.” Kelihatannya ia sedang mencari-cari seseorang.

“Dia dirumah Ayah, Fika sedang mempersiapkan diri saat ini.” Ulasan senyum tergambar di wajah Fiki saat itu. Ia sangat senang ayahnya mau datang ke Surabaya, melamarkan Fika untuknya.

“Hahaha.. aku kira kamu mengajaknya untuk menjemputku. Ya sudah ayo segera kita melamarnya untukmu. Aku sudah tak sabar melihatmu menikah dengan perempuan pilihanmu. Aku juga sudah tak sabar ingin bermain dengan cucu-cucuku nanti.”

“Emmm.. baiklah ayah.” Fiki membawakan koper Ayahnya. Mereka berdua menuju ke lobi Bandara. Dan menaiki taksi untuk menuju ke rumah Fika.

***

Terlihat Fika sibuk dengan pakaiannya. Ia harus benar-benar terlihat cantik dihadapan calon mertuanya. Sesekali ia memandang wajahnya di depan cermin, dan mengoleskan bedak ke pipinya. Sungguh paras Fika sangat cantik kali ini. Balutan busana kebaya berwarna coklat dengan corak batik khas jawa, namun sangat elegan dan modis. Membuatnya terlihat lebih anggun. Rambut yang di ikat kemudian disanggul, dengan make up yang terlihat oriental tanpa terlihat fulgar. Bibirnya yang tipis dan berwarna merah matang dengan sentuhan lipstik yang terang membuatnya semakin menawan. Sesekali ia tersenyum ke arah cermin hanya untuk mengagumi kecantikannya sendiri.

Love In Sunset (Romantic Novel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang