21

1.1K 40 17
                                    


[Uda untuk suami= Mas]

[Uda untuk saudara laki-laki= Kakak, Abang]

[Amak= Ibu]

Vote dan komennya jangan lupa ya😘

Aery mengambil sebuah kotak berbentuk balok dari dalam lemari cokelat di sudut kamar. Perlahan tutup kotak itu dibukanya, sebuah pakaian putih dan pita merah tersimpan lama di dalam sana. Ia mengambil baju serta pita itu, lalu tersenyum dan berkata, "Antonio apa kabar, hari ini aku menemukan petunjuk tentang mu."

Kenangan lama seakan terbuka kembali, ketika Antonio berjanji untuk menjaganya jika sudah besar nanti, ia hanya berharap lelaki itu menepati janji karena saat ini seorang teman sangat Aery butuhkan. Semakin lama kehidupan semakin sulit, masalah datang silih berganti, seseorang yang berada di jurang kesepian, kehancuran membutuhkan sebuah dukungan agar terus hidup dan tidak mengambil keputusan yang salah terutama dalam pergaulan.

Tidak ingin berlama-lama mengingat masa lalu tentang janji yang pernah di dengarnya waktu kecil dulu. Entahlah, Antonio adalah teman yang begitu istimewa di hati Aery hingga saat ini dan perasaan itu tidak akan pernah mati.

Teman yang begitu lugu, mau memberikan uang kepada seorang gadis lalu memerintahkan agar ia tidak memberitahukan hal itu kepada sang ibu. Sekaligus teman penakut yang bersembunyi ketika ada anak-anak jahat yang ingin mengambil tempat duduk.

Teman yang suka membual dan dengan mudahnya mengucapkan janji tanpa berpikir lebih dulu, akankah janji itu bisa ditepatinya atau justru hanya menjadi omongan belaka.

Tutup kotak yang berdebu kembali pada fungsinya yaitu melindungi baju serta pita merah agar tidak berdebu walau tetap saja kusam karena terlalu lama di simpannya dalam kotak berukiran naga.

Kotak itu diletakkan jauh di sudut dalam lemari, ditutupi dengan gundukan kain berbahan wol dan sepatu lama yang tidak terpakai lagi. Biarlah kenangan itu tersimpan di sudut lemari hingga datang saat dimana ia harus mengeluarkan kembali kotak balok sebagai bukti pada Antonio bahwa ia tidak pernah melupakan lelaki itu.

Aery menutup rapat-rapat lemari, menyimpan kuncinya di dalam laci meja dekat tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap langit-langit kamar untuk melepaskan rasa lelah yang telah menguasai separuh dirinya. Samar-samar terdengar banyak suara di ruang makan, Aery berdiri mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka.

Ia tidak dapat melihat apapun, kurang jelas karena jarak pandang yang cukup jauh. Suara lembut terdengar samar, Aery tidak peduli akan suara itu ia menutup pintu tetapi tidak mengunci pintu kamar karena takut jika mendadak terjadi gempa maka ia bisa langsung lari.

Aery merebahkan tubuh ke ranjang, menutup diri dengan selimut tebal dan perlahan menutup mata. Suara hentakan kaki menggema di lantai, suara klik terdengar lambat saat pintu perlahan terbuka. Seseorang, bukan! Ada dua orang karena suara langkah itu terdengar tak seimbang layaknya bunyi hentakkan kuda saat berpacu di lapangan.

Entah sejak kapan, sebuah telapak tangan yang dingin menyentuh kening Aery. Mengusap lembut, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah, menyematkannya ke daun telinga.

"Apa aku harus kehilangan Aery?" seseorang memulai percakapan terlebih dahulu.

Seseorang menyahut, kali ini suaranya lebih berat dan bergetar, "Menurutmu untuk apa kita melakukan ini? Jelas, untuk mempertahankannya. Aery anakku, dan aku tidak ingin kehilangannya."

Seseorang yang memulai tadi kembali bersuara dengan penekanan di setiap katanya, "Jika kehilangan, maka akulah yang akan kehilangan Aery bukan kamu!"

"Tolong jangan egois, jangan pikirkan dirimu sendiri! Lihat aku, aku bahkan melakukan hal ini hanya untuk kamu dan Aery."

Wanita itu berdiri, berjalan ke sisi lain dari kamar itu. Menggapai sebuah foto berbingkai kayu Kalimantan, di dalam lebih tepatnya di balik kaca persegi panjang terpampang sebuah foto anak kecil yang tersenyum bahagia bersama seorang wanita dan seorang lelaki. Mereka bertiga saling merangkul, penuh kehangatan dan cinta.

IMPOSSIBLE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang