5

1.4K 69 24
                                    


Happy reading😘

[Ande= Tante]

----------++

Aery pulang ke rumah jam 05.00 WIB dengan Abak, ia harus sekolah hari ini dan tidak boleh sampai terlambat lagi. Sebelum mereka berangkat, Abak lebih dulu menelfon ande Siska untuk menemani Ama di rumah sakit, kebetulan hari ini ande tidak bekerja jadi ia bisa ke rumah sakit tanpa keberatan.

Abak menyetir mobilnya membelah jalan raya yang lumayan sepi, bagaimana tidak pasti beberapa orang masih terlelap di ranjang mereka.

Padahal udara pagi itu sangat menyejukkan, suasana bumi saat itu terasa lebih damai karena jauh dari keributan di jalan. Aery menatap keluar jendela, sesekali ia menguap dan mengerdipkan matanya beberapa kali.

Sedangkan Abak fokus pada jalan, entah kenapa Abak merasa lebih bahagia jika ada Aery di sampingnya. Abak sadar selama ini ia terlalu mengacuhkan anaknya, membiarkan Aery menanggung beban atas masalah yang ia ciptakan sendiri. Namun ada saatnya Abak kembali lupa pada keluarganya, ia kembali berubah pada sifat buruknya dan semua itu hanya karena seseorang.

Abak melirik Aery yang masih menatap keluar jendela, wajahnya tidak mencerminkan kebahagiaan sama sekali, tidak ada senyuman ataupun ucapan yang Aery lontarkan selama diperjalanan. Ada sesuatu yang hilang pada anaknya, sesuatu yang salah tapi Abak masih dibutakan oleh ke egoisannya sendiri.

Suara dering telpon menggema di dalam mobil, ini bukan nada telpon Aery tapi Abak. Handphone itu terus saja berdering, siapa sih yang sengaja menelfon Abak sepagi ini? Entahlah bahkan Aery pun penasaran siapa orangnya.

Merasa mengganggu, Abak merogoh sakunya dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri masih mengemudikan mobil. Sekilas Aery melihat ada 5 panggilan tak terjawab dengan nama Ralin sebelum akhirnya Abak mematikan handphone lalu melemparnya ke arah Aery.

Ralin? Siapa dia? Aery terus saja memikirkan orang itu, kenapa dia menelfon Abak sepagi ini. Jika dia adalah pegawai kantor Abak, rasanya tidak mungkin selancang itu menelfon Abak pagi buta. Aery teringat ucapan Ama waktu itu, ketika Ama bilang bahwa Abak selingkuh dengan istri orang.

Ia semakin cemas dan resah jika apa yang dikatakan Ama adalah suatu kebenaran, maka Abak sudah merebut istri orang, melakukan sesuatu yang salah bahkan sangat salah. Seumur hidup Aery tidak akan memaafkan Abak jika semua itu ternyata benar.

Ia memilin bajunya karena emosi yang terus saja memanas dihati Aery, namun seperti apapun ia harus menjaga emosi jika tidak sesuatu yang buruk akan menimpanya nanti. Nafasnya memburu secepat detak jantungnya, sedangkan tangannya masih meremas baju yang ia kenakan.

"Ai, ada apa?" tanya Abak yang sadar akan tingkah aneh Aery.

Ingin rasanya ia bertanya langsung pada Abak apakah semua yang Ama katakan kemarin adalah benar atau opini saja.

"Abak, siapa itu Ralin?" ucap batin Aery namun lidahnya mendadak kelu untuk bertanya hal itu pada Abak.

Aery hanya menggeleng atas pertanyaan Abak tadi, positive thinking Aery! Abak tidak akan pernah mengkhianati keluarga ini, jadi jangan mengada-ada bahwa Ralin adalah selingkuhan Abak.

"Ai, Ai, yuk turun kita udah sampai!" ucap Abak mengagetkan Aery yang terlihat melamun.

"Eh udah sampai ya Bak," kata Aery sambil tertawa receh.

Mereka turun dari mobil, Aery secepat mungkin berlari ke kamarnya yang semalam ia tinggalkan sendiri. Bahkan boneka besar beruang tampak kesepian saat ditinggal Aery.

"Oh Tedy sayang, kau merindukanku?" ucap Aery sembari memeluk boneka beruangnya.

Kamar Aery seperti gudang boneka, berbagai macam boneka ia koleksi dan satu-satunya alasan kenapa Aery mau mengeluarkan uang banyak hanya demi membeli boneka-boneka itu adalah agar ia tidak lagi kesepian.

IMPOSSIBLE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang