1

3.5K 126 12
                                    


Hallo readers ini cerita aku yang kedua, dulu pernah dipublish tapi rasanya nggak nyambung sama genre makanya diubah dengan cerita yang berbeda.

Jangan lupa Vote dan Komen buat cerita ini. Happy reading😘

--------------++++

Saat mendengar bel pulang berbunyi nyaring, Aery yang duduk di kursi depan paling kanan segera membereskan buku-buku serta peralatan lainnya lalu memasukkan semuanya ke dalam tas sandang berwarna biru tua.

Begitu juga dengan murid lain dan guru yang mengajar di SMA Bantaria.

Aery tergesa-gesa berlari keluar kelas dan tak sengaja menabrak salah satu siswi yang berdiri di samping pintu kelas.

Terdengar jelas di telinga Aery suara decahan kesal dari siswi yang ia tabrak tadi.

Ia tak mempedulikan hal itu walaupun akan berdampak bahaya terhadapnya nanti. Jika siswi itu ingin marah padanya Aery tidak akan peduli sama sekali, toh keberadaannya tidak diharapkan oleh murid-murid yang ada di sini.

Ia melewati koridor sekolah yang lumayan panjang, seringai tatapan buruk Aery dapatkan dari murid yang sama-sama berjalan disampingnya.

Di depan gerbang utama tampak seorang lelaki tua berkumis lebat, rambut sebagian berwarna putih, memakai seragam hitam lengkap dengan kacamata hitam mengkilap.

"Pak Buyuang," teriak Aery pada lelaki yang tengah menyisir rambut di depan kaca spion mobil.

Pak Buyuang mencari dimana asal suara itu, ia melambaikan tangan pada Aery yang tengah berjalan menujunya. Sampai di depan mobil pak Buyuang tersenyum manis ke arah Aery.

"Ada apa pak? ya udah yuk pulang sekarang," ajak Aery pada pak Buyuang yang masih tersenyum.

Pak Buyuang menahan lengan Aery, lalu memberikan sebuah kado berbungkus kertas berwarna biru tua sama dengan warna tas yang sedang Aery sandang.

"Selamat ulang tahun non Aery."

Aery tersenyum bahagia melihat pak Buyuang yang begitu tulus memberikannya sebuah kado.

Pak Buyuang adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun dan memberinya sebuah kejutan kecil. Jika sopirnya saja ingat apalagi orangtuanya.

"Terimakasih pak," sambil memeluk pak Buyuang.

Aery masuk ke dalam mobil, selama diperjalanan ia hanya membayangkan bagaimana kejutan yang akan ia terima nanti saat sampai di rumah.

Pasti Abak dan Ama sudah menyiapkan sebuah pesta yang megah dengan hiasan wahnya, kado yang sengaja dibeli di luar negri, balon yang ada di pesta, kue berbentuk doraemon dengan lilin berangka 16, pelukan hangat dari Abak dan Ama.

Pak Buyuang yang sedang mengemudi sesekali melihat Aery yang duduk dibelakang sambil senyum-senyum sendiri membuat pak Buyuang menelan salivanya dan menggeleng samar.

Aery masih saja membayangkan kejutan apa yang sudah orangtuanya siapkan, saat mobil melambat dan berhenti didepan rumah Aery segera keluar.

Ia berlari tergesa-gesa ke arah pintu rumah, sebelum masuk Aery menarik nafas panjang lalu membuka pintu secara perlahan.

Senyum merekah Aery hilang berganti dengan rasa kecewa, ternyata di rumah tidak ada hiasan apapun, balon, kue, kado, semua yang tadinya ia bayangkan saat di dalam mobil.

Rumah besar ini masih tampak kosong penuh kesepian, suasana yang tidak ingin Aery rasakan sejak kepindahannya.

Dari arah lantai 2 terdengar suara ribut, teriakan, suara sesuatu yang pecah membuatnya penasaran. Ia memacu langkah ke asal suara, menaiki beberapa anak tangga hingga suara itu semakin jelas didengarnya.

IMPOSSIBLE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang