10

1.1K 57 15
                                    

Happy reading😘

Weekend, seharusnya menjadi hari untuk berkumpul bersama keluarga menghabiskan waktu bersama yang tidak bisa didapatkan karena sibuk bekerja. Setelah isu perselingkuhan Abak terbongkar, sejak saat itu Abak tidak pulang ke rumah.

Ama juga tampak biasa-biasa saja bahkan mungkin ia tidak menyadari suaminya itu belum pulang karena hubungan mereka yang kurang harmonis.

Hari ini Ama masih saja bekerja, hari-harinya selalu dihabiskan untuk karir serta pekerjaan. Tidak ada waktu untuk liburan atau berkumpul bersama keluarga kecuali ia sakit dan harus beristirahat. Ama tergesa-gesa berjalan ke kamar Aery, ia mengetuk dan masuk setelah dipersilahkan oleh Aery.

Melihat sosok Ama, Aery bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati ibunya namun bukan sebuah pelukan atau ciuman yang ia dapatkan melainkan Ama yang berjalan ke arah meja dan mengambil berkas-berkas penting yang tidak sengaja ia tinggalkan di kamar Aery.

Setelah mengecek isi berkas berwarna biru tua itu, Ama pergi begitu saja keluar dari kamar Aery dan langsung berangkat untuk bekerja. Aery menunduk kesal lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang empuk.

"Hanya karena pekerjaan dia lupa pada anaknya, bahkan hari liburpun Ama masih bekerja. Apa sih yang Ama cari sampai bela-belain pergi ke kantor setiap hari, padahal uang udah banyak, punya segalanya, emang ya manusia itu nggak pernah puas," gumam Aery dalam hatinya.

Aery memasang earphone di telinganya, memutar lagu yang berjudul "Rain," dari The Script. Entahlah setiap kali hujan turun ia selalu mendengarkan lagu itu, ya hari ini hujan turun sangat lebat sehingga langit tampak tidak bersemangat hanya berwarna kelam kelabu, lumayan seram jika didampingi dengan suara gemuruh.

Aery hanya tidur-tiduran di kamarnya, ia membaca novel terjemahan yang baru ia beli minggu lalu namun belum sempat dibacanya waktu itu. Baru membaca satu halaman saja, ia sudah merasa bosan dan melempar novelnya ke sembarang arah.

Rintik-rintik hujan itu begitu menggodanya untuk ikut bermain bersama hujan di luar sana. Di balik kaca jendela, rintik hujan turun seakan menyapanya, namun disisi lain rintik hujan itu seakan menertawainya atas segala masalah yang terjadi dalam kehidupan Aery.

Bayangan Abak dengan selingkuhannya kembali terngiang di pikiran Aery, terus saja berputar di otaknya, dan di sekeliling Aery saat ini seakan ada bayangan Abak dan selingkuhannnya sedang tertawa, memekakkan pendengaran Aery.

"Pergi, pergi, pergi," teriak Aery histeris.

Seakan kehilangan kewarasannya, ia duduk di sudut kamar sambil mengatakan,"pergi."

"Non Aery," panggil Bi supiak mengagetkan Aery.

Kewarasannya kembali ia dapatkan, Aery berusaha mengatur nafasnya yang menggebubu dan menyeka peluh dingin di wajahnya.

"Ada apa bi?" tanya Aery yang bersikap seperti biasa di depan bi Supiak.

"Di depan ada tukang ojek, katanya sih mau nagih utang non Aery," jelas bi Supiak.

"Ya udah biar Aery yang temui orangnya, bi Supiak kembali kerja aja ya."

Aery penasaran siapa tukang ojek yang datang hujan-hujan gini, perasaannya ia tidak pernah naik ojek apalagi sampai ngutang. Saat sampai di depan pintu, Aery segera membuka pintu lebar-lebar dan tampak seorang pria dengan pakaian yang basah kuyup.

"Lo? Ngapain lo ke sini?" menutup pintu namun ditahan oleh pria itu.

Ia hanya diam saja sambil menyilangkan tangannya ke tubuh karena kedinginan. Aery tidak ingin diganggu oleh siapapun terutama dia, Aery mendorongnya namun pria itu terpental dan jatuh ke tanah. Aery kaget karena dorongannya ternyata kuat sehingga pria itu diam dan diguyur hujan.

IMPOSSIBLE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang