3

1.7K 85 13
                                    

Happy reading😘

"Makasih bang Awan," ucap gadis setelah mendapatkan tanda tangan untuk proposalnya.

"Wan gue lapar nih, kantin bentar yuk," ajak salah satu dari mereka.

"Nggak ah, gue mau masuk kelas kalau lo mau makan pergi aja sendiri jangan ajak gue."

"Ya elah Wan bentaran aja," ajaknya lagi.

"Gue nggak mau," jawab Alwan yang lebih dulu berjalan meninggalkan temannya yang masih merengek untuk ditemani ke kantin.

Alwan dan Ren tergesa-gesa berjalan menuju kelasnya, ia takut nanti buk Tari akan menghukum karena terlalu lama izin keluar. Ataupun khawatir mendengar celotehan murid lain yang menunggu kedatangan Alwan dan Ren karena ingin izin keluar juga.

Buk Tari hanya memberikan izin untuk 2
orang saja jika ingin keluar atau ke toilet. Alwan mengetuk pintu dan mengucapkan salam sehingga ia menjadi pusat perhatian para siswi di kelas.

Alwan adalah ketua osis di SMA Bantaria, sekaligus kapten tim basket di sana. Banyak yang menyukainya bukan hanya karena kedudukannya di sekolah tapi juga karena ketampanannya yang mampu melelehkan hati kaum hawa.

Alwan mencatat materi yang ketinggalan karena keluar tadi sedangkan Ren hanya duduk dibangku paling belakang sambil main game online. Sejak awal Ren tidak menyukai pelajaran Sejarah apalagi buk Tari gurunya, sungguh akan membuat otak Ren berputar tujuh keliling.

Ren adalah sahabat Alwan, ia juga tampan, dan gayanya selalu keren. Ren merupakan kapten dari tim sepakbola di sekolah Bantaria hanya saja ia tidak menyukai semua pelajaran yang ada selain matematika. Saat jam pelajaran matematika dimulai ia selalu duduk paling depan, selalu nomor satu yang mengumpulkan latihan ataupun pr.

"Aduh, sakit buk," ringis Ren saat buk Tari menjewer telinganya.

"Pintar ya kamu, saya capek-capek ngejelasin pelajaran di depan tapi kamu malah enak-enakan main hp di sini," ceramah buk Tari karena kesal terhadap tingkah Ren.

"Hormat di depan tiang bendera sampai jam pelajaran saya berakhir, sekarang," menyuruh Ren keluar.

Ren hanya membuang nafas, ia mengelus telinganya yang dijewer oleh tangan buk Tari tadi. Disisi lain Alwan menahan tawanya, dan melihat itu Ren merasa jengkel dan menjitak kepala Alwan sekuat hati sehingga sahabatnya merintih kesakitan.

Awalnya Ren memilih untuk pergi ke kantin, tetapi buk Tari berdiri di depan pintu untuk melihat Ren menjalankan hukumannya.

"Eh mau kemana kamu?" teriak buk Tari saat Ren hendak berjalan ke arah kantin.

Mendengar teriakan buk Tari, Ren langsung merubah haluannya menuju lapangan upacara dan hormat ke bendera.

"Dasar nenek lampir, nggak tau apa ini panas banget masa' iya mau jemur gue sampai matang di lapangan," gerutu Ren dihatinya.

Di lapangan Aery masih hormat pada bendera, wajahnya tampak memerah menahan panas dan bulir-bulir peluh membasahi wajah Aery. Ren melihat gadis itu yang pucat lalu berdiri di samping Aery lalu hormat pada bendera sesuai perintah buk Tari.

"Eh lo ngapain sampai dihukum kek gini?" tanya Ren penasaran. Ia bahkan tidak mengenal Aery tapi seenaknya nanya-nanya pada gadis disampingnya.

Aery mendengar pertanyaan Ren namun tidak ia gubris layaknya angin lalu.

"Heh lo nggak punya kuping, gue lagi nanya sama lo kenapa nggak dijawab?" tanya Ren lagi tapi tatapannya masih pada bendera.

Aery hanya diam saja, tidak merespon sama sekali bahkan tidak mau melirik siapa yang ada disebelahnya. Ren kesal dan memutar posisinya hingga menatap wajah cantik Aery yang pucat.

IMPOSSIBLE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang