Bagian Tiga Puluh: Pertama Yang Abadi

17.1K 1.8K 765
                                    

Saran: dengerin lagu mellow.

==

Senja tak seindah dulu,

ketika aku menikmatinya bersamamu.

Malam terasa membelenggu,

karena kutahu bahwa esok ku tak bisa menemuimu.

Dalam diam ku katakan semua akan baik saja,

meski sejujurnya hati ini tak berkata hal yang sama.

Seolah langit mengetahuinya,

hujan pun turun membasahi bumi.

Mewakili rasa yang ada dalam hati,

sampai tiba esok hari.

Athalia Sharafina.

==

Bagian Tiga Puluh: Pertama Yang Abadi.

==

Atha menatap bagaimana pintu lift (baca: lemari) dihadapannya menutup secara perlahan. Lebih tepatnya, dia sedang memperhatikan Nara yang tidur di kasurnya. Punggungnya membelakangi Atha―perempuan itu tersenyum kecil. Dia bahkan belum pergi, namun rindu sudah terasa di dada.

Ini yang pertama dan terakhir, Atha melihat Nara tertidur memunggunginya.
Dan seiring lift tertutup kemudian mulai berjalan lagi―Atha menatap pintunya dengan sendu.

Dari sini Atha menyadari―mungkin, kepergian seseorang adalah balasan dari pelajaran hidup bahwa yang selalu ada tidak menjamin akan berakhir sebagai yang selalu ada.
Faust yang berdiri disampingnya hanya terdiam mendapati Atha menangis dalam diam. Sesekali menarik napas dalam sebelum mengusap wajahnya.

"Athalia," panggil Faust.

Atha tidak menjawab hingga dentingan lift untuk yang keenam kalinya berbunyi. Pintu pun terbuka dengan sendirinya, namun Atha tidak beranjak. Tidak pula Faust.

Perjalanannya terasa begitu cepat namun juga lambat. Atha menunduk, memejamkan matanya. Ada sedikit rasa tidak percaya kalau keberadaannya di masa lalu selama seminggu hanya terjadi beberapa menit di masanya. Bahkan ketika kabut di luar pintu sudah menghilang, Atha bisa melihat selimut kasurnya yang berantakan dan jarum jam dindingnya yang baru akan memasuki pukul setengah tujuh malam.

"Athalia," Faust memanggil untuk yang kedua kalinya. Kali ini malaikat tersebut sudah berada di sisi yang berlawanan dari Atha. Tangannya terulur, menunggu Atha untuk menyambutnya. "Ayo turun, kita sudah sampai." lanjutnya.

Atha mengangguk dan menerima ulurannya. Dia memejamkan mata cepat ketika akhirnya keluar dari lemari. Dan hanya dalam satu kedipan mata, Atha bisa melihat bagaimana bagian dalam lemarinya berubah seperti sedia kala.

"Makasih Faust, buat semuanya. Kalau nggak ada logue pasti nggak bisa ketemu Nara lagi." ucap Atha setelah sekian lama diam. Dia berdiri di tengah kamar, berhadapan dengan Faust yang kini tersenyum tipis.

"Ya, sama-sama." jawabnya. Faust berdeham pelan, "Aku harus pergi sekarang." sambungnya kemudian.

Atha menghela napas dan melirik kearah pintu balkon yang masih terbuka. Tempat dimana Faust pertama masuk. Diluar sana masih ada bulan purnama. Entah kenapa, terlihat jauh lebih cantik pada malam ini.

"Iya, gue tahu."

Faust mengangkat tangan kanannya di udara. Membuat Atha berkedip bingung.

"Mau ngapain lo?" tanya Atha.

Replaying UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang