Bagian Dua Puluh Dua: Debaran dan Rasa

15.3K 1.5K 220
                                    

A/n: kocak banget ngeliat komentar kalian soal bajunya kariza!hahaha, well, dia emang absurd.For this part Nara-Atha shipper, here we go!
p.s: setel lagunya dong *ada gambar speaker, klo baca di hp aja.*
hope u guys love it♡

―Sav

==

Bagian Dua Puluh Dua: Debaran dan Rasa.

==

Nanda menarik lengan kemeja Nara. Membuat pemuda itu membungkukkan badannya sementara jarak diantara keduanya menipis. "Nar." panggil Nanda, dia berbisik pelan.

Nara membungkukkan badannya. Memperhatikan Nanda yang sibuk mengerjapkan matanya.

"Mata gue gatel, ada apaan sih? bisa tolong tiupin nggak?" tanya Nanda. Tentu saja, Nara menganggukinya dengan senang hati. Dia mendekatkan wajahnya pada Nanda lebih dekat, meniup mata kehijauan perempuan itu perlahan.

"Udah udah, Nar. Makasih." ucap Nanda yang lalu mengucek sebelah matanya.

Nara otomatis menjauhkan tubuhnya dan menjulurkan sebelah tangannya yang memegang sekaleng soda pada Nanda. "Nan."

Nanda mengangkat kepalanya lalu mengulum senyum tipis. Menerima sekaleng soda tersebut dengan baik.

Saat keduanya memutar badan untuk pergi, mata coklat Nara jatuh pada dua sosok yang sama yang sejak tadi mengusiknya. Dan dua sosok itu sedang melakukan sesuatu yang mampu membuat Nara spontan memalingkan wajahnya kearah lain, namun disaat yang bersamaan mengerutkan dahi―karena lagi-lagi merasakan sesuatu aneh yang familiar.

Sesuatu aneh yang mengingatkan Nara pada wajah Atha.

"Kissing."

Nara mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Hah?"

Nanda menatapnya lalu menyeringai kecil. "Nggak. Itu mereka, lagi kissing." balasnya yang spontan membuat Nara canggung.

Mendengar satu kata itu membuat sesuatu didalam sana, dalam diri Nara.Berdenyut nyeri.

Setelah beberapa detik terlewat, Nanda mulai melangkahkan kakinya pergi―tapi Nara menghentikannya. Pemuda itu menunduk sebentar lalu mendongakkan kepala. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk seringaian nakal.

"Lo mau juga Nan?"

"Mau apa?"

"K-i-s-s-i-n-g." jawab Nara. Alih-alih disambut Nanda, perempuan itu justru meninju pipinya sampai Nara hampir terpental ke belakang. "Galak banget sih. Gue kan bercanda, Ay."

"Basi candaannya." ucap Nanda kemudian berjalan duluan.

Nara tersenyum kecil, mendapati dirinya menyukai reaksi perempuan itu. Meski pipi kirinya sedikit berdenyut kesakitan. Pada akhirnya pun―Nara mengekori Nanda dari belakang, namun seketika berhenti sejenak untuk memperhatikan dua sosok itu. Dia sangat familiar dengan pemuda yang kini memunggunginya tersebut. Tapi melihat dari pakaian yang dikenakannya, Nara yang awalnya berspekulasi bahwa dia adalah Kariza, menggelengkan kepala.

Walau Kariza dan Nara sudah tidak sedekat dulu, tapi Nara masih ingat jenis pakaian apa yang tidak akan dipakai seorang Kariza.

"Nar."

"Mm?" Nara menoleh kearah Nanda selagi keduanya berjalan menjauhi tempat barusan. Nanda menatapnya dengan menyelidik, seolah sedang mencoba membaca pikirannya.

"Lo mikirin siapa?" tanya Nanda lalu membuka tutup kaleng sodanya. Menyesapnya sedikit.

"Mikirin..siapa?" Nara bertanya balik.

Replaying UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang