Bagian Empat: Ide Yang Buruk

22K 1.7K 70
                                    

A/n: Disebelah/diatas itu foto Kariza. Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak ya!vote&komennya ditunggu♡

―sav

==

Bagian Empat: Ide Yang Buruk.

==

Atha menarik nafas dalam. Sepasang telinganya menangkap suara decitan pintu yang terbuka dan langkah kaki seseorang memasuki kamarnya. Tanpa membuka mata, Atha mengernyit. Apa semalam dia lupa mengunci pintu kamar?

Dia menggeliat dan menggulingkan tubuhnya kesamping sambil memeluk guling dengan erat. Berniat melanjutkan tidurnya.

"Dia belum bangun juga?"suara lembut seorang wanita menginterupsi. Suaranya yang terdengar asing membuat Atha bertanya-tanya.

"Belum Ma."sahut sebuah suara berat. "Oh ya nampannya taruh aja di meja sebelah kasur. Biar nanti kalau dia bangun, dia bisa langsung makan."

Atha mengerutkan dahi dalam tidurnya. Suara siapa itu?Atha kan tidak punya saudara. Dia anak satu-satunya. Terlebih―kedua orang tua Atha jarang membawa tamu pulang ke rumah, dan hampir tidak ada teman yang pernah ke kamarnya selain Raya.

Beberapa saat kemudian, Atha mendengar sesuatu diletakkan di meja sebelah kasurnya.

"Dia cantik. Pacar kamu, Za?"wanita itu bertanya diselingi tawa pelan.

"Yaampun, Riza udah jawab pertanyaan yang sama dari Mama lima kali. Apa perlu jawab lagi kalo jawabannya tetap sama?"balas suara berat itu lagi.

"Makanya, jawabannya dibedain dong."wanita itu memberi jeda. "Yasudah sekarang Mama kebawah dulu. Kamu mau jagain dia sampai bangun ya?"

Setelahnya, Atha tidak mendengar apa-apa kecuali derap langkah dua pasang kaki menuju pintu dan suara pintu yang ditutup rapat. Beberapa detik selanjutnya―Atha bisa merasakan seseorang menjatuhkan tubuhnya di kasur. Persis disamping Atha.

Deru nafasnya yang berbau mint menerpa wajah Atha, saking terasa dekatnya.

"Woi elah, sampai kapan lo mau tidur?mau ngalahin putri tidur?"suara berat itu terdengar persis dari depannya.

Atha mengernyitkan hidungnya begitu aroma shampo manly yang menyengat menghampiri lubang hidungnya. Dia paling anti dengan shampo semacam ini. Perlahan tapi pasti, Atha membuka kedua matanya.

Bingo!

Matanya langsung membelalak kaget mendapati penampakan makhluk berjenis kelamin laki-laki dihadapannya. Sepasang bola mata hazel yang jernih merefleksikan bayangan Atha sedang terkejut disana. Di lain sisi, Atha meneguk ludah saat menyadarinya.

Dia shirtless. Diulangi. Shirtless.

Atha dengan mengedipkan kedua matanya dan mengalihkan pandangannya dengan cepat. Dirinya sibuk mengumpat dalam hati. Perempuan itu melotot saat dia menunduk dan menyadari pakaiannya berbeda. Sekarang dia memakai celana pendek dengan kemeja putih kebesaran.

"L―lo,"ucap Atha terbata.

Kariza mendekatkan wajahnya sambil tersenyum miring. Tidak lupa dia mengangkat kedua alisnya tinggi, yang entah kenapa membuat wajahnya terlihat jadi jauh lebih menyebalkan sekaligus tampan. "Kenapa gue?"tantangnya.

Detik berikutnya Atha mendapati tubuhnya jatuh terbaring di lantai dengan kepala yang lebih dulu mendarat disana. Sementara manusia yang sudah mengagetkannya beranjak berdiri dari kasur dengan senyum kemenangan.

"Akhirnya lo bangun juga."Kariza menghampiri Atha yang membenarkan posisinya menyender ke pinggiran bawah kasur. Mata coklat Atha memincing penuh curiga. "Apa?udah lupa sama gue?gue Kariza. Yang tadi di taman, yang udah nolongin lo."sambung pemuda itu seraya berjongkok didepan Atha.

Replaying UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang