Bagian Tujuh: Seragam Putih Abu-abu Lagi

14.4K 1.6K 86
                                    

==

Bagian Tujuh: Seragam Putih Abu-abu Lagi.

==

"Kalian udah mulai akur ya, sekarang."Diana tertawa usai menatap kedua remaja didepannya bergantian. Tapi keduanya tidak menanggapi, karena mulut mereka sama-sama sibuk mengunyah roti selai kacang buatannya.

Pagi ini, meja makan terasa sedikit sepi. Erik―Papa Kariza―masih tertidur pulas di kamar, karena semalam pulang lewat dari jadwal biasanya. Katanya sih, ada rapat.

Diana bertopang dagu sebelah tangan sambil memasang senyum menggoda. "Riza, bilang dong sama Mama―kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?maksudnya, kamu kan tadinya nolak Atha tinggal di rumah ini. Tapi tiba-tiba bolehin. Pasti ada sesuatu deh."ucapnya panjang lebar.

Kariza terbatuk pelan dan meneguk air mineralnya hingga tersisa setengah. Sementara Atha tidak berminat menanggapi. Jadi dia hanya diam dan menikmati sarapannya dengan damai.

Pagi ini, Faust bilang dia tidak ingin ikut menyusul Atha ke sekolah. Makhluk bersayap itu rupanya memilih berleha-leha diatas kasur kamar yang ditempati Atha sekarang―berhubung energinya menipis setelah memakai terlalu banyak sihir. Alhasil, Faust memutuskan untuk hanya memonitori Atha dari rumah sesekali. Bahkan Atha pun agak kaget mendengarnya, karena dia pikir―sihir yang Faust gunakan tidak berpengaruh pada energinya. Rupanya malaikat purnama seperti dia pun bisa kelelahan.

"Makasih sarapannya, Tan."ucap Atha lalu menyalimi wanita itu. Selanjutnya dia pamit berangkat sekolah dan mengekori Kariza yang lebih dulu menuju garasi untuk menyalakan motornya.

"Gue heran,"ucap Kariza sesampainya mereka di garasi. Pemuda itu sedang memanaskan motornya sebentar.

"Heran kenapa?"Atha bertanya sambil memasang helm berwarna putih ke kepalanya―agak sedikit kebesaran sih, tapi Kariza bilang tidak ada yang lain ukurannya.

"Kapan lo beli seragam, serahin dokumen pindah, dan dapatin baju-baju lo yang lain?"Kariza memiringkan kepalanya. "Padahal seingat gue, waktu gendong lo kesini―nggak ada koper atau apa pun yang lo bawa."lanjutnya menyelesaikan.

Atha berpikir sejenak. Mencari-cari alibi yang pas. Tidak mungkin kan, dia membocorkan soal Faust pada Kariza?lagipula kalau dibeberkan pun, Kariza pasti hanya akan menertawainya dan menyangka Atha sudah tidak waras dengan mengada-ngada soal keberadaan Faust.

"Koper gue dimalingin orang, terus kemarin―malingnya sama koper gue ditemuin sama polisi. Jadi gue ke kantor polisi buat ambil habis itu pulang dulu naruh kopernya baru deh ke sekolah lo sekalian serahin data-data."jawab Atha kemudian.

Selanjutnya, pemuda itu hanya ber'oh' ria tanpa suara. Atha pun menaiki motornya. Menggamit pundak Kariza cukup kencang, takut kalau dia tiba-tiba saja menjalankan motornya dadakan.

Namun setelah Kariza mencoba menginjak pedal gasnya berulang kali―motor itu tak juga jalan.

Atha mendengus kesal dan kembali turun dari motor selagi Kariza mencoba.

"Kemarin, bisa kok. Kenapa sekarang enggak?"gerutu Atha. Dia menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya lalu menggigit bibir bawahnya. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi―tapi keduanya masih saja belum berangkat.

Atha melihat Kariza menggeram dan mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya, kalau bisa, Atha ingin berlari keatas dan meminta bantuan Faust―namun dia mengurungkan niatnya.

"Oi,"panggil Kariza beberapa saat kemudian.

"Apaan?"

"Lo nggak mau kan, telat di hari pertama lo pindah?"Kariza balas bertanya.

Replaying UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang