49. PERGI

342 77 29
                                    

Vote dulu sebelum membaca!
Bila perlu komen yang banyak:)

***

Hai makasih banget yang udah baca cerita aku. Aku seneng banget kalo kalian juga vote dan komen setiap part-nya!

Semua itu sangat berarti buat aku:)

Buat kalian yang selalu nunggu up, semangat ya!

***

Masih di kediaman rumah Valdo. Semuanya berbincang-bincang bagaimana cara membuat Bella jujur kepada mereka semua. Tentang dendam apa yang dia miliki terhadap keluarga Daniel sampai-sampai sudah menghabiskan 3 korban.

Wanara yang tiba-tiba berbicara sontak langsung membuat semua yang ada di sana membulatkan matanya. "Sebentar lagi, Bella akan mati."

"Maksud lo apa?!" Dino menggebrak meja kaca yang ada di sana sampai retak.

"DINO!" semuanya langsung berlari ke Dino. Kecuali Wanara, untuk memastikan tangan Dino tidak kenapa-kenapa. Ternyata, jarinya tergores oleh retakan kaca yang membuat darah segar mengalir dari sana.

Wanara masih duduk dengan manis layaknya seorang putri dari kerajaan ilusi. "Emang itu kenyataannya, dia sudah pergi meninggalkan kediaman rumah Daniel," ujar Wanara tanpa ragu.

Dino yang seharusnya kesakitan karena luka yang ada pada jarinya bahkan tidak merasakannya sama sekali, karena ucapan Wanara. Dino malah langsung menghantamkan tangannya ke dinding rumah Valdo yang membuat darahnya semakin mengalir. "Lo bawa siapa sih, Tamara?!"

"A--aku." Wanara memotong ucapan Tamara. "Kenapa emang?! Gue ngomong apa adanya!" ujar Wanara penuh penekanan.

Dino hanya membuang mukanya ketika melihat Wanara. Dia merasa jijik sekali dengan Wanara.

Prang!

Sebuah pisau jatuh dari luar kediaman rumah Valdo. Mereka yang ada di sana langsung berlari keluar untuk memeriksa apa yang terjadi.

"Ternyata Bella itu penguping yang ceroboh! Pantas saja disebut dinding pun punya telinga. Tetapi, dia ceroboh! Meninggalkan jejak yang begitu penting," ujar Wanara sembari tertawa meremehkan.

Radit yang biasanya berbicara pedas pun tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sungguh, gadis yang dibawa oleh Tamara benar-benar jahat mulutnya. Dia tidak bisa mengontrol mulutnya sama sekali. Dia selalu berbicara, meskipun memang itu kenyataannya.

"Bukannya lo bisa sihir?" tanya Valdo yang tidak tahan dengan sikap Wanara.

Wanara menaikkan sudut bibirnya. "Gue emang bisa sihir, tapi di dunia gue sendiri, bukan dunia ini yang penuh dengan dendam yang aneh."

"Terus apa gunanya lo di sini?" tanya Valdo kembali.

"Pertanyaan lo bagus juga. Gue bisa menerawang masa depan." Wanara dengan bangganya mengibaskan rambut miliknya.

Dino langsung tertawa. "Lo bisa menerawang masa depan? Beneran?"

"Apa lo nggak paham sama ucapan gue?!"

Dino menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa. "Kalo gitu gue mau nanya, kapan lo mati?!"

Deg!

"Brengsek!" umpat Wanara kasar.

"Kenapa? Apa pertanyaan gue nyakitin lo, Ciung Wanara?" Dino tersenyum sinis melambangkan sebuah kebencian pada Wanara.

Ranselku [Belum Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang