24.TERULANG KEMBALI

634 59 12
                                    

Vote dulu sebelum membaca!
Bila perlu komen yang banyak:)

***

Hai makasih banget yang udah baca cerita aku. Aku seneng banget kalo kalian juga vote dan komen setiap part-nya!

Semua itu sangat berarti buat aku:)

Buat kalian yang selalu nunggu up semangat ya !

***

Sekarang waktunya SMA Biru untuk pulang sekolah. Semua siswa berlalu lalang dan saling bersenda gurau. Betapa bahagianya pulang sekolah, semoga Covid-19 ini lekas pergi dari bumi ini.

Valdo mengendarai motornya beriringan dengan Tamara membuat gadis itu terkejut. Katanya amnesia kok masih ngejar-ngejar aja? Nyatanya cinta memang begitu, lebih kuat dari segala hal.

"Ngapain kamu?" tanya Tamara, sorot matanya fokus mengendarai sepedanya.

"Mau nganter lo pulang," ujar Valdo penuh semangat.

"Nggak usah!" tolak Tamara langsung. Dia bukan anak kecil.

Valdo mengkerutkan keningnya. "Kenapa, Tam?"

"Nggak papa."

"Lo kenapa sih--"

"VALDO AWASSS!" teriak Tamara ketika ada sebuah mobil yang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Spontan Valdo langsung mengerem motornya, namun naas dia sudah terlambat. Alhasil kini Valdo tergulai lemas di aspal kembali.

Brugh!

"VALDOOO!" pekik Tamara ketika dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Untuk kedua kalinya, Valdo langsung terluka di saat bersama dengan Tamara. Dia bodoh terlalu bodoh! Kenapa dia tidak langsung menyelamatkan Valdo, tetapi malah berteriak?!

Semua warga datang berbondong-bondong memastikan korban tidak apa-apa. Pengendara mobil itu melarikan diri, tanpa melihat keadaan Valdo.

"DO!" panggil Tamara dengan nada yang masih cukup dingin. "Harusnya kamu nggak usah deket-deket sama aku!" lanjutnya.

Valdo langsung dilarikan ke rumah sakit Pelita Jaya. Untung saja kondisinya tidak cukup parah. Namun, benturannya mengenai kepalanya. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yang pertama Valdo akan sembuh dari amnesia sebagiannya, dan yang kedua Valdo akan amnesia untuk selamanya.

"Aku nggak tahu kenapa kamu begini, yang aku tahu, kamu sekarang udah lupa sama aku. Tapi nyatanya? Cinta kamu lebih besar dari semua permasalahan kamu," tutur Tamara sembari memandang lekat pria yang ada di depannya itu.

Seketika tangan Valdo mulai tergerak, perlahan matanya pun terbuka dan menatap akan kehadiran Tamara di sana. Tamara tidak mengabarkan Geng Trilled sama sekali.

"T--Ta-- Tamara," ujar Valdo ketika dia sudah benar-benar sadar.

Ada rasa sedikit bahagia di benaknya. "Ya?"

"Gue seneng lo di sini," ungkap Valdo dengan tersenyum lebar.

Tamara berdecih, "Aku cuma kasihan, nggak usah berharap lebih!"

Dokter memeriksa keadaan Valdo dan dinyatakan kalau Valdo kini ingatannya sudah kembali sempurna. Membuat Valdo bersyukur.

"Gue beruntung banget karena kejadian tadi."

"Oh, iya?" tanya Tamara sembari tersenyum kikuk. "Bodoh!" lanjutnya.

"Gue emang bodoh, Tam. Gue seharusnya nggak pernah ngelupain lo. Lo itu cinta gue, Tam. Maaf soal kejadian waktu itu, gue inget banget di mana gue ngusir lo."

"Udah inget?"

"Udah," jawab Valdo antusias.

"Oke, aku pulang." Tamara langsung mencari ranselnya.

"Eh tunggu!" ujar Valdo mencoba menahan Tamara agar tidak pergi dengan cara memegang tangannya.

"Lepas!"  dengan secepat kilat Tamara langsung menepis genggaman Valdo.

Valdo kebingungan. "Lo kenapa, sih?"

"Kamu yang kenapa?!"

"Gue minta maaf soal kejadian itu, Tam. Gue nggak sadar, gue mohon berubah jadi Tamara yang dulu!" bujuk Valdo merasa bersalah. Seharusnya dia memang tidak berkata seperti itu.

"Nggak bisa!" tolak Tamara.

"Kenapa?" tampik Valdo yang sudah mempunyai seribu pertanyaan untuk tamara.

"Tubuh ini sudah jadi milikku seutuhnya," ujarnya sembari tersenyum penuh arti.

"Maksud lo?"

***
Gadis berambut hitam, yang mempunyai tanda lahir di dahi kirinya dan juga mempunyai senyum seperti gulali kini memulai aksinya.

Dia menunggu saat-saat ini di mana SMA Biru di pulangkan. Dia menaikkan sudut bibirnya, dengan harapan penuh untuk tujuannya. Dia memastikan detik demi detik tidak terlewatkan sama sekali.

Dan, yah, akhirnya dia menemukan gadis yang dia intai sudah sejak lama, tentu saja Tamara Audy. Dia sangat terkejut mengetahui Valdo masih hidup.

"BRENGSEK!" umpat gadis itu dengan nada marahnya.

"Ternyata lo masih hidup rupanya, pahlawan kesiangan! Lo nggak akan bisa ngelawan takdir kalau lo bakal mati di tangan gue ! " Gadis itu kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum, dia langsung saja menabrak Valdo. Awalnya memang dia ingin menabrak Tamara, tapi posisi Valdo menghalanginya. "Ternyata nyali lo gede juga Oshvaldo Bryan."

"Mau ngelindungi Tamara ?" Gadis itu kemudian tertawa bagai iblis. Dia benci sekali dengan Valdo. Bisa-bisa karena Valdo rencana gadis itu akan gagal kembali.

Dan, Brugh!

Valdo tergulai di aspal, sedangkan gadis itu langsung melarikan diri dengan senangnya. Gadis itu mungkin memiliki masalah dengan jiwanya atau mungkin karena sebuah dendam yang belum terbalaskan.

Gadis itu kemudian langsung pulang ke kediamannya. Dia tinggal dengan pembantunya di sebuah rumah yang sangat besar. Nyatanya rumah itu sangat rapih, gadis itu sangat baik kepada para pembantunya.

"Bi, tolong bersihin mobil aku, ya! Soalnya itu habis nabrak ayam nggak sengaja," tutur gadis itu dengan bohongnya.

Bibi itu mengangguk paham. "Iya, Non. Nanti Bibi bersihkan. Tapi, Non makan dulu ya?"

"Iya, Bi. Nanti aku makan tenang aja." Gadis itu langsung masuk ke kediaman rumahnya. Disana terpampang jelas sebuah foto keluarga yang harmonis. Disana juga terdapat foto seorang Tamara Audy.

Gadis itu selalu menghela napas berat ketika menatap foto keluarganya itu, kini nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi kata maaf untuk keluarga Daniel. "Aku janji, aku akan membalas kematian Papah sama Mamah."

"Aku akan selalu mencoba menghancurkan siapapun yang menghalangi tujuanku ini, " ujar gadis itu meneteskan air mata.

***

Terima kasih sudah mampir ke ceritaku.

Penasaran part selanjutnya?

Silahkan komen jika ada typo!

Follow Instagram Author
@Dewibiruu

Follow YouTube Author
@Dewisarah16

Ranselku [Belum Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang