46. IKHLAS

435 66 14
                                    

Vote dulu sebelum membaca!
Bila perlu komen yang banyak:)

***

Hai makasih banget yang udah baca cerita aku. Aku seneng banget kalo kalian juga vote dan komen setiap part-nya!

Semua itu sangat berarti buat aku:)

Buat kalian yang selalu nunggu up, semangat ya!

***

Mari menyusun Seroja
Bunga Seroja...
Hiasan sanggul remaja
Putri remaja...
Rupa yang elok dimanja

Jangan dimanja...
Pujalah ia oh saja
Sekedar saja...

Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati
Bingung...
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati
Bingung...

Janganlah engkau
Percaya dengan asmara
Janganlah engkau
Percaya dengan asmara

Sekarang bukan
Bermenung jangan termenung
Sekarang bukan
Bermenung jangan termenung

Mari bersama
Oh sayang memetik
Bulan...
Mari bersama
Oh sayang memetik
Bulan...

🎼Bunga Seroja - Iis Dahlia 🎼

***

Tamara sudah menemukan pohon ajaib yang terletak di tepi danau dunia ilusi. Dia langsung masuk kedalamnya, karena perutnya sudah robek.

Tamara gugup, dia sangat khawatir jika tebakannya benar. Tamara mendongakkan kepalanya ke atas, mencoba menahan bulir air mata yang sudah siap untuk terjun.

"Semoga aku salah ya, Tuhan." Tamara kemudian mencari keberadaan manusia, tanah, dan batu tersebut.

Mulanya Tamara lega karena tidak menemukan apa-apa. Namun, dia tiba-tiba melihat sebuah cermin ajaib yang menunjukkan sebuah makam di belakang Tamara.

Tamara syok bukan main. Dia langsung terduduk lesu karena tidak bisa menahan semua bebannya termasuk berat badannya sendiri. Tamara kemudian bangkit dan berjalan ke makam Hana dengan tergopoh-gopoh. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Mungkinkah dunianya kini sudah berakhir?

Tamara memegang nisan yang bertuliskan "Hana Ardela" yang dipenuhi oleh warna merah kehitaman. Warna penuh dendam yang sudah menghabisinya. "Maafin aku, Hana. Aku nggak bisa jaga kamu. Aku emang bodoh, Han."

"Cobaan apalagi ini? Kenapa aku selalu mendapat masalah? Kenapa orang-orang yang selama ini selalu membantuku kini pergi? Apa salah dia? Apa aku nggak pantes buat gantiin dia?" Tamara sesenggukan. Dia menangis histeris.

"Apa salah Hana?! Kenapa dia yang pergi? Bukankah lebih mudah aku yang mati terlebih dahulu?!" Tamara mengoceh tidak jelas. Sampai akhirnya sebuah bayangan Hana muncul di sana.

"Kamu harus tuntaskan masalah ini!" pinta Hana dari bayangan merah kehitamannya.

"Hana? Siapa yang ngelakuin ini? Ngomong sama aku!" Tamara mencoba memeluk Hana. Tetapi, itu hanya bayangan, bukan sebuah raga nyata.

Ranselku [Belum Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang