Tiga puluh satu

1.5K 74 0
                                    

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" ... polisi masih menyelidiki perihal kasus ini. Belum ditemukan bukti apapun mengenai keberadaan pilot tersebut. Polisi menduga, kejadian ini bisa jadi disebabkan oleh tindak kriminal karena tidak satupun dari pihak keluarga yang mengetahui keberadaannya."

Suara televisi memasuki gendang telinga selepas kakinya menapaki anak tangga terakhir. Benda persegi yang terletak di dapur untuk menemani waktu senggang para pelayan kini menampilkan berita yang akhir-akhir ini menggemparkan tanah air.

"Pihak maskapai penerbangan dari pilot berpangkat kapten tersebut tengah berupaya mengatur ulang jadwal penerbangan yang sempat mengalami penundaan dan memberi kompensasi atas waktu yang di luangkan untuk menunggu jadwal penerbangan yang telah diubah serta dialihkan ke penerbangan berikutnya. Meski dengan begi—"

Kala salah satu pelayan menoleh, ia bergegas mematikan televisinya dengan wajah panik terbukti dari alisnya yang tersentak bersamaan. Para pelayan yang lain memilih membubarkan diri. Lain dengan Bi Nah yang berjalan mendekat dengan alis yang bertautan penuh kekhawatiran.

"Nona Aluna," panggilnya. Bi Nah bertanya, "sudah merasa lebih baik? Sudah tiga hari Nona demam."

Bukannya menjawab, ia berjalan menuju jendela di sebelah pintu masuk yang tirainya tertutup rapat hingga Bi Nah mengikuti langkahnya. Menyibak tirai sedikit, mengintip keramaian di depan gerbang rumahnya dari balik sana, lalu berbalik menghadap Bi Nah dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.

"Sebegitu berartinya Fatih untuk Aluna?" tanyanya.

Panggilan yang biasanya menggunakan nama Kafa malah berganti Fatih dan menyebut dirinya sendiri dengan nama, hal itu membuat Bi Nah harus mencerna baik-baik apa yang sedang terjadi pada nonanya.

"Maksud Nona Aluna?"

Tidak banyak yang tahu bahwa cara Bi Nah menyebut nama Aluna saat ini adalah untuk memastikan apakah yang sedang menguasai tubuh itu benar-benar Aluna atau kepribadian gandanya. Sebab ini pulalah Bi Nah mengatakan pada Fatih waktu itu bahwa kepribadian ganda Aluna yang memiliki nama masing-masing adalah hal yang baik.

"Saya Alena, Bi. Bukan Aluna." Seperti inilah Bi Nah mengenalinya. Kepribadian yang mengakui nama mereka sendiri cukup membuat Bi Nah mengetahui bahwa kepribadian asli Aluna sedang tidak berada di tempatnya. "Dia seperti menyerahkan tubuhnya pada kepribadian yang lain, ya. Melarikan diri dari kenyataan."

Alena adalah salah satu kepribadian ganda Aluna yang mengaku berusia dua puluh tahun dikenal Bi Nah sebagai kepribadian yang cerdik. Bila Lana dan Luna hanya dua kepribadian penuh rasa takut, lain dengan Alena yang menunjukkan sisi cerdasnya Aluna dan juga berani. Alena seperti sosok yang Aluna harapkan untuk masa depannya.

"Siapa Fatih untuk Aluna?" Caranya Alena beradaptasi dengan keadaan bahkan lebih cepat daripada Aluna. "Apa saya juga harus menganggapnya begitu?"

"Suaminya. Maaf Nona Alena, untuk soal itu saya tidak tahu harus memutuskan seperti apa," jawab Bi Nah. Lagipula siapa yang tidak bingung bila ada di posisi Bi Nah. Bila ia menjawab iya, itu belum tentu jawaban yang benar karena pada kenyataannya Aluna dan Alena adalah kepribadian yang berbeda dengan ingatan yang juga berbeda. Lalu jika Bi Nah mengatakan tidak, bagaimanapun Alena dan Aluna adalah dua kepribadian yang berada dalam satu tubuh.

Mereka satu namun tidak sama. Satu namun berpecah belah. Berbeda namun tidak bisa disatukan.

"Pasti membingungkan." Alena membuat senyum simpul di wajahnya yang juga adalah wajah Aluna. "Sepertinya tidak perlu. Saya hanya cukup menghargainya sebagai suami Aluna. Adik saya. Iya, kan?"

Lagi-lagi, Bi Nah berada dalam situasi yang aneh untuknya. Bahkan kala beberapa hari terakhir Bi Nah menjumpai dua kepribadian Aluna yang lain tanpa bertemu kepribadian aslinya, jelas kehadiran Alena lebih menguras pemikiran Bi Nah. Sekali lagi ia bertemu satu kepribadian yang mengaku sebagai bagian keluarga Aluna setelah Alana.

"Apa yang Bibi bilang pada wartawan di depan sana? 'Istri pilot yang hilang tersebut tidak tahu menahu soal itu dan turut terpukul dengan kabar menghilangnya suaminya hingga sakit serta tidak bisa memberikan keterangan.' Begitu?" terka Alena yang tepat pada sasarannya membuat Bi Nah tidak bisa berkutik. Ia kemudian melanjutkan, "sangat klasik. Sejak Aluna sekolah, alasan itu selalu dipakai bila saya, Luna ataupun Lana muncul."

" 'Karena memori satu identitas kadang tidak bisa diakses identitas lain, beberapa pengidap DID 'kehilangan' banyak ingatan waktu—mereka merasa seakan-akan ingatan mereka meloncat-loncat secara waktu, bisa beberapa hari, bahkan beberapa minggu.' Bibi memegang prinsip itu saat ini, kan? Bibi tahu kalau kami — kepribadian ganda Aluna — tidak akan bisa memberikan keterangan apa-apa."

Bi Nah yang tidak bisa mengelak pada akhirnya hanya menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, mengangguk lemah.

"Kenapa tidak katakan saja bahwa istri Aksa Fatih Adhitama —pilot yang menghilang seperti ditelan bumi, mengidap kepribadian ganda. Semua orang akan memaklumi bahwa Aluna tidak bisa memberikan keterangan," ucap Alena tanpa ragu-ragu.

Meskipun ucapan Alena logis, namun Bi Nah membalasnya dengan perkataan yang juga cukup masuk akal, "saya rasa, itu tidak diizinkan oleh tuan dan nyonya. Bila memang diizinkan, mereka akan mengungkapkan sejak lama termasuk pada pihak sekolah Nona Aluna."

Alena tidak mampu menyahuti lagi. Ia terdiam cukup lama hingga terdengar ketukan pintu di balik pintu utama rumah keluarga Aluna. Alena segera menyingkir dari sana dan membiarkan Bi Nah mengecek tamu yang datang lebih dulu.

"Siapa?" Alena bertanya selepas Bi Nah melongok melalui kaca jendela.

"Adik Mas Fatih, Neta."

Alena mengangkat alisnya kemudian garis muncul diantaranya menciptakan kerutan di sana. Ia mendengus. Tangannya bergerak cepat melepas ikat rambut yang sebelumnya ia gunakan menyebabkan rambutnya kini tergerai. Dengan agak mengacak-ngacak rambutnya sedikit, Alena lalu menyentuh kedua bola matanya dengan jarinya telunjuknya hingga kedua matanya memerah seperti menahan tangis.

Tepat kala Bi Nah membuka pintu dan memperlihatkan seorang gadis yang katanya bernama Neta itu, Alena berdiri sedikit jauh dari sana agar dirinya tidak tertangkap oleh mata dan kamera para wartawan. Neta melangkahkan kakinya masuk ke rumah hingga Bi Nah buru-buru menutup pintunya lagi. Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Alena yang dikiranya adalah Aluna.

Alena memperkirakan bahwa umur Neta tidak jauh berbeda dengan Aluna. Cukup erat sekali pelukan Neta diiringi isak tangis yang terdengar jelas di telinga Alena. Selama berada di pelukan Neta, Alena bungkam. Cukup kedua matanya saja yang terasa perih akibat ulahnya sendiri. Ia tidak ada niat untuk benar-benar menangis. Lagipula, Alena bisa menduga bahwa sebenarnya hubungan Neta dengan Aluna belum begitu dekat sekalipun seharusnya erat seperti keluarga. Sekalipun juga — mungkin, Neta sudah menganggap Aluna sebagai bagian dari keluarganya.

Sikap ketus, pendiam dan tidak banyak bicara memang sudah tersemat dalam diri Aluna. Oleh karena itu, Alena merasa tidak perlu bersikap berlebihan sekalipun ia tahu bahwa bila Aluna ada di posisinya, gadis itu pun akan menangis sebab rasa kehilangan. Pelukan Neta adalah ungkapan berbagi perasaan atas rasa sedih yang sama karena kehilangan lelaki yang menjadi bagian dari hidup mereka.

"Kita jalani ini sama-sama, ya?" ujar Neta. Ia lalu melanjutkan, "Mas Fatih pasti kembali."

Saat itu pula — entah mengapa, udara di sekeliling Alena seakan menipis hingga ia ikut merasakan sesak di dadanya. Rupanya memang sebesar itu rasa sedih dalam diri Aluna hingga tetap terasa menyesakkan dada untuk Alena.

***

If you read this and like it, let me know you've been a part of this story by voting it.

© 2019
Revisi 2021

I'M ALONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang