..
.
.






"Gak usah mainan hape trus kalau lagi sama aku."

"Iya."

Veranda dan Kinal masih menikmati makan sore yang santai hanya di sebuah supermarket yang juga menyediakan tempat makan cepat saji.

"Kamu harus banyak makan, aku gak mau ya kamu keliatan kurus."

Kinal jadi tersenyum. "Baru dapet job ya?"

"Emang sejak kapan aku tlaktir kamu kalau baru dapet job doang?"

"Hehe iya juga sih, ya kapan-kapan deh aku yang bayarin, gantian."

"Gak juga gapapa, simpen aja uangnya."

Mereka saling menatap dengan senyum yang mengembang, dari balik rak yang tersusun berbagai minuman segar Yona terus diam, matanya menatap tajam Kinal yang sekarang terus saja memperhatikan Veranda yang sedang menyendokan nasi ke tempat makan Kinal.

Suara kaleng soda yang di buka Yona terdengar begitu keras, Yona membukanya dengan tegas matanya terus saja memperhatikan Kinal yang tak menyadari kehadirannya, dia menenggak air soda yang kini memenuhi tenggorkannya, dia meminumnya secara kasar tetesannya terlihat menyisa diujung-ujung bibir.

Dia mendorong troli yang kini dipenuhi dengan kaleng minuman soda, ada beberapa sayuran, Ayam dan juga telur, dia pergi dari supermarket itu meninggalkan Kinal dengan semua kebohongannya.


Yona bisa saja langsung menarik rambut Veranda, mengatakan hal-hal kotor di hadapan muka Veranda, atau mungkin menampar wajah Kinal, tapi semua itu tidak dia lakukan, itu terlalu bodoh, itu sama saja dia mempermalukan dirinya sendiri, itu sama saja dia memeberitahukan orang banyak kalau dia adalah seorang gadis yang memprebutkan gadis.


Yona yang memiliki sikap cuek dan tenang, selalu bisa melawan semua hal bodoh yang mungkin saja dilakukan oleh wanita lain dikala mengetahui kekasihnya bermain dibelakangnya, boleh saja rasa cemburu memenuhi hatinya tapi otaknya harus tetap berfikir mana yang baik dan benar.


Kini dia membuka kamar kosaanya, tapi bukan kamar nya melainkan kamar Kinal dan Feni, sengaja, Yona akan sedikit memberikan kejutan pada Kinal.

"Mamski.." Feni yang memang berada dikosaan langsung menghambur memeluk Yona, Yona tak bisa membalas pelukaan Feni karna tangannya yang penuh membawa belanjaanya.

"Ih kangen tau.. perginya lama banget." Kata Feni lagi, Yona jadi gemas menurunkan belanjaanya dan membalas pelukaan Feni. Hatinya sedikit menenang dia berusaha menghilangkan rasa kecewanya pada Kinal, dia mengeratkan pelukaanya memaksudkan agar rasa sedihnya hancur dan remuk.

"Mamski bawa apa?" Feni melepaskan pelukaan Yona, dia melihat dua kantung kresek yang terlihat penuh.

"Buat masak sore ini, yuk masak. Lo belum makan kan?"

Feni langsung mengangguk, dia merangkul pinggang Yona membawa satu kantong kresek, berjalan beriringan menuju dapur.

Setidaknya kehadiran Feni sedikit membuatnya terhibur.

"Mamski... ini udah mateng belum ya?"

Yona jadi menoleh melihat Ayam yang sudah menguning matang.

"Udah Fen, angkat aja."

Feni mengacungkan jempolnya mengerti, dia kembali memasukan sayuran kedalam kulkas menatanya dengan rapih, saat semua sayuran hijau dia tata dengan rapih dia diam, matanya sedikit berkaca-kaca, ntah kenapa dia benar-benar merasa di khinati, usahanya terasa sia-sia.

"Mamski... udah nih, aku harus bantu apa lagi?"

Feni jadi mematikan kompor, berjalan mendekat pada Yona yang terus diam berdiri dihadapan kulkas yang masih terbuka.

"Mamski?" Feni menyentuh pundak Yona. Dan itu berhasil menyadarkan Yona dari lamunanya.

"Eh iya, kenapa?"

"Mamski ngelamun?"

Yona menggeleng dan tersenyum.

Feni hanya mengangguk tak menanyakannya lagi, Feni tau Yona sedang tidak baik-baik saja ada hal yang dipikirkan Yona tapi Feni tak ingin terlalu ikut campur, jadi dia hanya diam menunggu Yona yang akan bercerita sendiri nanti. "Abis ini apalagi?" Kata Feni menanyakan tugas berikutnya.

"Eum.. Ayam goreng udah, capcai juga udah, sekaran tinggal bikin sambel, lo bisa sendiri kan? Gw mau mandi dulu, gerah nih."

"Bisa dong." Kata Feni yakin, Yona jadi sedikit mengacak rambut chibi maruko channya itu.




..
.
.




Dia memasukan kunci kamarnya, kunci seakan tidak berfungsi, akhirnya tangannya langsung menarik gagang pintu dan ternyata pintunya tidak terkunci. Dia pikir Feni ada latihan, tapi ternyata salah, sekarang matanya sudah melihat Feni yang sedang menata makanan di meja makan.

Saat dia melapaskan sepatunya, tubuhnya seketika menegang saat dia mendengar suara Yona yang bertanya.

"Udah latihannya?"

Yona mendekat, dengan rambut yang masih dibungkus oleh handuk.

Tangan Yona langsung membuka kancing kemeja Kinal, Kinal hanya mengangguk tadi menjawab ucapan Yona, ada ketakutan sendiri dalam hatinya, dia takut Yona tau kalau dia sedang berbohong.

"Capek ya?" Kata Yona setelah memasukan kemeja Kinal pada tempat pakaian kotor dia kini melingkarkan tangannya pada leher Kinal, Feni yang duduk didepan mejam makan menopang kedua pipinya menunggu momen bahagia yang selalu membuatnya bahagia juga.

"Lumayan."

Yona menepuk-nepuk pipi Kinal tangannya bermain-main disana, Kinal malah takut tiba-tiba Yona menamparnya atau mungkin mendorongnya, seseorang yang menyimpan kebohongan hidupnya pasti akan dihantui rasa curiga dan takut.

Padahal kenyataanya Yona hanya memberikan sentuhan seperti biasanya.

"Sekarang makan ya? Aku udah masakin spesial buat kamu dibantu Feni tadi, pasti laper kan abis latihan?"
Tiap katanya dia tekankan, Kinal semakin merasa ada yang tidak beres dengan Yona.

































Bersambung

#TeamVeNalID

Yaudah ya, selamat hari jumat😗

Dibalik Layar [END]Where stories live. Discover now