31. demikian inilah Rasulullah

953 131 0
                                    

Pada hari-hari itu, sebagaimana diceritakan oleh Jabir ibn 'Abdillah, jatah makan untuk setiap penggali Khandaq di kota Madinah adalah sebutir kurma, seteguk air, dan tepung yang diadoni minyak panas. Seberapa banyak tepung itu? "Jika tangan kami terbasuh air kemudian dimasukkan ke dalam kantung persediaan tepung," ujar Jabir, "maka tepung yang menempel di telapak yang basah itulah jatah makan sehari kami."

Tentu saja, sebab telah diperkirakan bahwa pengepungan pasukan Quraisy dan sekutunya akan berlangsung lama.

Dan para sahabat kian merasa malu ketika Sang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang turut bekerja bersama mereka sejak di hari pertama mengangkat beliungnya untuk menghantam batu terkeras yang mereka temukan. "Allahu Akbar", beliau bertakbir, mengabarkan akan sampainya Islam dan kaum Muslimin ke Syam, Persia, dan Yaman. Selain iman yang semakin terukir lagi berkibar, di benak para sahabat tersisa rasa getir yang menggelegar.

Ada dua batu di sana. Terselempit di sela sabuk celana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengganjal perutnya. Aduhai, bagaimana tak terbit air mata. Kekasih Allah yang paling mulia, lebih lapar dibandingkan seluruh sahabatnya. Dia ada bersama, dalam suka dan duka. Dia turut bekerja tak ingin istimewa.

"Seandainya kami duduk saja, sedangkan Sang Rasul bekerja," demikian senandung orang-orang Anshar yang lalu dinasyidkan semua, "jadilah ia bagi kami hal yang membawa sesat selamanya."

Tibalah hari itu, ketika Jabir ibn Abdillah pulang dengan air mata menggenangi pelupuk dan dada sesak. "Wahai istriku," panggilnya, "demi Allah, apakah yang masih engkau miliki? Demi Allah, aku tak tega melihat rasa lapar yang menyiksa Rasulullah. Andai selain beliau, pasti sudah tak sanggup menahannya."

"Hanya ada seekor anak kambing," jawab Sang Istri gugup, "dan segenggam tepung kasar di persediaan kita."

"Keluarkanlah semua. Aku akan menyembelih dan menguliti anak kambing itu. Kau adonilah tepungnya menjadi roti."

Ketika akhirnya masakan itu siap, Jabir pun mendatangi Sang Nabi dengan mengendap-endap. "Ya Rasulallah," bisiknya kemudian, "ada sekadar roti dan sedikit daging di rumah kami. Berkenanlah untuk sejenak datang dan menyantapnya."

Beliau tersenyum dan mengangguk. Dipangillah seseorang dan diperintahkan untuk mengumumkan kepada semua penggali parit, "Semuanya, datanglah ke rumah Jabir untuk makan bersama!"

Betapa gugupnya Jabir melihat itu. "Aduhai celaka," batinnya panik, "aku hanya meminta beliau untuk bersantap tapi beliau mengajak seluruh Muhajirin dan Anshar!"

Tapi Rasulullah tersenyum padanya, menepuk bahunya, dan menggamit lengannya. Tak bisa tidak Jabir hanya bergumam, "Demikian inilah Rasulullah!"

"Jangan kaluan buka penutupnya," ujar Sang nabi. Beliau juga meminta kedua suami-istri yang saling berpandangan dengan khawatir itu untuk segera menyingkir. Kemudian beliau pun berdo'a dan memohon berkah atas hidangan itu. "Masuklah rombongan berombongan dan jangan berdesakan," perintah beliau kepada seluruh hadirin.

Kelompok demi kelompok mereka masuk, sedangkan Nabi mengambilkan roti dan menuangkan masakan daging ke atasnya. Beliau berkhidmah pada semua sahabatnya, satu demi satu, hingga yang terakhir. Padahal penggali parit dalam Perang Ahzab, sekitar 3.000 jumlahnya. Semuanya makan, semua merasa kenyang dan puas. Tiba giliran Jabir beserta istrinya, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih melayani mereka. Baru sesudahnya beliau makan dengan penuh kesyukuran. Beliau mengucap tgerima kasih pada keduanya dan mendo'akan kebaikan, lalu beranjak.

"Demi Allah," ujar Jabir, "ketika kuperiksa wadah makanan kami, roti maupun dangingnya masih utuh seperti semula."

Mukjizat ini mengagumkan. Tapi apa yang dilakukan Rasulullah dengan menjaga kebersamaan dalam suka dan duka, terlebih lagi bagaimana beliau melayani para sahabat dengan tangannya sendiri adalah lebih menakjubkan. Inilah Nabi, penghulu alam semesta. Maka beliau pun menjadi pelayan yang paling rendah hati bagi sesama.

🌹🌹🌹

Dikutip dari Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A. Fillah

a.n

Masya Allah, ya, Rasulullah... :'')

22/01/2018

Ketika Rasulullah TersenyumOnde histórias criam vida. Descubra agora