AidiqiChan
Di sebuah kampung kecil bernama Sialang, ada tiga anak yang hampir selalu bersama.
Rizki Pratama-yang lebih dikenal sebagai Bleng, anak yang hobinya bikin masalah.
Aisyah Nuraini-si Kucir, gadis tomboy yang tidak takut kepada siapa pun.
Dan Fadli Ramadhan-Sudin, anak pendiam yang lebih suka berpikir daripada bicara.
Mereka bertiga tumbuh di Surau Tobiang Pulai. Di sanalah mereka belajar mengaji, belajar silat, bertengkar, bermain, membuat Kesalahan, lalu berdamai lagi. Di sana pula mereka bertemu Datuak Patiah, seorang guru yang perlahan mengajarkan bahwa menjadi kuat bukan berarti selalu menang, dan menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah salah.
Tapi waktu terus berjalan. Tiga anak itu tumbuh menjadi remaja. Kemudian dewasa.
Mereka mulai punya mimpi masing-masing. Ada cinta yang datang. Ada jarak yang memisahkan. Ada pilihan yang tidak mudah. Ada keluarga yang harus diyakinkan. Ada kegagalan yang harus diterima.
Dan untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa menjadi sahabat bukan berarti harus selalu berjalan di jalan yang sama. Kadang seseorang harus pergi. Kadang seseorang harus melepaskan. Kadang seseorang harus memilih.
Tapi sejauh apa pun mereka berjalan, ada satu tempat yang selalu mengingat mereka. Sebuah surau tua di bawah pohon pulai di tepi tebing tempat semuanya bermula. Tempat mereka belajar tentang persahabatan, keluarga, cinta, kehilangan, tanggung jawab, dan arti menjadi manusia.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita pergi. Tapi apakah kita masih tahu jalan pulang.
Anak Surau Saribu Akal - Satu cerita tentang tumbuh dewasa, persahabatan, keluarga, cinta, dan sebuah tempat sederhana yang tidak pernah benar-benar berhenti menunggu.