Bab 6

47.7K 899 4
                                    

Jangan lupa vote dan komen teman-teman:)
Jangan jadi siders doang ya.

Happy reading.

💐

Devano berjalan dengan kedua sahabatnya di samping kanan kiri.

"Hai Kak,"

"Hai cantik," balas Daniel menyapa lalu mengedipkan sebelah matanya membuat siswi itu memekik tertahan.
Daniel mendekati siswi itu lalu mendekatkan bibirnya ke telinga cewek itu. "Lo cantik. Kalau mau kenalan sama gua, dm aja. Nanti gua atur tempat kita ketemu." sebelum benar-benar menjauhkan kepalanya, Daniel terlebih dahulu mengecup pipi cewek itu singkat.

Siswi dengan rambut indah panjang terurai bebas itu tersenyum lalu mengangguk semangat.

"Semua lo embat anjing," tukas Gerry.

"Iri bilang bos hahaha!"

"Dih si asu," tukas Gerry.

"Gimana lo sama si cewek baru?" tanya Daniel.

"Gak ada yang mustahil di kamus gua,"

Gerry menoleh kepada Devano. "Lo udah jebolin?"

Devano tersenyum. "Done."

"Wah parah. Lu santet ya? Bukannya dia ogah-ogahan sama lo?" tanya Daniel.

"Kepo banget lo anjing,"

"Dih monyet!"

***

Seorang gadis dengan wajah pucat tertidur pulas di atas brankar di uks. Dari jam pertama hingga kini bel istirahat sudah berbunyi dia sama sekali tak terganggu dan tetap tidur.

Rasa sakit di kepala maupun sekujur tubuhnya membuatnya tak kuasa menahan kantuk.

Hingga suara derit pintu berbunyi. Seorang cowok bertubuh tinggi dengan jas putih melekat indah di tubuhnya memasuki ruangan.

Ia menaikan sebelah alisnya menatap seorang cewek tertidur di atas brankar. Sangat jarang ada yang berada di uks saat jam istirahat. Karena biasanya saat jam pelajaran lah uks biasanya penuh karena banyak murid membolos pelajaran dan saat istirahat semuanya berhamburan keluar.

Raka— ketua pmr SMA Mahendra. Raka berjalan mendekati Alexa dan sedikit terkejut melihat wajah gadis itu yang sangat pucat.

Raka mengulurkan tangannya dan memegang dahi Alexa. "Engga demam,"

"Eungh..."

Alexa bergerak dengan dahinya yang berkerut. Raka cepat-cepat melepas tangannya.

Melihat kedua mata Alexa sudah terbuka sempurna tapi tampak sayu, Raka mengulas senyum.

"Hai,"

"Eh. Hai," ujar Alexa hendak bangun tapi ditahan oleh Raka.

"Lo duduk aja. Biar gua beliin roti dulu. Muka lo pucet. Tunggu," ujar Raka lansung berlalu tanpa menunggu jawaban cewek yang belum ia ketahui namanya.

DEVANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang