Bab 11

36.2K 731 9
                                    

Jngn lupa v&k.
Gua bakal selalu teror kalian hahaha(ketawa jahat)

💐

Hujan masih terus turun. Alexa mendongak ke atas ketika merasakan hujan tak lagi mengguyur tubuhnya. Sebuah payung hitam berukuran sedang ternyata sudah mengudara di atasnya.

"Pulang."

Dia, cowok brengsek yang sudah merenggut kehormatannya. Devano Mahendra.

"Pulang." ulang Devano menaikkan suaranya. Kini terdengar seperti bentakan. Devano sudah basah kuyub karena payungnya sudah ia pakai untuk melindungi Alexa dari guyuran hujan deras.

Bibir Alexa sudah pucat dan bergetar. Bagaimana bisa cewek ini bertahan dibawah guyuran hujan padahal terlihat jelas bahwa dia sudah ingin mati kedingingan.

"Gua gak butuh lo."

"Bonyok lo jangan lupa. Mereka ada di—"

"Ada di tangan lo!" Alexa memotong ucapan Devano sembari berdiri. Sekarang dia sudah berhadapan dengan Devano. Suara Alexa terdengar keras walau suara hujan keras. Karena Alexa berteriak. "Gua tau orang tua gua ada di tangan lo. Kehidupan orang tua gua ada di bawah kendali orang tua lo. Dan dengan seenaknya lo selalu memanfaatkan keadaan. Gua capek asal lo tau. Lo punya hati nggak? Lo mikir nggak gimana gua?"

Air mata Alexa meluruh tetapi tertutupi oleh air hujan. Alexa mendorong payung Devano hingga terjatuh.

"Lo mau siksa gua, kan? Lo mau mempermainkan gua lagi kan? Gua turutin. Sekarang kalau itu mau lo. Gua udah gak suci lagi. Dan penyebabnya itu lo. Gak ada lagi gunanya gua menjaga apa yang harus gua jaga. KALAU LO MAU SETUBUHI GUA SEKARANG TERSERAH LO! BAWA GUA SEKARANG!"

Devano menarik Alexa dengan sekali hentakan ke dalam pelukannya.

Tangisan Alexa pecah detik itu juga. Rasa sesak di dadanya kembali bergemuruh. Bukan pelukan ini yang dia harapkan. Pelukan Gilang yang dia butuhkan saat ini.

"Kak Gilang," lirih Alexa di sela-sela tangisannya.

Devano melonggarkan pelukannya kala mendengar ucapan pelan Alexa. Alexa sama sekali tak membalas pelukannya. Alexa hanya menangis sesenggukan.

"Pulang Alexa!"

Devano melepas pelukannya. Kedua tangannya dia letakkan di atas bahu Alexa. Devano menghentakkan sekali tubuh Alexa dan menatapnya lekat dengan sedikit memundukkan kepalanya.

"Lo pulang. Udah malem, ntar lo sakit. Gua gak mau lo sakit,"

Alexa mengangkat kepalanya. Ia menatap Devano.

"Karna gua masih butuh lo."

***

"Gimana-gimana?"

"Minggu depan aku ke Jakarta. Mau nengok kamu. Aku kangen,"

Mata Alexa membulat. Pupil matanya membesar seolah ingin keluar.

"Kak serius?" tanya Alexa kaget sekaligus senang bukan main. "Eh, tapi Tante Safira gimana?"

"Mama udah baikan, kok. Udah pulang malah. Kecapean doang,"

DEVANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang