Bab 21

31.3K 1.2K 421
                                    

Happy reading

"Lo tadi kenapa dah, Xa?"

Alexa yang baru saja memasuki kelas dan duduk di kursinya tersenyum tipis ke arah Angel yang menatapnya khawatir.

"Gua kaget lo tiba-tiba pergi gitu aja," ujar Angel lagi.

"Gua gak papa kok, santai aja kali," ujar Alexa.

"Seriusan lo gak papa?"

Tatapan Alexa kini beralih kepada Putri. Cewek itu pun tersenyum sembari mengangguk meyakinkan.

Putri ikut mengangguk lalu kembali fokus pada ponselnya tak memperdulikan Alexa dan Angel lagi.

"Alexa!"

Fokus seisi kelas teralihkan kala mendengar panggilan dengan suara berat itu.

Alexa menoleh ke arah pintu. Devano dan temannya Gerry berdiri di ambang pintu.

Putri menoleh ke arah Alexa sekilas, lalu kembali memperhatikan Devano yang mulai berjalan menuju meja Alexa.

"Lo balik. Biar gua anterin pulang," ujar Devano.

"Kenapa gua harus pulang?" tanya Alexa bingung.

"Lo sakit. Udah gua izinin, buru,"

Alexa menggeleng cepat. "Gak, gua ga kenapa-napa. Tadi cuman pusing doang, lo pergi aja."

Devano memegang pundak Alexa membuat gadis itu meringis pelan karena Devano memegangnya kuat.

"Ayo pulang."

Alexa menatap Devano dalam. Wajah pria brengsek ini tersirat kekhawatiran. Dengan berat hati, Alexa mengangguk singkat membuat Devano tersenyum tipis.

Perlakuan bahkan raut wajah Devano tak lepas dari perhatian Putri. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik pria itu. Nafasnya sesak, dadanya terasa nyeri. Walau sudah tau bahwa Devano adalah lelaki tidak benar, entah mengapa, hatinya tetap tak bisa membenci Devano.

Tapi semua ini tetaplah kesalahan Alexa. Mungkin, jika gadis perusak itu tidak datang, semua akan berjalan dengan keinginannya. Maka dari itu, yang perlu disingkirkan saat ini adalah Alexa. Setelah itu, Putri dapat bersama Devano. Tidak ada si Alexa perusak lagi nantinya.

Devano memasukan seluruh buku-buku serta alat tulis Alexa ke dalam ransel biru muda itu. Setelahnya, cowok itu membawa tas Alexa dan sebelah tangannya lagi menarik tangan gadis itu keluar dari kelas.

"Duluan ya Put, Njel," ujar Alexa tak lupa pamit dengan kedua temannya.

Angel mengangguk sembari tersenyum begitu juga dengan Putri.

"Lo yang ngibarin bendera peperangan, Alexa."

***

"Di rumah ada siapa?"

"Ga ada siapa-siapa," ujar Alexa sembari mengambil ranselnya dari jok belakang. Baru saja ia hendak membuka pintu mobil tapi Devano sudah terlebih dahulu menguncinya.

Alexa memejamkan matanya erat dengan tangan terkepal. Ia lalu menolah ke arah kanan, tepatnya menatap Devano dengan wajah tanya.

Devano menatap datar Alexa, membuat gadis itu mengerutkan dahi bingung.

"Gua mau keluar, kenapa lo ngunci?"

Devano memajukan wajahnya ke arah Alexa, gadis itu memundurkan kepalanya membuat sebelah tangan Devano menahan dagu gadis itu.

DEVANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang