Bab 4

54K 1.1K 33
                                    

Jangan lupa vote dan komen:)

💐

"Lo lupa apa yang gua bilang tadi?"

Alexa terdiam. Sumpah demi apa pun dia sangat bingung sekarang.

Jika ia menolak Devano, maka perusahaan orang tuanya tidak sedang baik-baik saja.

Jika ia menerima, orang tuanya akan baik-baik saja. Tapi, dia lah yang tidak akan baik-baik saja.

"Udah lah lo juga pernah kan lakuin ini?"

Seakan tuli, Alexa masih diam. Bergulat dengan pikirannya.

"Ck, lama. Gua anggep diem lo iya," ujar Devano lalu membuka kancing seragam sekolah Alexa.

Lagi-lagi kedua tangan itu ditahan.

"Lo bakal apain gua?"

Devano menyeringai. "Sesuai apa yang ada di pikiran lo."

Gua gak bisa egois. Mau gimana pun gua gak bisa biarin papa sama mama jatuh lagi. Tapi gua gak mungkin relain hidup gua untuk cowok yang bahkan baru gua kenal dua hari.

"Nikmatin aja. Kalau lo nurut, gua pastiin perusahaan bonyok lo gak akan kena masalah sampe jangka waktu panjang," ujar Devano.

Alexa menggigit bibir bawahnya.

Cup.

"Lo---"

"Siapa suruh ngegodain," ujar Devano. Cowok itu lalu beranjak dari posisinya. Ia duduk di samping Alexa yang ternyata juga sudah duduk.

Devano melipat kedua tangannya di depan dada. Ia dengan wajah angkuhnya menatap ke depan.

"Gua sibuk. Lebih cepat lebih baik," ujar Devano dengan tampang datar.

Alexa bingung. Apa pun yang akan dia pilih, Alexa sudah siap.

"Lakuin sesuka lo."

Devano terkejut sembari menoleh menatap Alexa yang menunduk. Sedetik kemudian ia merubah raut wajahnya kembali angkuh. Devano berdehem menetralkan diri.

"Gua gak maksa ya," ujar Devano seolah akan tau jika Alexa pun tak akam pergi begitu saja.

Gua pasrah.

"Lakuin,"

Devano tersenyum dan langsung mencium Alexa. Devano kembali membaringkan Alexa di atas sofa panjang berwarna abu-abu itu. Kedua tangannya sudah membuka seluruh kancing seragam milik Alexa menyisakan tanktop hitam dengan bra yang hitam pula.

Alexa memejamkan matanya erat. Sebentar lagi, ia akan kehilangan semuanya.

Ciuman Devano turun ke leher putih Alexa. Ia sesekali mengigitnya meninggalkan tanpa kepemilikan.

Devano menyikap tanktop Alexa meninggalkan bra hitam gadis itu.

Alexa tetap memejamkan matanya.

Untuk pertamakalinya Alexa seperti ini. Sumpah demi dirinya sendiri dia sangat malu.

Devano kembali mencium Alexa sembari meremas payudarah cewek itu yang masih berlapis bra. Sangat pas di tangannya seolah dua gundukan itu memang ditakdirkan untuk Devano pegang. Tidak terlalu kecil, juga tak besar.

Kedua tangan Devano menyusup ke punggung Alexa. Melepaskan pengait bra Alexa dan melepasnya.

Kedua tangan Alexa membentuk silang menutupi payudaranya. Ia bahkan sangat malu untuk melihat wajah Devano.

DEVANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang