Bab 1

95.7K 1.4K 34
                                    

Sebelumnya udah tau kan cerita ini tentang apa sebelum membaca?

Okay happy reading.

💐

"Lo gamau coba?"

Cowok yang lengannya sedang digelenjoti seorang perempuan melirik ke bawah. Tepat di wajah perempuan cantik itu.

"Sok bohay lo," tukas cowok itu.

"Lo gak tau ya gimana gua? Lo bisa coba baru nilai,"

"Biar apa lo begini?"

"Gua pikir lo suka gini,"

"Jamin lo bakal bisa puasin gua?"

"Why not? Nggak ada salahnya nyoba,"

Cowok itu tersenyum miring. Ini yang ia inginkan, seorang perempuan lah yang harus menyerahkan diri kepadanya.

"Yaudah sih ga ada salahnya lo coba Van. Siapa tau bisa bikin lo puas," celetuk salah seorang cowok yang rambutnya sudah lumayan panjang tetapi malah menambah kesan ketampanannya.

"Gile sih. Kalau jadi lo udah gua seret ke hotel," kata temannya yang satunya lagi.

"Just Devano. Lo berdua gak bisa nyoba gua,"

"Buset!"

***

"Ahhh shit! Van ehmm ahhh!"

Savira Frawati. Cewek yang kini mendesah nikmat itu memejamkan matanya erat. Menikmati setiap genjotan yang diberikan oleh Devano.
Sebenarnya gudang bukanlah level Devano. Tetapi Savira yang selalu menempelkan dua gunung kembarnya di lengannya membuatnya tak kuasa menahan hasratnya.

"Shit!" umpat Devano mempercepat temponya.

Plok

Plok

Plok

Suara tubrukan antara kulit menggema di dalam gudang. Devano sama sekali tak merasa takut karena dia sudah menyuruh kedua sahabatnya untuk berjaga di depan pintu. Tentu saja tidak gratis.

"Ahh ahhh ohh yeah... Devano ahh lo ahhh... "

Devano meremas payu darah Savira. Cowok itu melepas miliknya disaat dia sudah mencapai pelepasan. Tentu saja Devano tak akan menyemburkan benih dengan sembarangan.

Devano kembali mengarahkan penisnya ke lubang milik Savira. Devano menggesekannya naik-turun tapi tak kunjung memasukannya.

"Van plis argh!"

Kekehan sinis Devano terdengar. Dia sengaja memancing Savira. Menyiksanya sebentar saja.

Savira mengangkat tubuhnya dan langsung mengambil alih junior milik Devano. Tanpa diperintah Savira memasukannya sendiri ke dalam miliknya.

Devano terduduk di lantai dengan Savira yang kini dipangkuannya. Devano membiarkan Savira yang bermain.

Ahh lihatlah bagaimana lihainya cewek itu.

Savira menaik turunkan bokongnya. Di posisi saat ini junior milik Devano terasa tertanam penuh di miliknya.

"Ahh... " Devano mendesah sembari mendongak.

Savira tersenyum. "Ahh shh ahhh... "

"Devano ahhh ehmm... "

Cairan bening kental keluar dari lubang milik Savira setelah ia melepas penyatuan. Baik Savira dan Devano sama-sama mendapatkan pelepasan.

Devano meremas kedua payudara Savira keras hingga membuat Savira memekik tertahan lalu digantikan dengan desahan.

"Tetek lo gede banget Vir. Udah berapa cowok yang pegang?" tanya Devano di sela aktivitasnya.

"Gatau ahh... "

Devano berdecih sinis. "Lo bahkan gak senikmat yang gua pikirin,"

"Masa sih?"

"Coba puasin gua," tantang Devano sembari melepaskan remasan pada gunung kembar itu. Ia terduduk di lantai dengan kaki terbuka lebar serta kedua tangan terletak di sisi kanan dan kirinya menumpu tubuhnya sendiri.

Savira beralih pada penis Devano yang terlihat menegang dan besar. Bahkan berakar. Ia menyentuhkan lalu menggemnya. Perlahan Savira mulai menaik turunkan tangannya.

Kepala Savira menunduk. Ia mulai mengulum penis besar itu. Kepalanya bergerak naik turun.

"Shh ahh... " Devano mendesah sembari mendongak. Kini sebelah tangannya bahkan sudah berada di atas kepala Savira membantu cewek itu untuk mempercepat temponya.

Savira mengangkat kepalanya ketika mulutnya terisi oleh sperma milik Devano. Cewek itu berdiri lalu duduk di atas pangkuan Devano. Savira merangkangkan kakinya hingga miliknya dan junior Devano bersentuhan. Savira mencium bibir Devano. Daripada tangan Devano menganggur ia pun memilih untuk meremas sebelah payudara Savira. Sebelah tangannya lagi bergerak memainkan vagina Savira.

"Eunghh... " Savira mendesah di sela ciumannya.

Di rasa oksigen mulai menipis Savira pun melepas ciumannya. Ia menunduk menatap penis Devano yang tetap berdiri tegap. Ia menyentuhnya. Bokongnya ia angkat sedikit agar memudahkan ia memasukan milik Devano.

"Ahhh... " Savira mendesah panjang begitu milik Devano sudah masuk sempurna ke dalam lubang miliknya.

Savira bergerak pelan. Ia memutar pinggangnya sembari menggigit bibir bawahnya.

"Gua aja lo lambat," kata Devano lalu mulai menaik turunkan pinggulnya.

"Ahh ahhh emhhh ahhh... " Savira mendesah kencang. Penis Devano sungguh nikmat di dalam sana. Temponya pun sangat cepat membuat Savira merasakan sakit dan nikmat di waktu yang bersamaan.

"Fuck ahhh ahh Devano ahhh..."

"Ahh," Devano mendesah sembari melepaskan penisnya. Ia mendorong Savira pelan hingga kini cewek itu sudah duduk di atas lantai dan bersender di dinding. Nafasnya memburu serta keringatnya sudah bercucuran.

"Thanks. Gua nikmatin permainan lo." Devano meraih pakaiannya dan mulai memakainya.

"Gua duluan. Lo bisa gua tinggal kan?"

****

DEVANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang