Clara mengedarkan pandangan ke segala sudut ruangan, yang terpajang pigura besar di dinding berwarna putih itu. Tampak sekilas senyuman bahagia, terpancar dari wajah yang berada di pigura tersebut. Seperti sebuah keluarga yang hangat, dan lengkap. Clara tertuju pada Gavin, yang berdiri tegak di samping seorang gadis cantik di sana. Sementara itu, kedua orang tuanya berada di sisi mereka.
Sesaat, seorang gadis yang berada di samping Gavin pun datang, memasuki ruangan apartement itu. Dengan wajahnya yang penuh ceria, dan senyuman lebar. "SHALOM!" salamnya, dengan penekanan.
"Kak Gavin, ini siapa?" tanyanya lugu, memandang Clara canggung.
"Dia Clara, pacar Kakak." Gavin membuat gadis itu langsung mengulurkan tangannya, dengan senang hati Clara menerima tangan itu. "Hallo, Kak! Aku Gloria, panggilannya Glo. Adiknya Kak Gavin, salam kenal, ya!" serunya membuat Clara tersenyum.
"Hai, Glo!" balas Clara. Namun, perempuan tua yang masih duduk termangu di sofa, membuka suara dengan intonasi tinggi.
"Glo, masuk ke kamar! Cepat!" suruhnya, sehingga jabatan tangan itu pun terlepas.
Perempuan tua itu, menatap Clara penuh benci. "Pergi kamu dari rumah saya, dan tolong jangan mendekati Gavin lagi!"
"Pergi!!"
"Ra, sebaiknya lo tunggu di luar dulu, ya. Biar gue ngomong sama Oma," lirih Gavin membuat Clara mengangguk, lantas ke luar dari ruangan itu. Namun, Clara masih bisa mendengar percakapan di antara Gavin dan Oma-nya dari balik pintu.
Clara merunduk lemah, kemudian meraih kalung yang tergantung di lehernya. Mengusap liontin itu, dengan napas yang berkali-kali ia embusan. Rasa sesak pun kembali dirasakan olehnya, saat kalimat perjodohan terdengar begitu jelas dari dalam ruangan.
"Oma, sudah punya jodoh buat kamu, Gavin."
"Oma, Gavin ini udah besar. Gavin, berhak menentukan pasangan sendiri. Jadi, Oma nggak perlu menjodohkan Gavin, ya. Karena Gavin, udah mencintai Clara."
Hanya suara lembut itu yang terakhir Clara dengar, hingga beberapa saat Gavin membuka pintu dan keluar. "Gue anter lo pulang, ya," ujar Gavin menatap sendu, Clara yang terus saja merunduk.
Tangan Gavin menggandeng pergelangan tangan Clara, mereka berdua berjalan berdampingan memasuki lift. Kecanggungan lagi-lagi menimbulkan jarak, yang menuai keheningan di antaranya. Sesampainya di rumah Clara, masih tidak ada perbincangan.
Gavin menelan ludah, tampak jakun yang naik-turun. Lalu, membasahi bibirnya dan menoleh ke Clara. "Udah sampe, Ra."
"Vin, maafin gue, ya," ujar Clara memberanikan diri untuk memulai perbincangan itu.
Gavin diam, tetap memandang Clara. Lantas, Clara pun mendongak supaya dapat menangkap wajah Gavin. "Gara-gara gue ngajak lo pacaran, lo jadi dimarahin Oma lo. Dan, harusnya gue sadar. Kalo kita beda, kita nggak mungkin bisa bersama," ujar Clara berkaca-kaca.
"Justru, dari perbedaan itu kita bisa merasakan keistimewaan, Ra. Bukannya gue nggak peduli sama keyakinan yang kita anut, tapi gue percaya sama jalan takdir Tuhan. Kalaupun iman kita berbeda, seengganya kita bisa melewati hari-hari berdua 'kan?"
Kali ini Clara dibuat tertegun akan perkataan Gavin, bola mata yang sudah berkaca-kaca. Mulai meneteskan cairan bening ke pipi, sepertinya menangis adalah suatu kebiasaan bagi Clara. "Sekarang, gue mau kenalan sama orang tua lo. Karena tadi 'kan lo udah kenalan sama Oma," ucap Gavin membuka pintu mobil, dan beranjak.
"Gue nggak yakin, bokap sama nyokap setuju sama hubungan ini," gerutu Clara masih di dalam mobil.
"Ra, ayo," ajak Gavin membuka pintu mobil untuk Clara, lalu mereka berdua pun memasuki rumah yang sangat besar dan selalu terlihat sepi.
"Assalamualaikum," salam Clara dengan suara lemah.
"Clara dari mana aja kamu?!" tanya Reinald yang seharian berada di rumah karena akhir pekan, ia langsung menghampiri Clara di dekat pintu saat masuk ke rumah bersama laki-laki.
"Dia bukannya cowok yang waktu itu dapat donor jantung dari Haruto?" tanyanya kemudian.
"Iya, Pah. Namanya Gavin, dia pacar Clara."
Carisha yang sedang duduk di ruang tengah, langsung mendekat. "Pacar kamu?"
Gavin tersenyum, mencoba untuk menarik perhatian orang tua Clara. "Selamat siang, Om, Tante. Saya Gavin Adijaya."
"Clara, kamu ini jadi anak nggak pernah benar dari dulu, ya. Semua hal yang kamu lakukan, selalu membuat papah sama mamah malu. Terlebih lagi, kamu sering membantah perintah papah sama mamah, untuk belajar dan fokus ke pendidikan kamu sekarang. Kamu justru asik berpacaran, dan ganti-ganti pasangan terus," hina Reinald.
"Sayang, mamah nggak habis pikir sama kamu. Seharusnya, kamu bisa cari laki-laki yang tepat buat kamu. Kalo memang kamu nggak mau melanjutkan pendidikan, untuk menjadi seorang dokter. Setidaknya, kamu cari laki-laki yang pantas buat kamu."
"Dulu kamu pacaran sama Haruto, laki-laki berandalan yang nggak berkelas sama sekali. Dia cuman bisanya buat masalah di sekolah, dan dia sama seperti kamu yang hobinya main, bukan belajar. Terus sekarang, tiba-tiba kamu bawa laki-laki lain dan kamu kenalkan ke mamah sama papah, sebagai pacar kamu?" lanjut Carisha.
"Memangnya kenapa sih, Mah? Haruto itu baik buat Clara, dia bisa menjaga Clara, kasih perhatian penuh ke Clara dan menyayangi Clara dengan tulus. Semua yang nggak Clara dapatkan dari Mamah sama Papah, bisa Clara dapatkan dari Haruto. Dan, sekarang Haruto justru pergi meninggalkan Clara untuk selamanya. Apa salahnya Clara mencoba move on, dengan pacaran sama Gavin. Lagian, Gavin juga cowok yang baik. Dia suka buku, rajin belajar dan cita-citanya jadi pengacara. Jadi, Gavin itu cowok yang tepat buat Clara."
Flora tiba-tiba menimpali, seraya menuruni anak tangga untuk menuju ke dapur. "Iya, kak Gavin emang keliatannya kutu buku, ketua OSIS yang bisa diandalkan. Tapi, di belakang dia sama aja kaya cowok yang lain. Cowok mesum!"
"FLORA!! JAGA OMONGAN LO!" murka Clara penuh tekanan.
"Clara! Kamu yakin, mau mempertahankan hubungan kamu dengan cowok ini?" tanya Reinald. "Setelah hubungan kamu dan Haruto dipisahkan oleh maut, hubungan kamu dan cowok ini pasti akan dipisahkan oleh iman," imbuhnya.
"Ahm ... maaf, Om, kalung ini cuman hiasan aja kok," sambar Gavin langsung melepas kalung di lehernya, dan dimasukkan ke saku celana.
"Kamu nggak perlu beralasan lagi, kamu juga nggak perlu menutupi keyakinan kamu itu. Karena Om sangat tahu, kalau keyakinan kalian berdua itu berbeda. Jadi, Om, mohon sama kamu. Jauhi Clara mulai sekarang, karena setiap hubungan selalu berlandaskan dengan keyakinan yang sama."
"Tapi, Pah. Kita berdua baru aja pacaran, dan Clara juga nggak perduli sama keyakinan kita yang beda. Nggak semua hubungan harus satu keyakinan, nggak setiap hubungan juga harus ada persamaan, pasti akan ada juga perbedaannya, Pah."
"Clara, mungkin saat ini kamu belum paham. Tapi pelan-pelan pasti kamu akan paham, sama keputusan yang kamu ambil ini. Sekarang, kamu pikirkan baik-baik. Dan, untuk kamu Gavin. Silakan pulang, terima kasih sudah mengantarkan Clara," ucap Carisha pelan.
"Maaf, ya, Tante, Om, kalo memang kedatangan saya ke sini, udah menganggu ketenangan Tante dan juga om. Tapi, saya benar-benar mencintai Clara, saya berharap Tante sama Om bisa merestui hubungan kita berdua."
Sebelum Gavin benar-benar pergi dari rumah itu, Reinald kembali membuka suara yang ditujukan pada Gavin. "Bukannya Om juga udah menyuruh kamu buat menjauh dari Clara? Tapi, kenapa kamu tetap mendekati Clara, padahal kamu sudah memberikan kalung pemberian dari Haruto ke Clara 'kan?"
"Apa maksud Papah?!" tanya Clara membulatkan bola matanya, menatap Reinald.
***
Aku mau kalian kasih komentar, tentang hubungan yang beda agama. Tulis pendapat kalian, ya di kolom komentar hihihi
Terima kasih sudah membaca sampai sini, maaf bab ini sengaja dibuat sedikit :) Jangan lupa vote dan share juga, ya. Bye!