DIFFERENT to be SPECIAL || TR...

Von Nonasenduu

3.3K 424 125

[ SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !! ] Clara Maurine Nasution, yang memiliki catatan buruk... Mehr

COMEBACK!
P r O l O g
-Main Character Introduction-
-Extra Character Introduction-
01. Favorite Girl; Jervanos Gang's
02. Spoiled Action!
03. Sold Out
04. Girlfriend Day?
05. Falling In Love
06. The Annoying Man I know
07. I Hate You, But ...
08. Bad Boy and Bad Girl
09. The Third Meeting, is it Fate
10. Punishment is Coming
11. I Don't Want You to Get Sick, Baby!
12. Good Fairy My Destiny ?
13. I L Y 50%
14. Baby, don't Cry Tonight
15. Just this Time I'm Crying
16. Bad Day
17. She Is Mine
18. Don't Touch Mine
19. Dreams Come True
20. Dating
21. Flashback
22. Additional Character in My Life
23. Happy Sun-Day
24. Everything is Just For You
25. TROUBLE MAKER
26. I'm Crazy For Love
27. Intoxicating First Kiss
28. Planing; to go
29. SUNMORI
30. Can I Love You?
31. Just One Day; I Enjoy It
32. It's You; My First Love
33. I Miss You BoyFriend?
34. Give it To Me
35. SOULMATE ♡
36. Happiness
37. Pretty U
38. Not Alone; You With Me
39. I Wish; You Okey ^^
40. Because of You!
41. Night and Rain
42. CRUSH <3
43. BFF
44. My Possesive Boy
45. One Day With Freedom
46. Room Party
47. Imperfect Love
48. Camping Trip
49. Love is Not Over
50. I Need U
51. TRAUMA
52. Thank's For Sorry
53. Forget Me Not
54. Do Re Mi; Miss You
55. Until Finally You Love Me
56. You Never Walk Alone
57. I Wanna Stay With You
58. It's Not Like That Honey
59.Power of Love
60. People; EGO
61. Cry For Love
62. Remember to Memories
63. Sweet Day With You
64. I L Y 80%
65. Like The Beginning
66. Come to Me
67. Be With Me
68. You Look Handsome?
69. Step by Step
70. Not Today
71. You are Here, with Me
72. My Love Still Goes On
73. Anti-Romantic
74. Everyday About Love
75. Maybe, I Love You
76. You Are Different to Me
77. Nothing is Special
78. Thank You For Being Born
79. You Understand Me Better
80. You My Purpose
81. Class Promotion Test
82. Ex-Boyfriend's Arrival
83. I'm Just Disturbed not Jealous
84. What Do You Thing?
85. Lie Again; Let Me Hear You Say
86. Holiday With Friends
87. How Do You Feel About Me?
88. With the Two of us, The World is Nothing Scary
89. What Are We ....
90. ILY 100%
91. Just One Day, Hold Hand Me
92. Hug Me on My Birthday :3
93. Second Kissing?
94. Ride to Die
95. Even If I Die, For You
96. Don't Leave Me, Haru!
97. Very Hard Day for Me
98. To Me You are Very Preciuos
99. Don't Fight the Feeling
100. Happy Ending
101. Don't do That to Me
102. I Think Always About What I Should Do
103. Ideal Type; Must be Perfect?
104. So That You Love Me?
105. You Can Lean on Me
106. I'm Still Lonely Without You
107. Savage Love
108. That Weird Guy Is Him
109. Why Are You Keeping Our Distance?
110. I Fall in Love With You Again
111. I Want to Know All of You
113. I'm Getting Confused About You
114. New Girlfriend
115. We Might be Different Now
116. What Kind of Future?
117. But, You're My Miracle
118. LOVE or GOD ?
119. Would You Still Love Me This Way?
120. Baby, I'm Going to be Your Happines

112. Because of You, Each Day is Beautifull

8 2 0
Von Nonasenduu

"Hoam!" Tidak seperti biasanya di hari libur, Clara sudah bangun lebih awal. Ia menguap lebar, sembari menuruni anak tangga.

"Kalian mau ke mana?" tanya Clara bingung, mendapati keluarganya yang sudah bangun, dan bersiap.

"Mau olahraga dong," jawab Flora ceria.

Carisha yang selesai mengikat tali sepatu, langsung mendekati Clara. "Kamu kamu mau ikut olahraga nggak?"

"Oke, sebentar Clara siap-siap dulu." Clara pun bergegas memasuki kamarnya kembali, untuk mengganti pakaian dan mengambil sepatu kets miliknya.

Lantas, Carisha melempar pandangan pada Flora dan Reinald, yang duduk di ruang tengah. "Biasnya jam segini masih belum bangun 'kan, Kakak kamu, Flo?" tanya Reinald.

"Kebonya kabur kali, Pah. Jadi bisa bangun pagi," balas Flora telah mengundang kedatangan Clara. "Nggak usah bawa-bawa kebo gue, mau gue bangun pagi apa siang. Ya, terserah gue. Ini 'kan hari Minggu, jadi bebas dong," timpalnya.

"Yaudah ayo, ambil sepedanya di garasi," ujar Reinald berdiri, sembari merapikan pakaiannya.

"Kenapa pake sepeda?" tanya Clara bingung.

"Kita mau keliling taman yang ada di kompleks sebelah, jaraknya jauh jadi Mamah nggak sanggup kalo jalan, apalagi jooging."

"Sepeda juga bisa buat olahraga kaki 'kan, Kak? Lagian, nanti Flora mau mampir ke pantai Ancol. Mamah sama Papah nggak usah ikut, ya. Soalnya, Flora udah lama banget nggak sepedaan di sekitar pantai," ujarnya.

"Iya, terserah kamu aja. Yang penting sekarang ambil sepedanya dulu."

Pukul 05.45 pagi.

"Clara, ayo!" ajak Carisha memandang Clara yang masih diam di tempat, sementara Flora dan Reinald sudah lebih dulu pergi, menggunakan sepeda mereka masing-masing.

"Tinggal aja, Mah, nanti Clara nyusul," katanya membuat Carisha mengangguk, lalu menaiki sepeda itu dan berlalu pergi.

Clara kembali mematung, menangkap sebuah sepeda di hadapannya. Ia melangkah mendekat, lalu memegang jok belakang sepeda itu. Ia teringat, jika dulu sepeda itu sudah bukan menjadi miliknya. Namun, saat ini justru kembali padanya.

Perbincangan itu terlihat jelas pada pandangan Clara, yang mengakibatkan sepeda itu kembali menjadi miliknya.

"Lo ngapain di rumah gue?"

Haruto tersenyum, memandang kedatangan Clara. "Liat ini, udah bagus 'kan?"

"Gue udah benerin sepeda punya lo, karena lo udah kasih sepeda ini buat gue, dan lo juga yang pertama kali mengajari gue bersepeda."

"Kenapa nggak dibuang aja? Bukannya sepeda itu udah rusak?"

"Gue nggak bisa membuang sesuatu, yang memiliki kenangan indah kita berdua, Ra," ucap Haruto kala itu, sehari setelah pesta ulang tahun Clara.

"Jadi, ini hadiah dari gue buat ulang tahun lo. Maaf, kalo telat kasih hadiahnya. Maaf juga, karena cuman ini yang bisa gue kasih buat lo."

"Jangan lupa dipakai, ya. Walaupun udah keliatan tua, tapi sepeda ini masih kuat loh, buat dibawa ke mana pun," lanjutnya sambil mengusap puncak kepala Clara. Kemudian, Haruto pergi begitu saja.

"Haru, makasih, ya," ucap Clara kali ini, tanpa bisa Haruto dengar. Cairan bening pun hampir saja terjatuh, tetapi tangan Clara lebih dulu menyekanya. Lantas, Clara pun menaiki sepeda tersebut, mengayuhnya ke luar rumah.

Namun, saat ia akan menutup pintu gerbang. Seseorang telah mengusiknya, dengan sahutan berkali-kali. Sehingga, Clara menoleh. "Lo sejak kapan ada di sana?" tanyanya mendekat.

"Barusan," jawabnya singkat.

"Terus, mobil lo mana?" tanya Clara, membuat Gavin menunjuk ke arah seberang jalan.

Clara mengangguk, dan kembali menaiki sepedanya. "Sorry, gue mau sepedaan. Jadi, gue nggak bisa ikut lo pergi, Vin."

"Kalo gue yang ikut lo, gimana?" Pertanyaan itu, membuat Clara diam. Sehingga, Gavin langsung mengambil alih stang sepeda itu.

"Gue yang bawa sepeda, ya," ujar Gavin.

Clara tidak bisa menolak, ia mengikuti permintaan Gavin. Supaya ia yang mengendarai sepeda, sedangkan Clara membonceng di jok belakang. "Lo kenapa ke rumah gue pagi-pagi banget?"

"Gue sengaja, karena mau ajak lo ke pantai," ujarnya terus mengayuh sepeda itu, untuk menuju ke pantai.

Clara melipat bibir bawahnya, ia berusaha untuk menyeimbangkan tubuh supaya tidak terjatuh. Dengan kedua tangan yang berpegangan pada jok belakang, tanpa Gavin ketahui. Suasana pagi, dengan angin yang berembus spoi-spoi. Tidak mengalihkan pandangan Clara, pada pemandangan jalan yang teramat sepi.

Hingga, sepeda itu berhenti mendadak di tepi jalan dekat pantai. Gavin meminta Clara untuk turun, dan langsung mengajaknya memasuki area pantai. Dengan pasir-pasir putih, yang sudah menyelinap masuk di sela-sela jari kaki. Begitu juga deru ombak, yang menyambut kedatangan mereka berdua.

Gavin dan Clara berdiri bersebelahan, dengan tujuan bola mata mengarah pada langit biru, yang akan terang seketika matahari menampakkan diri, dari balik gumpalan awan. Senyuman merekah tampak di kedua sudut bibir Clara, bola matanya menatap kagum sinar keemasan sang fajar.

"Ini kali pertama buat gue, melihat matahari terbit. Kalo lo gimana?" tanya Clara menoleh ke arah Gavin, yang diam memandang deburan ombak.

"Ini bukan kali pertama buat gue, melihat matahari terbit. Tapi, ini kali pertama gue melihatnya sama lo," jawab Gavin membuat pipi Clara merona.

"Kalo gitu, ayo buat permohonan," ajak Clara kembali menatap matahari terbit, dari ufuk timur.

"Gue nggak percaya sama mitos."

"Gue tau kalo itu cuman mitos, tapi apa salahnya mencoba?" Lantas, Gavin pun mulai menutup kedua matanya. Disusul oleh Clara, dengan mata yang sudah terpejam.

Kemudian, Clara membuka matanya, dan langsung menoleh ke samping. "Apa permohonan lo?"

"Lo?" tanya Gavin balik, seraya membalas pandangan Clara.

Clara tersenyum. "Rahasia."

"Kalo gitu, gue juga rahasia," timpal Gavin membuang pandangannya.

"Ayolah ...," rengek Clara.

Akhirnya, Clara mengalah untuk memberitahu Gavin lebih dulu. "Oke, permohonan gue. Itu bisa menikmati hidup secara bebas dan bahagia, selama satu tahun."

"Kenapa cuman selama satu tahun?" tanya Gavin memandang Clara lagi.

"Karena kita nggak tau, bisa hidup lebih lama atau nggak 'kan? Kita juga nggak akan hidup selamanya, dengan kebebasan dan kebahagiaan," jawab Clara dengan bola mata yang menelisik ombak-ombak yang menggulung.

"Sekarang, apa permohonan lo?" tanya Clara masih belum melupakan itu.

"Entahlah, gue nggak akan memberitahu lo." Gavin pun langsung berlari pergi, untuk menjauh dari Clara.

"Hei, Gavin! Jangan licik, gue udah kasih tau permohonan gue. Jadi, sekarang gantian lo yang kasih tau!" teriak Clara mengejar Gavin dari belakang, seraya merunduk karena pasir pantai membuat kakinya susah digerakan.

"Gavin, gue juga pingin tau permohonan lo tadi!" Clara mendongak, tetapi keningnya justru menabrak punggung Gavin, yang ternyata sudah berhenti berlari.

Gavin berbalik, menghadap pada Clara. "Gue berharap, bisa melihat matahari terbit bersama lo, di tahun depan dan tahun berikutnya juga."

Clara tersenyum manis, saat Gavin tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalung, dari dalam saku celananya. Lalu, memasangkan kalung tersebut pada leher Clara. Liontin yang berbentuk hati, tetapi berukuran kecil. Clara memegang kalungnya, dengan senyuman yang semakin mengembang.

"Makasih," ucap Clara memandang Gavin.

Gavin hanya mengangguk, lalu menggandeng tangan Clara untuk pergi bersama. Namun, Clara justru melontarkan pertanyaan, yang memutuskan genggaman tangan di antara keduanya.

"Tapi, kenapa lo kasih gue kalung? Kemarin, lo juga udah kasih gue ikat rambut."

Gavin berbalik, dengan tatapan sendu pada Clara. "Itu bukan kalung dari gue, Ra."

"Terus ini kalung siapa?"

"Sebelum meninggal, Haruto titip kalung itu ke bokap lo. Terus, waktu gue sadar dari koma. Bokap lo kasih kalung itu ke gue, kata Haruto itu buat lo, Ra."

"Kenapa nggak bokap gue sendiri yang kasih kalung ini, ke gue?"

"Bokap lo bilang, gue yang lebih berhak buat kasih kalungnya ke lo," kata Gavin melangkah pergi seorang diri.

Dengan syarat, gue harus menjauh dari lo, Ra, batin Gavin sambil terus berjalan, dan menjauh dari Clara.

"Gavin, tunggu!" teriak Clara mulai berlari kembali, di belakang Gavin.

Tiba di tepi jalan, dekat pantai. Keheningan membuat Gavin dan Clara merasa canggung, hingga sebuah sepeda lewat begitu saja di depan mereka, disusul dengan sepeda lainnya dari belakang.

"Flora, tunggu gue!" teriak Devano yang ternyata sedang mengejar kepergian Flora.

Flora menghentikan kakinya, untuk tidak mengayuh sepeda itu lagi. Sehingga, Devano pun ikut berhenti dan mensejajarkan sepedanya di samping Flora. "Kak, lo nggak capek apa ganggu gue terus?!"

"Gue udah pernah bilang 'kan? Kalo gue nggak akan pernah capek, selagi gue masih bisa mencintai lo."

Clara dan Gavin hanya memandang kedekatan mereka berdua, dari kejauhan. Sehingga, tidak bisa mendengar perbincangan di antara mereka.

"Ayo," ajak Gavin mengalihkan pandangan Clara, dari Flora dan Devano di sana.

"Ke mana?"

"Gue pingin ketemu sama Haruto," ujar Gavin mendadak. Tanpa ragu, Clara pun langsung menaiki jok belakang.

***

Vote + komen, Share bestie.

Terima kasih banyak, yang sudah bertahan sampai sini. Untuk membaca, dan memberi tanda bintang. Semoga, kalian sukses selalu dan dipermudahkan segala urusannya. Aamiin ... Jangan lupa tersenyum!

Weiterlesen

Das wird dir gefallen

460K 17.3K 67
18+ [UWUPHOBIA JANGAN BACA NANTI BAPER] "Lakuin segera hukuman lo dan kawan-kawan lo atau -- " "Atau apa mau cium gue? " ----------- {FOLLOW SEBELUM...
45.6K 731 50
Bukan hanya kesayangan ketua geng motor Keysha juga jadi kesayangan ketua OSIS Hari pertama sebagai murid baru di SMA ADHITAMA ia sudah terlambat ke...
6.5K 3K 27
[FOLLOW DULU SEBELUM BACA‼️] JEVARA (JEVAN AZURA) Tentang Azura dengan segala rasa sakitnya. Dan tentang Jevan yang selalu menjadi obatnya. Azura dan...
RAFAEL (END) Von zee

Jugendliteratur

159K 11.1K 46
[FOLLOW SEBELUM BACA] Rafael Danendra atau Rafael Saputra. Ketua geng Raxedaz. Sosok lelaki tampan, berwajah dingin, cerdas dalam berfikir, pemilik t...
Wattpad-App - Exklusive Funktionen freischalten