Waterfall 23

Depuis le début
                                    

"Mau makan apa?" tanya Nadia sekali lagi. sekalian memecah hening yang membekuk keduanya.

"Terserah Nenek. Tapi jangan seafood, aku alergi," jawab Shaka. Tujuannya untuk makan kali inikan agar tubuhnya tetap baik-baik saja sembari menunggu Rayyan membaik. Tidak lucu bila malah ia yang mati konyol sebelum bertemu dengan Rayyan.

"Nenek tau kok. Kan Nenek yang bawa kamu ke Rumah Sakit waktu itu. Kalau diinget-inget, Nenek jadi trauma tau," cerita Nadia, tangan kirinya mengusap-usap dada sambil kepalanya menggeleng. Sedang Shaka hanya terkekeh pelan.

"Makasih udah inget," sahut Shaka kemudian membuat Nadia menoleh ke kiri. Cucunya dengan senyum tipis membuang wajah kejendela. Baju seragamnya sudah lecek, dia juga sampai lupa membawa jaket sebenarnya ia bahkan tidak tau harus membawa apa saking paniknya.

"Rayyan juga inget, lagian siapa yang lupa?"

Kemudian Shaka menoleh, yang Nadia tangkap dari mata Shaka yang seolah berbicara meski hanya sekilas dengan senyum tanpa artinya adalah 'gak perlu aku bilang, nenek taukan?'

Dan akhirnya setelah cukup berpikir, Nadia memilih membelikan Shaka sate ayam dan membawanya pulang untuk bersih-bersih dan berganti pakaian terlebih dahulu. Kasian juga bila harus menggunakan seragam sepanjang malam. Mau sekacau apa lagi nanti bentukannya?

Rumah anaknya masih sama, hanya saja suasanaya tidak lagi sehangat dulu. Terlalu dingin hingga mampu membuat bulu-bulunya berdiri.

Dulu rumah ini dipenuhi tawa Rayyan, kedua bersaudara itu selalu berlarian mengitari seluruh rumah dengan tawa nyaring yang lolos dari bibir mereka. Shaka yang selalu tersenyum untuk semua orang dan Rayyan dibelakangnya selalu mengikuti gerak-gerik sang Kakak. Sebelum Nadia sadar ada yang kurang dari Shaka. Senyum seindah bulan milik Shaka, yang ia lakukan hingga membuat kedua matanya menyipit, sepertinya sudah jarang ia dapati. entah kapan terakhir kali.

Sembari menyiapkan makan malam Shaka, Nadia benar-benar tidak bisa lepas dari sosok Shaka yang berhasil ia pandangi cukup lama disudut ruangan tadi. Matanya, hidungnya, pipinya, rahangnya hingga leher, bagian yang paling banyak menyita perhatian Nadia. Bekas kemerahan yang memanjang melingkari leher Shaka entah mengapa berhasil mengirim sigma ngilu ditubuh Nadia.

Shaka pasti tidak pernah baik-baik saja.

Anak itu terlalu kosong dimatanya. Shaka terlalu rentan, Shaka butuh uluran tangan, atau mungkin ia akan benar-benar jatuh. Setidaknya ada Rayyan sebagai satu-satunya alasan. Hal itu semua membuat hati Nadia teriris. Terlalu perih hanya untuk menyadari bahwa ia menyesal, menyesal sudah menutup sebelah matanya. Baik Rayyan maupun Shaka, keduanya tidak berada didunia yang mendukung mereka.

Malam itu, sambil menemani Shaka yang menelan satenya sampai habis. Dalam hati Nadia memohon kepada Tuhan untuk mengampuni dirinya. Dalam hatinya ia terus mengulang kata maaf untuk setiap patah yang Shaka terima selama hidup didunia ini.

***

Keputusan Shaka untuk tidak bersekolah hari ini rupanya berbuah manis karena pagi Rayyan disambut dengan wajahnya. Hanya wajahnya, tidak ada Mama, tidak ada Papa, tidak ada Nenek, hanya ada Arshaka. Satu-satunya orang yang rela membuang semuanya bila perlu hanya untuk bersama Rayyan. Adiknya yang paling berharga didunia ini. Bahkan Rayyan berada diruurtan diatas kepentingannya sendiri.

"Morning!" sapanya. Rayyan masih tidak berekspresi, namun tidak lama kemudian cowok itu menghela nafas.

"Sarapan gue mana?" Shaka tersenyum sembari mengambil mangkok berisi bubur hangat diatas nakas sembari mengaduknya sedikit.

"Semalam kamu kritis loh. Kamu abis apa sih sampai kayak gitu?"

"Mama Papa dateng gak?"

"Datenglah!"

"Nice! Nanti gue sering-sering aja kritisnya."

"Bego ya lo?! Yang kritis lo, yang hampir mati gue tau!" sentak Shaka.

"Udah dibilangin kalau sakit tuh istirahat aja! Jangan dipaksain! Liat, lo kalau drop sampai kritis kayak semalam. Yang khawatirin lo itu gak satu orang Ray!"

Dari perubahan cara bicara Shaka, Rayyan tau, bahkan saat ia mengatakannyapun ia sendiri tau bahwa tidak seharusnya ia berbicara seperti itu. Lagi pula dia tidak bermaksud, kata-kata itu lolos saja dari bibirnya tanpa ia pikirkan. Ia pikir tidak akan ada yang mengambil hati dari kata-kata yang ia ucapkan.

"Maaf, Bang."

Shaka menoleh secepat kilat, lupa bila ia sedang sangat marah tadi.

"Hah, apa??" tanyanya antusias, ia bahkan tersenyum tertahan.

"Sowry~ gue laper. Buburnya siniin bisa gak, b a b u?" sahut Rayyan. Sedangkan Shaka sudah benar-benar melupakan kemarahannya. Bagaimana bisa pula ia marah bila Rayyan memanggilnya 'abang' untuk pertama kali selama ia hidup.

Shaka ingin mendengarnya lagi, sekali lagi.

"Bilang 'Bang, mau buburnya tolong' gitu."

"Buburnya cepet plis keburu dingin bubur gue."

"Bilang 'Bang' dulu."

"Hyung."

"Abang, Ray."

"Gege."

"Ray!"

"Apasih, gila hormat lu!" ujarnya sambil merebut semangkok bubur dari tangan Shaka lalu melahapnya segera. Sedangkan Shaka hanya tertawa pelan menatapnya. Melihat Rayyan yang nakal seperti ini benar-benar melegakan dari pada melihatnya hanya diam dengan wajah pucat seperti semalam. Benar-benar terasa seperti malaikat pencabut nyawa tengah mencabut nyawanya pelan-pelan.

Tapi setidaknya Rayyan masih memiliki harapan, itu artinya Shaka juga masih memiliki harapan untuk bertahan. Tidak peduli apa yang terjadi selanjutnya, ia hanya akan disisi Rayyan sampai anak itu sembuh total dan menjadi lebih pecicilan dari ini.

________________________

heheheHEHe..

gimana hari -hari kalian tanpa Shaka?

sorry banget telat update, dan ini juga sebenarnya bukan update sih. y gt lh pokoknya wkwk.

btw aku lg bolos class room. bosan bgt, ayo ramein :(

Mon maap jg part ini rada2 T_T

6. Sept. Sun 2020

-HR



Shaka's Ending ✔Où les histoires vivent. Découvrez maintenant