Bagian 16

225 16 15
                                                  

Rafa yang terhakimi menggeleng ia tidak menduga Chelsea akan seberani itu.

Aisha berbalik memandang Rafa. "Rafa kamu harus menjaga emosi, kasian Chelsea," katanya seperti hal serupa tidak pernah menimpa dirinya. Atau mungkin Aisha mengerti bagaimana rasanya dibentak di muka umum. Apalagi oleh seorang laki-laki.

Rafa mengangguk-angguk, "iya tadi gue..." Rafa sama sekali tidak berniat akan berlaku seperti tadi terhadap Chelsea. Andai saja tadi si Chelsea tidak menaikan pita suaranya dan menunjuk ke arah Aisha, mungkin saja ia tidak akan terpancing untuk ikut berteriak, pikirnya.

"Ya udah lebih baik kamu shalat dzuhur bareng kita," katanya lagi seperti tidak ada apa-apa. Padahal baru saja yang disinggung dan ditunjuk-tunjuk Chelsea adalah dia.

Lo polos ato gimana sih?! tanya Rafa menyelidik Aisha yang kemudian segera menuju lift karena shalat berjamaah akan segera dimulai. Aisha berpapasan dengan Arga dan Chiko yang masih belum bergerak dari tempatnya. Mereka bertegur sapa sebentar.

"Lo ga papa?" tanya Arga ketika mendapati Rafa.

"Lo pikir?" jawabnya agak sewot. "Gue shocked tau! Gila si Chelsea mana main tunjuk Aisha kalo ada yang denger nih orang gedung, mampus gue Ga!"

"Sabar bro sabar..." kata Arga menenangkan.

"Iya Fa biarin aja lah si Chelsea mau berbuat apa," tambah Chiko.

"Iya juga sih tapi yang rese itu kenapa harus bawa-bawa Aisah. Arghhh!" sambil menghentakan kaki. "Ya udah lah yu ikutan ke bawah."

"Mau ngapain kita baru nyampe lho ini, masih juga tegang akibat kejadian tadi," kata Arga heran.

"Yaela sholat lah!"

Arga melihat ke arah Chiko dengan tatapan: sehat dia? Chiko mengangkat pundak kemudian berlalu menyusul Rafa yang hampir menuju lift. Merasa tidak punya pilihan Arga mengikuti.

"Eh, kenapa juga kita yang tegang Ga?" tanya Chiko ketika di dalam lift. Tiba-tiba saja.

"Apaan si?"

"Itu tadi drama si Rafa?"

"Apaan si kalian ini, drama gue lagi, drama si Chelsea kali."

"Iyain aja Chik...!" timpal Arga.

Pintu lift terbuka dan mereka langsung menuju musahala.

"Eh, gue lupa nih cara wudhunya," jujur Arga. Ia mungkin baru belajar shalat tapi lupa belajar berwudhu.

"Tenang ada gue, gue private dulu bareng si Rafa," kata Chiko pede.

"Kok gue gak diajak sih?"

"Lha... dulu elo mepet Aisha terus mana ada waktu."

Hahahahhaa...lupa sudah Rafa dengan kejadian barusan. Tertawa memang bisa mengalihkan rasa kesal bahkan sakit. Ia tertawa tanpa beban. Sahabat adalah hal terbaik ketika kita bersedih, galau, resah, dan merasa sendiri. Tanpa sebab mereka mengajak kita tertawa. Bahkan ketika mereka tidak melakukan apapun hanya diam di samping kita rasanya sudah cukup.

Seseorang mengatakan bahwa sahabat itu sendiri ibarat bis. Bis? Rafa termenung. Boleh jadi karena bis yang dinaiki sendiri seakan membawa kita jauh pada kesendirian. Tidak halnya jika ada satu dua orang di sana walaupun mereka tidak kita kenal dan tidak pula berbincang, kita sudah merasa sedikit tenang. Mungkin, pikirnya. Oh! Atau karena dia siap selalu mengantar kita kemanapun bahkan ketika dirinya tak seindah dulu. Tapi mungkin yang paling tepat karena bis ini setia mengantarkan kita kepada tujuan. Begitupun arti persahabatan yang setia mengantarkan satu dan lainnya ke tujuan akhir dengan cara saling mengingatkan, menasehati, dan menghilangkan kebosanan di sepanjang perjalanan.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang