Bagian 21

253 18 26
                                                  


Ke mana? Ke situkah? Benarkah Rafa akan ke sana? Benarkah dia akan memegang kata-katanya setelah bertahun?

Aisha terus bertanya-tanya sepanjang perjalanan. Satu sisi dia senang jika saja Rafa berada di sana berarti pencarian ini berujung tapi di sisi lain ia pun takut. Takut akan keteguhan hati Rafa dan kebimbangan hatinya.

"Ga, tolong berhenti sebentar ya," Aisha melihat jam di hapenya terlihat angka tiga lebih seperempat.

Arga melihat Aisha melalui kaca spion tengah. "Eh?"

"Saya mau ashar dulu Ga."

"Oh oya bole dong, di mana Sha?"

"Kalo ketemu masjid, sembarang Ga."

"Chik liatin dong kalo ada masjid..."

Chiko mengangguk sambil mengacungkan jempol. "Tapi kamu yakin Rafa pergi ke sana Sha?"

"Atau Kamu punya perkiraan lain yang lebih meyakinkan Chik?" balik tanya Aisha.

Chiko menggeleng pelan. Tidak mungkin juga Rafa ke kafenya Arga. Di sana terlalu banyak orang, mau apa dia? Tempat yang damai mungkin akan jauh lebih cocok, pikir Chiko.

Setelah ashar mereka kembali melaju kali ini lebih cepat takut hari akan segera beranjak malam. Tapi jalanan tidak mendukung. Jam empat adalah jam sibuk di mana para pegawai sudah mulai pulang kantor. Ditambah hari ini ada pawai pelajar yang merayakan kelulusan mereka sehari sebelumnya. Jalanan penuh oleh konvoi anak SMA dengan baju penuh coretan warna warni. Mereka naik motor bergerombol menyusuri jalanan ibukota. Entah dari sekolah mana. Beberapa bahkan mewarnai rambut mereka sehingga tampilannya jauh dari kesan rapi khas anak sekolah. Tanpa rasa takut mereka berkendara tanpa helm seperti mengatakan bahwa ini adalah hari mereka, ingin bebas sebebas-bebasnya! Tapi sayang, jalanan tentu saja masih memiliki aturan karena ada orang lain yang membutuhkan. Di ujung sana terlihat mobil polisi bersiap membubarkan gerombolan pelajar yang membuat kemacetan.

"Duh, bisa-bisa kita kemaleman nih..." kata Chiko. "Tadi muter-muter gak jelas sekarang ada tujuan jalannya yang susah," katanya lagi lesu sambil memperhatikan para polisi yang berusaha membubarkan euforia anak SMA.

"Sebenarnya kalo cuma hepi-hepi corat coret baju untuk merayakan kelulusan ya gak masalah tapi jangan juga mengganggu kepentingan umum," kata Dewi merasa gemas melihat adegan di depannya.

"Bener Wi, apalagi sampe harus ribut-ribut kayak gini jadinya gak terpelajar ga sih?" Arga ikut menimpali. Pegal juga ia mengendarai mobil kalau jalanan tidak mendukung seperti ini.

"Mata merah, jalan sempoyongan, terus tonjok-tonjokan, sedikit sih yang kayak gini tapi jadinya semua anak SMA kebawa-bawa," kata Chiko menambahkan.

Aisha melihat juga pemandangan itu. Sedih melihat mereka, masa depan mereka tapi ia lebih bingung dengan kondisi Rafa. Ini adalah pukulan telak dalam hidup Rafa. Entah bagaimana hancur hatinya. Tapi Aisha yakin Rafa tidak akan secengeng itu. Mudah-mudahan. Pikirnya terus bergulat seputar kondisi Rafa.

"Laper nih Ga," Chiko mulai mengelus perutnya yang kempes.

"Lo turun deh, di depan ada toko tuh," kata Arga menunjuk plang sebuah minimart yang menjamur hampir di seluruh jawa.

Chiko akhirnya turun menuju minimart yang ditunjuk Arga. Ia semakin dekat ke arah kerumunan siswa yang sedang berusaha dibubarkan polisi dengan ancaman pentungan dan senjata yang sebenarnya tidak juga mereka gunakan. Beberapa mulai kocar kacir meninggalkan tempat. Tidak ada pilihan lain, daripada harus dibawa polisi ke kantornya tidak lucu jadinya: baru keluar dari pagar sekolah yang mana tiga tahun lamanya bergelut dengan buku masa harus masuk pagar polisi segera setelah dinyatakan lulus! Ke mana perjuangan tiga tahun itu? Atau sebenarnya selama itu tidak pernah ada kesungguhan?Chiko berjalan sambil sesekali melihat ke arah kacaunya para siswa yang berusaha melarikan diri. Ia jadi teringat adegan film ketika para perempuan jejadian kena sweeping polisi: kocar-kacir tak keruan. Padahal polisi pun tidak berniat menangkap mereka hanya menghalau supaya membubarkan diri, kecuali ada yang membangkang mungkin diciduk juga.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang