Bagian 6

210 19 5
                                                  

I love monday. Itulah yang sedang dirasakan Rafa ketika bangun pagi di hari senin. Hari baru semangat baru, pikirnya senyam senyum di atas kasur. Jam dinding di kamarnya baru menunjuk angka 5 kurang.

"Tumben Gue bangun pagian..." karena sudah hilang rasa kantuk akhirnya Rafa keluar kamar. Masih sepi, pikirnya. Ia ke dapur mengambil segelas air putih dan segera meminumnya. Tidak lama suara adzan sayup-sayup terdengar. Rafa terdiam, pikirannya melayang pada masa SMA ketika ia semangat belajar sholat tapi terputus begitu saja.

"Den...?" Bi Ijah tampak takjub melihat majikannya subuh-subuh begini sudah bangun. Biasanya yang kalo bangun harus digebrak-gebrak dulu, pagi ini ada yang lain, pikir Bi Ijah. "Den Rafa sehat?"

"Apa si Bi?"

"Maaf Deen, kan tidak biasanya Den Rafa bangun sepagi ini, mau subuhan Den?" tanya Bi Ijah dengan raut wajah senang.

"Ya udah Bi boleh..."

"Kok boleh, harus dong Den kan Aden sudah besar hehe."

Rafa terdiam beberapa saat memandangi gelas yang kini telah kosong. Ah, sholat! selama hidupnya belum pernah yang benar-benar sholat. Tidak, Rafa kemudian mengingat ia pernah sholat waktu menunggu bapaknya Aisha sakit. Waktu itu dia sholat dengan papanya dan teman-teman. Yah, ia pernah sholat, benar-benar sholat walaupun waktu itu banyak dikomentari papanya.

"Yuk Bi..."

"Sholat Den?"

"Joget! Yaiyalah Bi..." Bi Ijah manggut-manggut.

"Wudlu dulu Den, masih ingat kan? dulu kan Aden pernah diajari Den Ridho di sini."

"Iya iya, kumur-kumur kan?"

"Cuci tangan dulu Den"

"Enggak kumur-kumur dulu Bi, Aku masih inget terus hidung, wajah, baru tangan, rambut, telinga, kaki deh, bener kan...?" sambil diperagakan di hadapan Bi Ijah.

"Anu Den, maksud Bibi sebelum kumur-kumur kita bersihkan dulu jemari tangan kita biar bersih, maksudnya gitu Den."

"Tapi gak apa namanya..." Rafa berfikir keras, "aah wajib, wajib! Iya gak wajib kan Bi?"

"Masuk rukun kayaknya Den..."

"Apaan tuh?" merasa baru dengar.

"Apa ya, hal yang harus dilakukan kayaknya Den, Bibi lupa nanti tanya Pak Ustadz saja Den..."

"Kapan?" Bi Ijah menggeleng.

"Tapi nanti Bibi cariin ya Den, Bibi tanya-tanya teman Bibi." Rafa hanya mengangguk mengiyakan tidak yakin.

"Subuh dua rokaat kan Bi?"

"Iya Den, ya udah Aden wudlu dulu Bibi juga mau sholat. Bareng sama Pak Wanto saja ke masjid Den."

"Di kamar dulu Bi..."

"Tapi jangan sering-sering sholat sendirinya, kata pak kiyai nanti jadi cantik."

"Maksud Bibi?"

"Enggak Den, Bibi cuma dengar dari kiyai..." kemudian menghilang di balik dapur.

"Hmmm..."

Tinggal Rafa sendiri kemudian memutuskan untuk kembali naik dan mencoba shalat subuh sendiri untuk pertama kalinya. Setelah wudlu alakadar seingatnya ia mengambil sajadah. Sajadah satu-satunya pemberian Aisha. Bahkan semuanya tentang Aisha, pikirnya tersungging sambil menggelar sajadah.

"Eh, niatnya gimana ya?" Rafa lupa dia belum pernah diajari niat sholat subuh. Dulu sama Aisha sholat isya tapi katanya mirip-mirip, celotehnya dalam kepala. Rafa terduduk di atas kasur, bingung mau mulai dari mana. Kemudian melipat kembali sajadah dan menyimpannya di dalam laci: tidak jadi! Setelah termenung cukup lama akhirnya memutuskan untuk mandi.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang