Bagian 9

271 19 10
                                                  

Hari ini, tak satu pun tim serafood muncul lebih awal di kantor. Aisha sendiri setelah matahari mulai menyibak gelap di awal harinya langsung menuju busway terdekat menuju rumah Dewi. Ia hendak mengganti pakaian. Karena rumah Dewi di komplek, Aisha harus berjalan kaki lumayan dari jalan utama. Ia bergegas berlawanan arah dengan orang-orang yang sibuk berjalan cepat menuju halte busway.

"Assalamu'alaykum warrohmatullohi wa barrokatuh..."

"Wa'alaykumsalam, sini Sha sarapan dulu." Dewi sedang sarapan sendirian ketika Aisha sampai.

"Sudah Wi alhamdulillah," kemudian ikut duduk di samping Dewi.

"Sha semalam aku ketemu The Hits."

"Oh ya...?" jawab Aisha sumringah. "Bagaimana kabar mereka?"

"Kok kamu seneng banget Sha?"

"Iya kan mereka teman kita Wi?"

"Emang mereka nganggep kamu temen Sha?"

"Sejauh ini mereka kan tidak pernah menyebut saya bukan temannya, lagian kan kita dua tahun bersama ya teman lah Wi."

"Iya deh Sha, gue akan coba seperti lu, semalam mereka biasa saja sih kita bersalaman setelah itu gue pulang dan mereka masih di kafe."

"Kalo kamu ketemu lagi, salamin ya dari saya." Dewi tidak habis pikir dengan Aisha, bisa begitu cepat melupakan apa yang telah the hist lakukan sama dia. Dewi hanya menyeringai dan mengangguk.

Sementara itu di kediamaan Bagas Pradipta, Rafa tengah bersiap menuju kantor, tidak bersiap betul dia hanya menggunakan kaos seperti biasa, celana denim, dan jas yang ia tenteng, rencana hanya akan dipakai ketika rapat ada kakeknya, itupun kalo tidak lupa.

Lia sedang sibuk menyiapkan bekal Rafa, nyuruh ini itu Bi Ijah. Tiba-tiba Pak Yanto muncul.

"Bu, ada tamu."

"Siapa?"

"Katanya Celsi."

"Chelsea?"

"Temannya Den Rafa Bu."

"O...h iya betul-betul, saya ingat, tapi mau apa dia ke sini?"

"Saya kurang tahu Bu tapi dia bawa jinjingan gitu Bu."

"Ya udah suruh masuk."

"Baik Bu."

Setelah Yanto keluar, "Bu emang Den Rafa punya teman perempuan selain Non Aisha?"

"Hush! Masak Rafa cuma punya satu teman cewek."

"Iya maaf Bu habisnya yang suka ke sini kan cuma Non Aisha, jadi Bibi taunya..."

"A...h sudah deh Bi, jangan sebut-sebut terus Aisha," tak ada tekanan dalam bicaranya, ia hanya ingin semuanya biasa.

"Permisi Tante..."

Lia dan Bi Ijah yang sedang sibuk menyusun rantang di meja makan melihat ke arah suara. Lia hanya tersenyum kemudian berdiri basa-basi. Bi Ijah sejenak memperhatikan Chelsea dari ujung kepala sampai kaki. Memakai longdress warna coklat muda tampak pas di tubuhnya yang langsing, rambutnya ikal hitam jatuh di atas bahunya, wangi tentu saja, dan cantik, tapi bukan tipe perempuan yang Bi Ijah suka. Bi Ijah hanya tersenyum ke arah Chelsea yang ditanggapi biasa. Chelsea membalas senyum Bi Ijah tapi datar tanpa atensi apapun.

"Apa kabar kamu?" Lia membuka pembicaraan. Ia mengarahkan Chelsea duduk di kursi meja makan.

"Kabar baik Tante, oh yan Tante ini aku bawakan oleh-oleh dari US."

"Waa kok repot-repot...Kamu kuliah di US juga?"

"Iya Tante, enggak repot kok Tante, diterima ya Tan." Chelsea menyodorkan kantung berwarna coklat.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang