Bagian 22

204 18 15
                                                  

"Jika kamu melihat malam nampak tak terlihat. Benar Raf. Kenapa banyak orang melakukan hal-hal tidak terpuji di malam hari? Karena mereka mengira. Padahal bulan yang setengah itu dan bahkan ia tertutupi awan, dia mencoba melihat, mengingat, mencatat. Mungkin suatu hari nanti kita akan malu melihat semua catatan itu," Aisha mengalihkan pandangannya dari bulan yang terhalang awan kepada Rafa yang masih bimbang dengan pulang. Sementara Arga, Chiko, dan Dewi menahan diri sampai Aisha memberi isyarat.

"Pulanglah Raf," kata Aisha kemudian. Ia hanya ingin Rafa tidak kembali melakukan hal-hal aneh ketika berita apapun nantinya akan lebih buruk dari ini, dari dugaannya.

"Tidak bisa Aisah. Gue emang sudah lama menduga kalo mama bukanlah ibu yang melahirkan gue karena sikapnya yang berubah," Rafa berhenti. "Sepertinya semua telah jelas. Jadi arti pulang bagi gue, gue tidak tahu," katanya sambil menggeleng lemah.

"Pulanglah Rafa...Rumahmu bukan di sini, bukan di jalanan, bukan pula di tempat seperti tadi. Saya tahu kamu orang baik, pulanglah. Jika kamu mengira dia bukan ibu kandungmu bukan berarti dia tidak bisa menjadi tempat yang paling tepat untuk kamu pulang. Apakah kurang kasihnya selama ini? Kamu lebih baik daripada anak-anak di jalanan dan anak lainnya yang susah payah ingin sekolah, anak-anak lain yang ingin berada di posisimu, anak-anak yang sehari-harinya bergelut dengan waktu untuk sesuap nasi atau untuk mimpi yang mengganggu, apa kamu sesulit itu selama ini? Akan selalu ada alasan. Mungkin kamu bilang lebih baik menjadi mereka tapi bahagia tahu akan asal usul, kamu tidak pernah di posisi mereka jadi jangan berpikir untuk membandingkan. Satu hal yang pasti, kamu dapat semua yang kebanyakan anak-anak ingin memilikinya." Aisha menarik nafas panjang. "Mensyukuri yang ada yang kamu punya sekarang ini adalah cara terbaik untuk menghargai dirimu sendiri dan orang-orang disekitarmu. Lagipula apa Kamu teh sudah benar-benar mendengar semua kebenarannya?"

"Maksudnya?"

"Kenapa bisa terjadi seperti ini? Semua harus ada penjelasannya. Kamu akan bisa mempertimbangkan hati tapi pada akhirnya kamu, hidupmu, tidak bisa lepas dari mereka. Mereka mengasihi tanpa pamrih. Pulanglah Rafa."

"Malam ini..."

Aisha melihat ke arah Rafa. Dia memang tidak bertenaga. Tidak hanya itu jiwanya pun mungkin sangat tergoncang dan butuh ruang untuk menenangkan diri sampai siap. "Kalau begitu menginap saja dulu sampai kamu siap. Mintalah yang terbaik kepadaNYA. Mintalah apapun Raf!"

"Tidurlah sementara di rumah Gue Fa," Arga menawarkan diri. Ia dan yang lainnya mendekat ketika Aisha memberi isyarat dengan anggukan.

Rafa mengangkat wajahnya yang sayu ke arah Arga dan Chiko. Rafa tersenyum. Benar. Benar mereka selalu ada, kenapa dia sampai melupakan. Rafa terkekeh kemudian mengangkat tangannya yang terkepal ke arah Arga dan Chiko.

Arga dan Chiko saling berpandangan kemudian menyambut tangan Rafa, ketiganya tersenyum mengingat bahwa persahabatan ini selalu ada. Aisha bangkit menuju Dewi kemudian memegang tangannya, keduanya saling berpandangan dan tersenyum.

Arga kemudian menarik tangan Rafa sehingga ia berdiri tegak dengan kedua kakinya. "Chik Lo pakai mobil gue antar Aisha dan Dewi."

"Oke Lo baik-baik bareng Rafa nanti gue ke rumah Lo."

Ketiganya tersenyum. Rafa melirik ke arah Aisha sampai akhirnya meninggalkannya karena bukan dia yang harus melindungi tapi sebaliknya. Cukup malam ini.

Ya Alloh sesungguhnya sahabat adalah mereka yang mengingatkan kita ketika kita terjatuh dan menarik tangan ketika kita terjerumus dan membawa kita sampai ke surgaMu. Pertemukan kami di surgaMU kelak. Hidup ini fana hanya sebentar , jangan biarkan kami termasuk orang-orang yang merugi, aamiin.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang