Bagian 3

283 22 2
                                                  

Sabtu pagi yang cerah di kediaman Bagas Pradipta.

"Ma cepetan...!" Bagas terlihat cemas berulang kali melihat jam tangan, mondar mandir dan sesekali duduk bangun dari kursi ruang tamu.

"Sebentar dong pa, kamu ini gak sabaran banget..." Lia terlihat menuruni tangga menuju Bagas yang sepertinya sudah menunggu lama.

"Nanti keduluan papa kamu bisa berabe..."

"Lagian kenapa sih harus panggil-panggil Rafa segala. Dia kan baru dua tahun kuliah." Omel Lia. "Pasti kamu yang ingin buru-buru supaya Rafa terjun ke dunia bisnis. Dia masih butuh banyak pengalaman Pa."

"Bukan aku ma..."

"Memangnya papa aku mau ikut jemput segala?"

"Enggak, suruhannya yang jemput, mau langsung di bawa ke rumah sana."

"Apa?! Kok kamu enggak ngomong sih...?! Gak bisa dong Rafa kan anak kita, pulang ya harus temui kita. Gimana sih papa ini?"

"Sudahlah, papa tambah pusing ngomong sama mama." Bagas beranjak dari duduknya berjalan menuju Lia yang kemudian digandengnya keluar memasuki mobil.

"Tunggu pah..."

"Apalagi si? Sudah jam tujuh nih belum di jalan macet..."

"Aa..h, Bi Ijaaaah!!!" yang dipanggil tergopoh-gopoh mengahmpiri.

"Iya Nyak, ada apa?"

"Tolong bereskan kamar Rafa, yang bersih..."

"Den Rafa mau pulang Nyak?" Wajah Bi Ijah berseri-seri. Yang ditanya tidak menjawab segera masuk ke dalam mobil dimana suaminya telah menunggu.

Bagas dan Lia sebenarnya khawatir dengan panggilan mendadak kakek martin. Rafa sudah dewasa tentu saja, udianya kini dua puluh tahun, dan waktu yang tepat untuk diserahi beberapa pekerjaan untuk menempanya. Tjandra group tertopang di bahu Rafa. Tapi, sebagai orang tua, mereka merasa belum saatnya Rafa terjun di dunia yang keras ini. Dia bisa sakit hati, kecewa, dan jatuh berulang, sanggupkah?

"Kita harus percaya dengan Rafa ma..." melihat Lia yang tak bersemangat.

"Iya pag, tapi kamu harus membantunya. Kamu inget kan waktu pertama kali kamu memegang anak perusahaan papa. Aku mau melahirkan saja kamu gak boleh datang, coba..."

"Sudah ma, kita syukuri apa yang sekarang ada pada kita, kita support Rafa semampu kita." Lia mengangguk tak punya pilihan kalimat yang lebih baik.

"Macet kan ma..." kata Bagas tanpa digubris Lia yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Lia terkenang anak yang dilahirkannya dan tidak kunjung sehari sudah meninggalkannya untuk selamanya. Rafa menggantikan posisinya tapi tentu saja tidak pernah persis. Hari itu Rafa dibawakan oleh Bagas sendiri. Dan terus begitu sampai mama aslinya datang mengaku selingkuhan Bagas. Waktu itu Rafa SMP setelahnya tak pernah lagi Lia berkunjung ke kamar Rafa, terlalu sakit. Dibohongi Bagas sekian lama tentang jati diri Rafa. Lia mengira Rafa hanyalah anak yatim piatu yang dibawa untuk menggantikan anaknya. Tapi salah besar. Namun kedekatan selama ini, telah membuat Lia luluh bagaimanapun Rafa telah dirawatnya sedari bayi. Dia tidak peduli lagi catatan hitam suaminya. Rafa anaknya, miliknya!

"Ma...ma..." Bagas melirik kepada istrinya. "Ma!" Lia terperanjat kaget dari lamunannya.

"Apa sih?"

"Lagian mama juga pake acara ngelamun, macet nih, telat kita jemput Rafa, pesawatnya landing jam 8, coba mama telpon." Lia kemudian mengikuti permintaan suaminya.

"Hallo..., halo sayang, gimana kamu sudah landing?"

"Dari tadi ma, dijemput gak nih?Aku naik taksi aj deh ma, kelamaan..."

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang