Bagian 14

247 21 23
                                                  

Selepas sholat ashar di mushala ia bergegas kembali melihat keadaan Aisha. Rafa berjalan biasa ke ruang IGD. Di sana si perawat senior yang kepo dan cukup profesional sedang duduk anteng di belakang meja resepsionis ruang IGD.

"Mas, Mba Aisha sudah dipindah ke kamar," katanya sigap begitu melihat Rafa berjalan ke arahnya.

Oh, sudah pula tahu nama Aisha perawat ini, bener-bener super kepo, pikirnya. Rafa mengangguk kepadanya yang disambut senyum-senyum. Ia kemudian menjelaskan ruang tempat Aisha dirawat inap tidak lupa ia menawarkan bantuan jika saja Rafa ingin diantar.

"Tidak perlu, sakit apa dia?"

"Dia?" tanya si perawat keheranan. Untuk seseorang yang mengantarkan sampai ke Rumah sakit dan nampak khawatir dengan kondisinya, kata "dia" rasanya kurang pas. "Eh, iya, Mba nya kena tipes, mungkin kecapekan, butuh beberapa hari di rawat," lanjutnya tersadar dari rasa penasarannya.

Rafa mengangguk cepat dan meninggalkan si perawat yang keheranan menatapnya tidak lepas sampai menghilang dari jangkauan pandangan.

Matahari sudah menurun seakan ia hendak bersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang berdiri berjejer kadang berkelompok menjadikannya tempat yang sempurna untuk bersembunyi. Hari ini tentu saja memberikan kelegaan karena proyeknya sudah pula disetujui kakeknya. Tapi di ujung hari, itu seperti pesta yang baru dimulai tapi terpaksa ditunda karena pemain utamanya malah tidak nampak.

Kamar Aisha berada di lantai tiga. Keluar dari lift Rafa mulai menyusuri lantai tiga untuk menemukan kamar nomor 308. Baru juga melangkah satu dua,Rafa menghentikannya karena di sana terlihat Ridho sedang duduk termenung di bangku lorong persis samping kamar. Ia menenteng tas slempang Aisha. Benar, tadi setelah bercakap dengan kakeknya Aisha tidak kembali ke lantai lima. Rafa melihat beberapa saat dari jarak aman. Ia ragu mengunjungi Aisha, pastinya sudah ada Rima di sana atau mungkin juga Dewi. Tapi tetap saja ia harus memastikan.

Rafa berjalan perlahan. Ia sampai juga di dekat Ridho. Keduanya bertatapan sebentar, karena kemudian Rafa memilih mengalah dan mengalihkan pandangan pada celah pintu yang sedikit terbuka tapi masih bisa memperlihatkan Aisha di dalamnya. Aisha sedang melakukan gerakan sambil terbaring. Di sofa kamar nampak Dewi dan Ule yang termenung, di sisi lain Rima sedang memberesi sesuatu, sepertinya pakaian. Rafa enggan masuk ia kemudian ikut duduk di samping Ridho.

"Kenapa Fa?" tanya Ridho seketika Rafa duduk di sampingnya.

"Apanya kenapa?"

"Kenapa harus Aisha? aku sudah bilang sebaiknya kalian berdua menjauh, karena setiap kalian bertemu kehidupan Aisha menjadi kacau. Padahal beberapa hari yang lalu dia masih baik- baik saja dengan kuliahnya, dengan kehidupannya di Bogor, tapi Kamu lihat sekarang ia malah terbaring lemah di Rumah Sakit jauh dari keluarganya," Ridho menarik nafas dalam. "Aku tidak tahu Fa, apa yang Kamu pikirkan dan harapkan, tapi bisakah ia berhenti saja? Kamu pasti bisa menduga ke depannya apa yang akan menimpa Aisha jika ini terus dilanjutkan. Gue bersedia kok Fa tetap lanjut di sini sampai proyek ini selesai tanpa Aisha." Kata Ridho mantap. Ia berbicara sebagai lelaki.

"Aisha akan jauh lebih baik jika ia tetap di Bogor jauh dari hingar bingar ibu kota dan ...," Ridho berhenti sesaat ada keraguan di sana. Ia kemudian melihat ke arah Rafa, "kamu Fa."

Ridho menunggu jawaban apa yang akan diucapkan Rafa tapi yang ditunggu hanya diam jadi dia lebih memilih meninggalkan Rafa dan masuk ke dalam ruangan. Rafa terduduk di sana, merenungi semuanya. Kejadian Aisha dengan kakeknya, dengan proyek ini, dan ucapan Ridho barusan. Benarkah dengan mundurnya Aisha dari proyek ini adalah pilihan yang tepat buatnya? Diakan sendiri yang salah? Padahal ia sendiri tidak pernah menduga akan ada Aisha di proyek ini, tidak juga kakeknya. Ini tentu sudah seharusnya begini, bukan?

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang