Bagian 4

336 22 2
                                                  

Jakarta pagi ini. Langit hitam kemerahan hanya menampakan satu dua titik bintang yang mencoba mengerlip, ingin mengabarkan bahwa mereka masih ada. Lampu jalanan temara sendu sendiri. Orang-orang belum pun bangun dari lelapnya tidur, dari keseruan hidup hari kemarin. Tentang asa hari ini baru beberapa terbangun dan mendo'a berserah diri kepada-NYA.

Aisha sudah sedari tadi terjaga dari tidurnya. Jam weker, di meja samping ranjang kamar dewi menunjuk angka tiga. Aisha mencoba sholat malam, memohon untuk hidup yang diridhoi. Kini ia tengah mengaji. Suaranya lembut dan pelan di sepertiga malam terakhir yang khusyuk.

Ini malam kedua Aisha menginap di rumah Dewi. Kemarin sabtu seharian diajak jalan-jalan The Qorib. Melihat sekolahnya dulu, makan bakso di tempat biasa, ketemu beberapa guru, sungguh waktu begitu cepat berlalu. Mendadak ada email pemberitahuan untuk kumpul di kantor Pak Bagas hari minggu ini mengurungkan niat Aisha untuk kembali ke Bogor pada sabtu sore.

Rencananya pagi sekitar jam 10 Aisha dan Ridho akan ikut meeting di kantor Pak Bagas sesuai bunyi undangan. Sorenya Aisha akan kembali ke Bogor. Aisha terus berdo'a semoga hal baik yang akan ditemuinya. Ia akan bertemu kembali Om Bagas setelah dua tahun. Semoga ia baik-baik saja dan selalu dilindungi-Nya, aamiin, do'anya lirih. Aisha tidak akan pernah lupa semua kebaikan Om Bagas pada keluarganya.

"Sha, mau aku anterin?" tawar Dewi ketika waktu terus berjalan dan sudah jam tujuh, mereka sedang sarapan. Mamanya Dewi telah berangkat baru saja tidak sarapan dulu, kata Dewi kebiasaan. Jadi, mereka hanya berdua di meja makan pagi ini.

"Tidak usah wi nanti saya naik angkot saja ke sana."

"Atau kamu bareng Ridho?"

"Jangan wi, saya tidak mau merepotkan, insyaAlloh saya bisa."

"Hati-hati ya sha, nanti pulangnya gue jemput deh sekalian antar kamu ke stasiun."

"Iya wi terimakasih."

"Sama-sama, jangan sungkan sha." Aisha membalas dengan senyuman.

Jam sudah menunjuk angka delapan. Di tempat lain Ridho sudah bersiap berangkat. Setelah pamit pada nenek dan ibunya Ia segera menuju motor. Bagaimana dengan Aisha? Paling diantar Dewi, batinnya.

"Kenapa Dho, kok melamun?" tanya neneknya mendapati Ridho yang tak kunjung berangkat hanya duduk di atas motor.

"Eh iya Nek, ini mau berangkat..." neneknya mengangguk. "Eh nek, Ridho lupa cerita, Aisha ada di jakarta Nek."

"Hah?! Kenapa kamu tidak bilang? Sama ummanya?"

"Enggak Nek, sendiri, kemarin kan Ridho sama Ule dan Dewi ajak jalan-jalan makanya Ridho baru pulang hari ini."

"Sudah gitu berangkat lagi," cemberut neneknya. "Tapi gak papa deh, Aisha nya diajak ke sini ya, nenek sama ibumu kangen."

"Lain kali saja ya Nek, Aisha nanti sore langsung pulang, dia kan harus kuliah."

"Kamu ini gimana ada Aisha gak dibawa ke sini, nginep dimana?"

"Di rumah Dewi, tenang Nek, Aisha sepertinya akan mengambil praktek kerja lapangannya di jakarta."

"Oh syukurlah, kamu cepat berangkat nanti telat, gak enak sama Pak Bagas, salam nenek buat Pak Bagas dan Aisha ya."

"Iya nek insyaAlloh, Ridho pergi dulu ya, assalamu'alaykum..."

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang