Bagian 18

194 18 16
                                                  

Senyap.

Tap tap tap. Derap sepatu yang sengaja melambat. Beberapa kali terdengar melewati ruang serafood yang terbuka lebar. Semua yang kebetulan melintas mau tidak mau akan melirik ke arah pintu yang terbuka. Andai saja urat malu telah terputus dan rasa takut telah hilang mungkin akan berjejer orang-orang tadi menonton adegan di dalamnya. Benar, hanya adegan tanpa gerakan tapi sangat membuat penasaran siapapun di gedung ini. Gosip pun cepat menyebar. Sampai pada ruang-ruang tersembunyi di gedung ini yang hanya dimasuki satu dua kali oleh pegawainya hanya untuk melihat jika ada sesuatu yang masih bisa dipakai.

"Mmm..." Ia melirik sekilas ke arah Aisha. Masih juga bingung mau berkata apa lagi. Dia tidak pernah memperkirakan akan sampai pada titik ini hubungannya dengan Aisha. Kemarin ia masih ingin berduaan saja dengannya, hari ini pun masih ingin tapi ada kekuatan lain dalam dirinya untuk tidak melakukan hal-hal konyol lagi terhadap Aisha.

"Rafa?"

"Eh!" Rafa kaget gelagapan. "Ya udah Aisah kita bikin sekarang saja iklannya biar cepat selesai," katanya lagi.

"Tadinya saya mau minta tolong Dewi Raf."

"Aaah gini doang kita juga bisa, coba ambilkan laptop," katanya mulai rileks. Bicara. Ketika tegang satu-satunya hal yang bisa memecahkan gunung es adalah bicara. Setegang apapun cobalah untuk berbicara kalau sulit teriak saja.

"Di ruangan kamu?" tanya Aisha tidak yakin. Dirinya harus mengambil laptop di ruangan Rafa?

Rafa hanya mengangguk. Tidak mungkin juga ia menarik kembali ucapannya. Selain itu ia butuh ruang sendiri untuk beberapa saat. Menenangkan diri karena jantungnya sedari tadi bagaikan pendulum yang tidak berhenti ke kanan dan ke kiri. Dengan memasang mimik bingung Aisha keluar juga diikuti hembusan nafas Rafa yang berat dan panjang sampai kedua pipinya mengembung.

Aisha sedang berjalan ke luar ketika dua orang perempuan muda melintasinya. Tatapan keduanya mendadak keder karena tertangkap basah Aisha. Keduanya senyun-senyum sambil mengangguk cepat-cepat ke arah Aisha. Aisha membalas senyum keduanya merasa bingung dengan tingkah keduanya. Lebih dari itu ini pertama kali Aisha melihat keduanya di lantai lima. Walaupun dirinya tidak pernah bermain ke ruangan lainnya tapi minimal ketika keluar untuk istirahat atau pulang berpapasan juga dengan mereka di lift. Minimal wajah ia tahu. Tapi kedua wajah ini asing, mungkin tamu, atau pegawai lain yang hendak berkunjung ke pegawai lainnya di sini. Aisha menggeleng dan terus melanjutkan langkahnya.

Rafa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia hanya melakukannya karena merasa ingin. Mencoba melihat apapun yang bisa ia lihat, menyibukan diri dengan pikiran lain selain Aisha, mungkin akan jauh membuatnya lebih tenang. Ia menghirup aroma kopi dari arah pintu.

"Ah, bener juga," katanya girang. Kemudian mengambil telepon kantor di dekat meja kerja Rima. Ia terlihat sibuk berbicara dengan seseorang di ujung sambungan mengenai kopi dan makanan ringan.

Aisha telah kembali dengan selembar laptop tipis berlogo buah apel. Ia menyimpannya di depan Rafa. Kemudian kembali duduk di tempatnya semula. Menunggu apa lagi yang bisa ia bantu kerjakan.

"Kamu aja deh yang ngetik," ketika sadar laptop telah berada di depannya.

"Loh kalo saya yang ngetik mending pake komputer saya saja."

"Eh?"

"Iya. Komputer di ruangan ini kan banyak juga."

Rafa menggeleng, "udah pake laptop saja. Eh, denger-denger nih, katanya jadi orang jangan terlalu banyak protes."

Aisha melihat Rafa, melihat ekspresi Rafa ketika mengucapkan kalimat tadi, sekonyong-konyong Aisha tersenyum. "Iya bukan Bani Israil," jawab Aisha sambil terkekeh. Dari mana Rafa dapat guyonan seperti itu? Pikir Aisha.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang