Bagian 7

210 17 2
                                                  

Hhheh hhhah hhhh...Rafa terengah-engah sesampainya di lantai lima. Ia berhenti di ujung tangga, tangan satunya berpegangan pada pegangan tangga dan satunya lagi memegangi lutut. Rasanya bergetar sangking capek. Nafasnya memburu, ia berusaha melihat ke arah ruangannya yang terhalang tembok. Rafa berusaha berjalan.

"Mah! Mamah!" teriaknya dari balik tembok yang menghalangi pemandangan antara dirinya dan ruangan luas setelahnya. Ia tidak bisa melihat tapi berharap mamanya mendengar suaranya.

Mamanya sendiri sedang berusaha membuka pintu ruangan sesekali mengetuk memanggil nama Rafa. Rafa? Lia berbalik ke arah suara.

"Rafa...? Dari mana kamu? Kok ngos-ngosam gitu?"

"Naik tangga," Rafa berusaha segera menuju mamanya.

"Kok bisa? tadi Mama naik lift, baik-baik saja...?" heran.

"Enggak Mah, tadi Aku coba coba cobaa..." mencoba bernafas senormal mungkin. "Olahraga iya olahraga Ma."

Lia tidak begitu saja percaya dengan ucapan anaknya. Ia diam memperhatikan penuh curiga. "Ya udah, ayo makan siang dulu, Mama bawakan kamu nasi ayam nih," sambil menunjukkan rantang bawaan. "Ruangan Kamu dikunci?"

"Mmmm..."

"Kenapa?"

"Itu Mah..." berfikir keras. "Oh! dulunya kan ruangan aku kosong jadi suka dipakai sholat karyawan lain, suka tiba-tiba ada yang nyelonong aja Mah."

"Masa sih?"

"Mah kita makan di ruangan papa aja yuk, biar sama-sama..."

"Enggak enggak, orang Mama ke sini mau nemuin Kamu."

"Tapi di ruangan Papa aja yah ya Mah...." setengah memohon

Lia merasa ada yang disembunyikan Rafa. Ia melihat sekilas ke arah ruang Rafa yang tadi ia ketuk. Tapi kemudian ia mengikuti Rafa yang setengah menarik dirinya menuju lantai tiga di mana Bagas bekerja.

Setelah bertanya pada sekretaris Bagas yang berada di ruangan depan sebelum menuju ruang utama tempat Bagas bekerja, mereka berdua masuk ke ruangan Bagas. Sepi, karena Bagas sedang meeting.

"Sudah Mama bilang lebih baik di ruangan Kamu, lagian Mama kan belum lihat ruangan kamu."

"Udah Mah di sini saja lebih luas..."

"Kenapa sih? Kok Mamah jadi curiga, kamu menyembunyikan macem-macem di sana?" tanya Lia masih belum puas. Niatnya ingin melihat ruangan anaknya untuk pertama kalinya dia akan bekerja dalam hidupnya, masak harus gagal? pikirnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa Rafa baik-baik saja. Melihat Rafa bertingkah seperti ini, Lia akan menahan keinginannya sampai waktu yang tepat. Toh, tetap ia harus melihat kondisi anaknya.

"Mamah mah gitu... sukanya curigaan, udah ah, aku laper..." ia kemudian menyambar rantang di atas meja persis di depannya. Dan tidak lama mulai melahap nasi ayam kecap kesukaannya. "Enak Mah," ujarnya sambil terus mengunyah. Pikirannya jauh ke ruangan di lantai lima, bagaimana kabar Aisha? pikirnya. Sudah tiga puluh menit ia meninggalkan Aisha, semoga kuat, pikirnya.

Tapi bagaimana kalo ia kelaparan? Rafa terus khawatir. Ia sekali-kali melirik jam digital yang ditaruh di meja kecil pojok ruangan. Melirik sekilas ke arah mama nya yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera pulang.

"Mah, mama mendingan pulang sekarang ya, aku harus meeting Mah..."

"Kok Kamu jadi ngusir Mama?"

"Ya enggak Mah, daripada Mama bete nantinya, iya kan?"

"Enggak dong, Mama kan emang niatnya mau ngeliat kamu bekerja," jawab Lia santai, menebak apa yang akan dilakukan Rafa selanjutnya. Tapi ia semakin yakin ada yang disembunyikan Rafa. "Lagian ya, Mamah itu belum pernah bekerja kayak gini, pengen liat dong anak Mamah kerja."

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang