Bagian 8

242 16 5
                                                  

Tiga hari mencari ide bukan hal yang mudah. Ide untuk menggerakan produksi ke depan. Ide yang akan menjadi pengharapan masa depan bagi sebagian bahkan mungkin banyak orang di luar sana. Ini juga menjadi bagian penting bagi Aisha dan semua yang terlibat. Ini akan menjadi batu loncatan tentang masa depan mereka. Tidak bisa terburu-buru, butuh waktu tentu, butuh keyakinan sampai ide itu dilepas di rapat esok hari jam 15.30 WIB.

Sore hari di hari rabu. Aisha sudah bekerja sangat keras. Ia bahkan pulang ke rumah Dewi hampir larut dua hari ini. Ia terus di ruang riset, kadang ditemani Rima tapi lebih sering sendiri. Ia menikmatinya. Selain ini ada hubungan dengan apa yang dipelajarinya di kampus juga karena ia sangat menyukainya. Lebih dari itu Aisha merasa sangat ingin menyelesaikannya dengan baik setelah kejadian hari senin kemarin. Ia hanya ingin semua berjalan lancar dan ia tidak ingin menjadi penyebab keburukan bagi seseorang, bagi siapapun.

Ba'da Ashar di lantai satu Aisha kembali ke rutinitasnya di lantai lima, ruang riset. Seperti biasa, sepi saja ruangan itu, justeru karena itulah orang-orang dipaksa untuk berkonsentrasi. Benar juga mushala berada di lantai satu. Padahal biasanya gedung-gedung pencakar langit kalaupun mereka punya mushala selalu di tempat paling atas, paling pojok, membutuhkan perjuangan mencapainya, sesampainya di sana malah lebih menyedihkan karena kurang terawat. Tapi di sini, mushala di lantai satu dan bersih.

Istirahat dan makan siang biasa dilakukan di ruang rapat yang kini telah diberi papan nama dengan huruf latin besar nan tebal: PT. SERAFOOD. Meja-meja telah pula disusun seperti halnya meja karyawan umumnya: meja bersekat rendah dengan posisi memanjang dua dua menghadap tembok. Diletakan persis di tempat Rafa memimpin rapat senin kemarin. Sementara meja berbentuk bulat berada di dekat pintu keluar sebelah barat dengan layar proyektor yang kini tertempel di tembok sebelah utara berlawanan arah dengan posisinya kemarin. Sederhana namun sangat berfungsi. Di meja-meja bersekat rendah itu diletakan pula komputer untuk mempermudah pekerjaan. Sementara di ujung tembok arah selatan diletakan lemari arsip dua buah dari kayu mahoni.

Kebanyakan waktu mereka habiskan di sini kecuali Rafa dan Aisha. Rafa lebih sering mengurung diri di ruangannya dan Aisha berkutat hampir seharian di ruang riset. Aisha hanya mengunjungi teman-temannya di jam makan siang. Ia tampak benar-benar sedang fokus.

Hari sudah hampir magrib ketika Rima datang.

"Mba gimana? Saya malah tidak banyak membantu nih," kata Rima sesampainya di samping meja yang Aisha gunakan. Di sana tertumpuk buku, catatan tangan yang tertempel di buku menggunakan kertas notes kecil berwarna kuning, komputer terbuka memperlihatkan jurnal luar tentang makanan. Sementara Aisha sendiri sedang menulis ketika Rima tiba. Kerudungnya tampak alakadarnya, mungkin ia tidak sempat sekedar memperbaiki letak kerudung, yang menurut Rima terlihat penyon-penyon. Tapi kenapa masih saja tampak manis dikenakan Aisha, pikirnya.

Aisha menoleh dan tersenyum ke arah Rima,"alhamdulillah, tidak apa-apa Mba, kan Mba Rima juga sibuk mengatur ruangan, perizinan kantor, dan lain-lainnya," Aisha tahu Rima juga sibuk."ini sudah hampir selesai kok mba insyaAlloh, tapi butuh waktu untuk menyusun proposal, saya mungkin sampai malam lagi di sini." Aisha tampak tidak enak terhadap Rima, sudah dua malam ia pulang diantar Rima. Tapi mau bagaimana lagi, hiburnya sendiri.

"Santai Mba Aisha, saya siap menemani, nanti saya bantu ketak-ketik."

"Iya Mba terimakasih banyak."

Rima kemudian mengambil posisi di dekat meja Aisha dan mulai mengambil beberapa bahan, tidak lama suara keyboard yang di ketik mulai meramaikan ruangan riset.

"Teknik canning?"

"Gimana menurut Mba Rima?"

Rima mengerutkan kening, berhenti mengetik. Kemudian mengarahkan pandangan pada Aisha, ia selalu terlihat manis penuh aura positif.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang