Bagian 17

212 18 10
                                                  

Mobil menepi di bahu jalan tepat di samping sebuah gang di mana mobil tidak bisa memasukinya. Rafa kemudian mengajak semua mengikutinya menyusuri jalanan gang. Jam sudah menunjuk angka empat. Anak-anak ramai hilir mudik di gang. Ada yang bermain kelereng, atau sekedar berkumpul melihat sesuatu yang menarik hati. Suara mereka sangat berisik memenuhi setiap lorong gang. Tapi, tidak ada yang protes. Biasa. Bahkan ibu-ibu dan sedikit bapak-bapak yang sedang berkumpul dengan kopi dan rokok mengepul di jemari-jemari mereka tak sedikit pun memperhatikan anak-anak itu. Mereka asyik dengan obrolan masing-masing. Sekilas dari kumpulan bapak-bapak terdengar obrolan tentang topik paling hangat tahun ini. Pemilihan presiden setiap lima tahunnya selalu menjadi topik paling panas di tanah air. Tidak pernah tidak sejak orde baru. Karena semua orang tahu pada masa orde baru hampir tidak pernah ada kejutan. Tidak juga jelek hanya saja tidak menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan sampai perang urat syaraf. Lihat saja hari ini orang beradu mulut berdebat kusir dari sekelas bapak-bapak gang, warung-warung kopi sampai acara-acara talkshow yang dipandu presenter terkenal dan tamu-tamu yang tidak sedikit amplop yang harus diberikan atas kehadirannya. Semua hanya berbicara. 

Sementara itu, suara ibu-ibu tidak pernah kalah dari apapun, kelompok manapun, siapapun. Mereka akan mengambil alih panggung dimanapun mereka berada entah itu di sekolah-sekolah anak-anak mereka, tempat arisan di gedung-gedung mewah sampai pelosok jalanan, apalagi di jalanan gang seperti ini yang merupakan basis resmi ibu-ibu berdaster. Informasi! Mereka saling bertukar informasi setelah seharian mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mereka sangat menikmati ketika sesamanya merasa penasaran dengan cerita yang dibawakan. Mereka telah mendapatkan panggung, semua mata tertuju kepadanya, kepada ceritanya yang bahkan belum dipastikan kebenarannya. 

"Permisi...," sapa Aisha sambil tersenyum ke arah ibu-ibu yang sedang berkumpul.Mereka sontak mengalihkan pandangan dari yang lainnya yang sedang menikmati ketenaran sesaat.

"Mau kemane Mba?" tanya salah satunya yang paling supel dan paling kepo.

Aisha berhenti sejenak demi pertanyaan salah satu ibu. Ia bingung juga mau jawab apa. Dia kan ke sini hanya mengikuti Rafa. "Iya Bu, ke sana Bu..." jawab Aisha memilih jawaban paling umum karena dia sendiripun tidak jelas mau ke mana. Kemudian segera bergegas mengikuti yang lain.

"Kita sebenarnya mau ke mana ya Mba?" Rima tiba-tiba merasa terganggu dengan pertanyaan ibu tadi. Lha, kalau di depan ada yang tanya lagi bagaimana? Masak di jawab ke sana terus. Iya tidak bohong tapi kalo ketemu ibu-ibu super jeli dan merasa paling bertanggung jawab dengan kondisi lingkungannya, dia mungkin akan sangat tidak puas dengan jawaban seperti tadi, pikirnya.

Pandangan ibu-ibu gang yang berkumpul tadi terus mengawasi orang-orang asing yang baru saja melintas. Setelah hilang dari pandang mereka bertanya satu sama lain beralih topik membuat seseorang lain kehilangan panggung dan diam-diam cemberut. Mereka saling bertanya mengenai siapa, dari mana, mau apa. Terus saja sampai pada titik menduga-duga dengan pikiran masing-masing. Mungkin itulah kenapa para perempuan diingatkan untuk berhati-hati ketika berkumpul. Tidak dapat dipungkiri naluri keperempuan yang ingin serba tahu kadang menjerumuskan.

Aisha menggeleng.

"Tapi, kalau kita terus menjawab tidak jelas mereka sepertinya tidak puas dan sedikit curiga," kata Rima mulai bermain dengan pikirannya.

"Ah, Mba Rima," kata Aisha tersenyum. "Hati-hati lho Mba."

"Apa Mba?"

"Ya, itu tadi, menduga, menduga yang belum tentu kebenarannya," Aisha mengambil jeda demi melihat Rafa dan yang lainnya agar mereka tidak terlalu ketinggalan. "Saya pernah mendengar seorang ustadz Mba. Nisa tahu kan Mba?"

"Mmm, perempuan."

"Perempuan-perempuan Mba. Dia jamak, banyak. Sifat perempuan cenderung bercerita, ngobrol ketika sedang berkumpul. Kalau sudah ngobrol kadang kita lupa diri. Katanya, katanya, menduga hal yang belum pasti, atau malah kita mengumbar aib sendiri. Makanya kita disuruh untuk mengendalikan sifat ini karena yang paling banyak membawa perempuan kepada neraka, na'udzubillahimindzalik."

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang