Bagian 15

239 20 15
                                                  

Selama tiga hari dirawat selama itu pula bunga mawar putih tak bernama tidak pernah absen muncul setiap paginya dibawakan perawat penjaga. Dewi berinisiatif membawakan vas besar seperti belanga dari kaca, diisinya air dan mawar-mawar itu masih segar di hari ke tiga. Tidak dapat dipungkiri Aisha senang melihatnya pagi-pagi, ruangan terasa lebih segar dan ketika sore hari ia seakan tersenyum dan menenangkan.

"Kepada siapapun yang mengirim bunga ini dia pasti orang yang sangat baik ya Wi," kata Aisha ketika dirinya dan Dewi beres-beres bersiap untuk pulang.

Dewi yang sedang menggeser tas ransel ke dekat sofa kemudian mendekati Aisha ia ikut memandangi bunga itu, "iya Sha, bunga-bunga ini sangat menyegarkan."

Aisha mengangguk setuju. "Wi bunga ini bisa bertahan sampai seminggu ke depan kan?"

Dewi mengangguk yang diikuti senyum mengembang Aisha.

Jam sepuluh keduanya keluar Rumah Sakit dijemput Ule.

"Yuk," ajak Ule ketika semua telah beres. "Itu bunganya mau di bawa juga?" tanyanya melihat Aisha memandanginya lekat-lekat.

"Enggak Le, saya rencana mau memberikannya pada perawat agar bisa ditempatkan di kamar pasien lainnya. Ini bisa juga lho untuk penyembuhan soalnya membuat hati kita senang ketika melihatnya," kata Aisha sambil terus menatapnya dan tak lepas dari senyum di wajahnya yang kembali merah merona. "Bunga ini akan lebih bermanfaat jika ia tetap di sini," katanya lagi.

"Bener banget, pinter nih bidadari...," Ule tidak melanjutkan ucapannya ia segera berbalik dan mendadak jadi sangat sibuk mengangkat ini mengangkat itu.

"Udah deh biar gue aja!" kata Dewi sambil berusaha mengangkat tas ransel yang berisi baju dirinya dan Aisha selama menginap tiga hari ini. Ule mencoba mengambilnya dari Dewi.

"Udah Wi, ane aja, ane kan laki-laki..." Ule mendekatinya dan mengambilnya perlahan dari tangan Dewi sambil tetap mengawasi luapan emosi Dewi.

Akhirnya Dewi melepaskan juga tas-tas itu, ia bersikap acuh. "Ayo Sha kita turun."

"Yuk," Aisha mengambil vas itu, memeluknya dengan kedua tangan. Lumayan besar. Kemudian ketiganya keluar meninggalkan kamar. Aisha berharap tidak lagi ke sini untuk di rawat, cukup. Ia mengedarkan pandangan ke arah kamar 308 yang serba putih. Semua terlihat cantik sekarang, warna putihnya pun begitu menenangkan, sama hal nya dengan bunga yang kini ia dekap. Ya, pandangan orang sakit dengan sehat tentu saja berbeda, pikirnya kemudian tersenyum lucu dengan pikirannya sendiri.

Ketiganya kemudian beriringan berjalan menyusuri lorong RS lantaiu tiga. Langkah mereka melambat sampai akhirnya terhenti ketika di depan melihat seseorang berjalan ke arah mereka: Rafa! Ia cukup rapi dan segar dibandingkan tiga hari yang lalu ketika mengantar Aisha.

"Assalamu'alaykum..." sapanya ketika tepat di hadapan Aisha.

Ada jeda beberapa saat sampai mereka bertiga sadar dengan salam Rafa. Ule memandangi Rafa bagai pertama kali setelah sekian lama bertemu. Pun dengan Dewi, keduanya bagai menemukan sosok Rafa yang lain. Antara menakutkan dan mengagumkan jaraknya sungguh tipis.

"Wa'alaykumsalam warrohmatullohi wa barrokatuh," jawab Aisha diikuti Ule dan Dewi dengan irama yang lebih lambat dan jawaban yang lebih pendek. Tapi andai saja ada orang iseng membandingkan panjangnya intonasi Aisha menjawab salam dibanding Dewi dan Ule itu hasilnya mungkin sama.

"Syukur deh Lo sudah sehat, mau gue antar?"

"Ehm!" Ule mendeham cukup keras. Dewi sekonyong-konyong mendelik ke arah Ule.

"Mm..." belum juga Aisha menyelesaikan kalimatnya.

"Eh Fa! Gak liat ape kite bejibun barang gini, kalo mau ya bantuin angkat barang bukan enaknya aje...masalah nganter Aisha mah ane juga bisa kali," sungut Ule gereget melihat aksi Rafa tiba-tiba.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang