Bagian 13

234 21 28
                                                  

Tidak seperti dua hari kemarin, hari ini Aisha berangkat agak siangan. Jam delapan ia masih terlihat di meja makan bersama Dewi.

"Sha, hari ini penentuan?"

"Hari ini rapat penentuan produk Wi, do'akan ya semoga lancar."

"Iya Sha, aamiin," Dewi melihat ke arah Aisha yang terlihat termenung. "Sha nanti gue antar ya, sekalian ke kampus."

Aisha masih termenung, memandang ke arah piring kue yang kini sisa satu. Tidak mungkin kan Aisha menginginkan kue itu dan takut bersaing dengannya? pikiran terkonyol yang pernah terlintas di pikiran Dewi. "Sha?"

"Eh?" Aisha terkaget.

"Kamu, kayaknya sakit deh, apa istirahat saja?"

"Mungkin hanya kecapekan Wi,"

"Tapi, kamu pucet banget Sha," Dewi mulai khawatir. Ia meraba tangan Aisha. "Dingin banget Sha, jangan-jangan kamu demam Sha?"

"Tidak apa-apa Wi, saya mau menyelesaikan ini dulu," jawabnya penuh keyakinan.

"Tapi hati-hati ya Sha, mau berangkat sekarang?"

"Sebentar Wi, saya sholat dulu," Aisha beranjak menuju kamar.

Sementara itu Dewi berusaha menghubungi Ridho, "halo, Assalamu'alaykum Dho?"

"Wa'alaykum salam, kenapa Wi?" terdengar suara Ridho di ujung sambungan.

"Dho kamu sudah di kantor?"

"Belum, ini baru mau berangkat."

"Dho, nitip Aisha ya, sepertinya dia lagi sakit, eh, udah ya," buru-buru Dewi memutuskan sambungan dan segera menyimpan hape secepat kilat seiring keluarnya Aisha dari dalam kamar. "Yuk!" ajak Dewi kemudian bangkit.

Aisha berjalan serasa melayang. Dia bertekad akan segera pulang begitu rapat selesai dan istirahat. Di dalam mobil, Aisha lebih banyak diam. Dewi sesekali bercerita tentang kampusnya, tentang teman-temannya yang akan mengadakan panggung pementasan, tentang seseorang yang ia sukai, ia bercerita penuh semangat. Aisha berusaha menjadi pendengar yang baik. Ia sangat sayang dengan sahabatnya ini, berharap suatu hari Dewi akan pula memakai hijab.

"Sha baik-baik ya, kalo ada apa-apa hubungi aku ya," ketika hampir sampai. "Mmm, Sha boleh nanya gak?" Aisha tersenyum disertai anggukan. "Sha aku selalu perhatikan hampir tiap hari kamu shalat, shalat dhuha ya? setelahnya kamu terlihat tenang dan siap menghadapi apapun, itu kenapa ya Sha?"

Aisaha sangat senang dengan pertanyaan Dewi setelah begitu lama. "Wi saya pernah mendengar hadits bahwa siapa yang shalat empat rakaat di awalpagi makan akan dipenuhi hajat kita pada hari ini oleh Alloh, apapun yang kita mau. Begitu Wi yang saya dengar."

"Tapi, berarti kita beribadah karena ada maunya dong Sha?"

"Memang kenapa Wi? Kita beribadah memang mengejar apa yang Alloh janjikan, jadi tidak salah ketika kita ingin sesuatu ya mintalah sama Alloh pemilik segala, Alloh sangat senang dengan permintaan hambany Wi."

"Bukankah kita jadinya beribadah bukan karena Alloh?"

"Justeru dengan semakin kita bergantung kepada Alloh SWT, dengan sering kita meminta kepada Nya, itu membuat keimanan kita bertambah. Bukankah iman itu percaya? berarti ketika kita memohon kepada Nya kita percaya bahwa memang Alloh akan mengabulkan apa yang kita inginkan. Karena Alloh karena hanya kepada Nya kita meminta Wi, itu yang saya dapat dari kajian dan yang saya fahami, semoga Alloh mengampuni jika saya salah, aamiin," jawab Aisha hati-hati.

Dewi mengangguk dan tersenyum kepada Aisha. Ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi sayang mobil telah sampai di tujuan akhir.

Aisha balas mengangguk dan tersenyum, "Wi saya turun dulu ya, assalamu'alaykum warrohmatullohi wa barokatuh..." Aisha menunggu sampai mobil Dewi melaju cukup jauh, baru ia masuk ke dalam gedung.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang