Bagian 20

253 19 19
                                                  

Karena menikah adalah menyempurnakan setengah dari agama. Itu juga yang membedakan kita dengan hewan. Manusia memiliki akal pikiran jika hanya sebatas kawin hubungan fisik hewan pun bisa melakukannya. Apa beda kalau begitu kita dengan hewan?

Rumah tangga pun merupakan ibadah yang paling besar. Menikahlah bahkan ketika kita dalam kesempitan yakinlah Dia akan mencukupkan.

Kalimat yang didapatnya dari pengajian terus terngiang-ngiang di kepalanya. Beberapa hari ini Rafa terlihat linglung sering melamun. Dia sedang bimbang. Sebentar lagi harus kembali ke US tapi ada sesuatu yang tidak ingin ia tinggalkan.

"Menikah itu jangan cuma suka aja men," kata Rafa suatu sore ketika sedang duduk di atap kamarnya dengan Arga dan Chiko. Beberapa hari lagi akan diadakan acara syukuran sekaligus launching produk serafood. Rafa hanya ingin ngobrol dengan sahabatnya karena tidak lama mereka akan kembali berpisah, kembali disibukkan dengan aktivitas kuliah.

"Gue gak pernah sekalipun sedetikpun Lu akan ada di titik ini Fa, gue bener-bener bingung, boleh gak si gue bangga?" Arga melihat ke arah Chiko dengan mimik bingung. "Atau malah sedih Fa?"

"Apa sih Ga, gue juga gak tau. Tapi emang Ga, gue jadi mikir." Rafa memandang ke arah Arga kemudian Chiko. Ia melempar pandang misterius membuat Arga dan Chiko penasaran. Keduanya balik memandang ke arah Rafa takjim. "Ketika seorang baik didatangkan pada kita jangan disia-siain deh. Dia mungkin tidak datang dua kali. Hampir saja gue juga kehilangan kesempatan itu karena ego tapi Alloh masih sayang sama gue. Orang itu tetap bertahan. Alloh menahannya untuk gue belajar."

"Aisha?" tanya Chiko penasaran. Ia butuh kejelasan bukan dia atau orang itu.

"Siapapun itu Chik, kasus gue Aisah." Rafa menunduk ia tersenyum simpul. "Gue merasa udah bener hidup selama ini , kenapa dia datang dan mengusik kehidupan gue selama ini, seakan menyalahkan padahal dia tidak juga berbicara menuduh, tidak juga mengarahkan telunjuknya ke hidung gue?" Rafa menatap bergantian keduanya. "Ketika gue sama dia, gue merasa aneh melakukan hal-hal di luar batas, walaupun dulu gue melakukannya tapi hati ini selalu tidak tenang. Dan entah kenapa ketika ada dia gue merasa semuanya baik-baik saja. Semua melihat baik dan gue pun jadi terlihat baik. Apa ini yang orang namakan kita sahabatan dengan tukang minyak ya lo minimal bakal kecipratan wanginya sementara jika kita berteman dengan pandai besi ya minimal lo kecipratan panas dan bau tak enak. Teman yang baik akan membuat kita baik begitu juga sebaliknya, teman adalah cermin, dia menampakkan wajah kita sesungguhnya karena teman adalah siapa kita."

"Fa gue ngeri dengernya," kata Arga sambil memegang pundaknya yang tetiba merinding. "Ini bukan malam jumat kliwon kan? Terus Aisha kebakar dong, kan deket sama Elu?"

Chiko hanya melirik sinis ke arah Arga, "teruskan Fa..."

"Mungkin kebakar sekali dua kali toh dia pun tidak bisa menghindarinya tapi pertahanannya jauh lebih kuat karena gue yang masuk ke lingkungannya bukan sebaliknya. Gue merasa lebih tenang saja sekarang," katanya santai sambil tersenyum ke arah jingga.

"Tapi Lo yakin dengan keputusan Lo?" tanya Arga tidak yakin.

Rafa mengangguk cepat seakan ia ingin mengatakan pasti. "InsyaAlloh Ga."

"Lo dua puluh tahun Fa," kata Arga lagi. "Lo belum juga merasakan pacaran, belum juga pergi bersenang-senang ke klub malam, bukannya kita berencana ke sana?" Arga bimbang melihat bergantian ke arah Rafa dan Chiko. "Gue kok sedih bro."

Chiko menunduk ada sesuatu yang menjalari tenggorokannya rasanya tercekat. Syarafnya menggigil mendapati perkataan kedua sahabatnya dan kenyataan perubahan Rafa. Ingin bersuara tapi sulit. Ada sesuatu yang menahannya: kesedihan? Kehilangan?

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang