Bagian 23

236 15 18
                                                  

Merasa sahabatnya bersekongkol dengan The Qorib Rafa segera pergi dengan kesal.

"Fa, Rafa... tunggu dong," panggil Chiko sambil mengejar langkah Rafa yang tergesa.

"Lagian, gue kan tanya baik-baik..."

"Sorry Fa, sorry...tapi Lo sebaiknya gak tau dulu. Lo dicariin nanti sama bokap lu lebih baik masuk deh. Gue janji, janji bakal ngasih tau Lo, pegang kata-kata gue tapi sekarang Lo masuk daripada rame lagi. Inget Fa nyokap Lu kemarin sakit."

Rafa terdiam beberapa saat. "Bener ya, gue percaya sama Lo Chik," katanya. Kemudian ia pun beranjak masuk kembali ke ruangan diikuti Chiko dan Arga. Sebenarnya kata-kata Chiko tentang mamanya yang membuat akhirnya Rafa kembali masuk. Sementara itu The Qorib memilih pergi meninggalkan acara karena menyisakan hiburan.

***

"Jangan sampe ntu orang tau."

"Udah udah, nyetir aja Le yang fokus nanti kenapa-napa lagi," kata Dewi.

"Iya Le. Semoga sekarang Aisha lebih tenang dan tidak disibukkan lagi dengan permasalahan Rafa yang mau tidak mau atau sadar tidak sadar telah mengganggu ketenangan hidupnya."

"Bener Dho. Ane sudah bilang kan Aisha itu ga cocok buat si Rafa, eh, malah Ente bilang dia sudah berubah segala," katanya kesal.

"Kalau berubah emang berubah Le tanya deh Dewi, ya ga Wi?"

"Mmm," jawab Dewi sungkan berkomentar. "Ngomong-ngomong Aisha bakal lanjut kuliah tidak ya?" tanya Dewi mengalihkan topik pembicaraan.

"Lanjut insyaAlloh Wi, Aisha gadis yang kuat dia tidak akan jatuh begitu saja. Lagipula ini adalah pilihannya," jawab Ridho sambil mengenangkan Aisha.

"Iya sih tapi dia akan terus berhubungan dengan Tjandra Group."

"Selama hubungan itu tidak langsung dengan orangnya Wi aku rasa tidak masalah."

Ule mengangguk-angguk ikut membenarkan perkataan Ridho. Baru kali ini ia begitu tidak berselera melempar humor-humor recehnya. "Umma dan Airin juga terlihat lebih sehat ye, semoga mereka akan selalu baik-baik saja," katanya mengingat ketika kemarin mereka semua mengantar Aisha sampai ke rumahnya, ke Sukabumi.

Sukabumi begitu tenang. Keluarga Aisha tinggal di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Kampung yang tenang seakan tanpa ambisi. Kebanyakan penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Sedikit dari mereka bekerja sebagai pegawai negeri sipil seperti abi nya Aisha almarhum. PNS nya pun terbatas pada jabatan aparat desa dan selebihnya guru sekolah dasar, tidak ada yang lain. Selain petani dan PNS yang banyak terlihat adalah para pedagang dari mulai pedanga keliling sampai pedagang toko kelontong, tidak ada pedagang besar di sini. Selebihnya adalah mereka pekerja serabutan. Biasanya kelompok ini tidak memiliki tanah untuk digarap dan tidak ada keahlian atau keinginan untuk berdagang. Orang-orang berada di desa ini adalah mereka yang memiliki tanah luas, boleh dibilang tuan tanah di jaman dulu. Para tuan tanah ini hidup berkecukupan yang ditandai dengan anak-anaknya yang sekolah tinggi dan kemudian lebih memilih hidup di kota dan pulang setahun sekali ketika lebaran.

"Di desa Aisha belum ada dokter Le..." canda Dewi.

"Maksud Ente?"

"Ya barangkali Lo mau pengabdian di sana."

"Bener Le, kan Lu harus ngabdi kan nanti, pilih saja desa Aisha."

"Wi akhir-akhir ini Lo cemerlang banget, Lo bakal tengokin ane kan..." katanya balik menggoda.

"Ah, males ah jadinya gue kayak lalet nih sama kalian," kata Ridho tak kalah menggoda.

Dan ketawa pun pecah. Mobil terus melaju dalam kecepatan sedang.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang