Chapter 50

4.8K 654 109
                                    

Sinyalir malam buta yang berhembus hening, mencipta sayup dingin di sekujurnya. Tak ada bisik orang yang mencicit, tak ada bising orang yang berkutik.

Titt

Titt

Monitor detak jantung Saras di ruang rawatnya.

Entah apa maksud semesta terhadap pasangan muda ini, sampai sekarang Saras belum sadar. Jangankan sadar, sedikit kemajuan pun tidak ditemukan pada kondisinya.

Tepat di jam 3 malam. Dari sudut ruang rawat Saras terdengar isakan yang menyayat. Disana duduk seorang laki-laki tampan di atas sajadah, dengan tangannya yang menengadah selurusan dadanya. Rupanya Gus Adwan yang sedang melaksanakan sholat tahajjud. Patahan doa yang ia langitkan terdengar jelas, seraya berbasuh muka dengan air mata.

"Ya Allah, engkau mengatakan bahwa memintalah kepadaku, niscaya aku akan mengabulkannya. Disini hamba datang meminta kepadamu Ya Allah, mengemis semiskin-miskinnya. Tolong beri istri hamba rezeki kesembuhan. Hamba benar-benar belum siap kehilangan istri hamba. Bukan maksud hamba mendurhakai takdirmu, bukan! Tapi karena hamba benar-benar belum siap. Hamba bahkan belum sempat membahagiakannya, maka berilah hamba kesempatan untuk membahagiakannya Ya Allah. Hamba mohon. Engkau satu-satunya tempat hamba meminta, jika bukan kepada engkau, lalu kepada siapa lagi. Hamba percaya bahwa kekuatan doa itu tiada tandingnya, engkau pasti menolong hamba Ya Allah."

Selesai bermunajad kepada sang pemilik diri, Adwan berdiri dari sajadahnya, melipatnya dengan rapi. Lalu menghampiri istrinya yang terbaring di ranjang. Pucat sekali wajah itu, namun terlihat damai.

"Udah mau pagi Sayang, kita bobok bentar ya."

Setelah itu Adwan langsung menidurkan kepalanya di sisa ranjang sebelah Saras, sembari menggenggam tangannya. Lalu menutup matanya dengan rapat. Terlihat jelas jika ia benar-benar kelelahan, bagaimana tidak kelelahan jika hampir tiap menit ia tiada hentinya beribadah. Sesungguhnya Allah sangat menyukai lelah beribadah seorang hambanya.

~ 1 jam berlalu, jarum pendek sudah beralih ke pukul 4 pagi. Hening masih melanda, Adwan juga masih tetap terlelap.

Srep

Sontak, ia bangun dari posisi tidurnya dengan kaget yang luar biasa.

Ia langsung menatap setengah nyawa ke arah Saras. Ah yang benar saja, mata Saras terbuka sempurna walau dengan tatapan yang benar-benar kosong. Dan tangannya mengelus pelan tangan Adwan yang memang ada di genggamannya tadi. Ternyata itu yang membuat Adwan melompat dari posisi tidurnya.

"S-SARA.....SS!"

"ALLAHU AKHBAR..! INI MIM...PI ATAU A-APA!!"

Adwan lanjut menampari pipinya dengan keras. Tentu saja yang ia dapati adalah sakit. Seketika sekujur tubuhnya gemetaran hebat.

"YA ALLAH!"

"YA ALLAH!"

Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana lagi sekarang. Air matanya berjatuhan deras bersamaan dengan wajahnya yang disapa pucat.

"S-SAYANG....K-KAM....U"

"K-KAMU......."

Pyurrr

Adwan berlari secepat kilat dari ruangan itu, hendak memanggil Dokter sepertinya.

Gedubrakk

Ia lanjut membanting kasar pintu ruangan itu. Sontak, semua keluarga yang berjaga di depan pintu kaget tentunya.

"EH WAN, KAMU MAU KEM....."

Saranghaeyo, Gus Tampan [TELAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang