Chapter 41

5.8K 655 348
                                    

Pagi menyapa riang, mentari tersenyum cerah di langit timur sana. Jam 6 pagi kini, ada Saras dan Ahtar yang sedang berada di dapur. Saras memasak dan Ahtar duduk di meja makan sambil menikmati energen seduh di gelas kecil. Semalam Ahtar tidak pulang karena ia menolak mentah saat Aidan menjemputnya, bahkan menangis meronta. Alhasil, Aidan terpaksa pulang tanpa Ahtar.

"Pagi Adek-Adek kesayangan Abangg," Adwan tiba-tiba muncul dari kamar atas dengan wajah cerianya.

Saras dan Ahtar menoleh kaget ke arah Adwan.

"Adeknya Abang Awan kan cuma catu doang dicini," cerocos Ahtar langsung menyambar.

"Enggak ah Tar, tuh yang lagi masak juga Adeknya Abang," Adwan menunjuk ke arah Saras sembari menghampiri Ahtar yang sedang duduk.

Seketika mata Ahtar langsung menatap tajam Adwan "Gak boyehh, Kakak Calas kan istli Cayangnya Abang."

"Haha, pinter banget banget Adeknya Abang. Tapi kan Tar, suami-istri itu pada umumnya emang manggil Adek-Abang. Itu dimaksudkan sebagai tutur bahasa, saling menghormati dan lebih romantis."

Sontak, Ahtar langsung senyum-senyum dan menutup mulutnya dengan kedua tangan "Yomantiss ya Abang Awan, ahaha."

Sementara Saras hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum di depan kompor sana.

"Jadi, Kakak Calas juga manggil Abang cama Abang Awan? Bukan Ahtal doang yang manggil Abang?"

"Iya dong Tar, Kakak Saras selalu manggil Abang sama Abang Awan."

"Dih, mana ada!" semprot Saras dari depan kompor, tapi dengan wajah tertawanya.

Adwan dan Ahtar medongak bersamaan ke arah Saras, lalu saling melempar pandang.

"Ahaha, Kakak Calas malu yohh Abang Awann,"

"Haha!" tawa Adwan langsung menyambar mendengar lontaran Ahtar. Memang benar kalau Saras selalu malu setiap membicarakan panggilan Adek-Abang, benaknya.

"Apaan sih Tar, mana ada Kakak malu." lanjut Saras.

"Enggak apa-apa kok Kakak Calas, Ahtal enggak bakayan biyang-biyang."

"Haha, ngomong apa sih Dekkk. Tau aja caranya bikin orang ketawa."

"Udah ah, jangan dibahas lagi. Kamu lagi masak apa Sayang?" Adwan mengalihkan topik. Dan Ahtar lanjut menikmati energen miliknya.

"Lagi masak telur dadar gulung buat Ahtar."

"Buat aku apa Sayang?"

"Nugget sambal ayam, sama udang saus tiram. Suka nggak Chagi?"

"Ih, itu enak banget tauu Sayang. Tapi kok masak ayam mulu sih tiap hari, padahal kamu sendiri gak suka ayam."

"Kan Chagi aku suka ayam, makanya rajin masak tiap hari."

"Eum, baik banget istri aku. Mau ci...."

"Ahtar mau makan sekarang gak Dek?" buru-buru Saras memotong ucapan Adwan yang mungkin kelupaan, pikirnya.

"Oh iya. Ya Allah, kelupaan," Adwan bicara sendirian sembari tersenyum tak karuan. Ternyata ia memahami maksud Saras yang memotong ucapannya barusan.

"Ahtal beyum yapal Kakak Calas," tanggap Ahtar akhirnya.

"Kamu gimana sih Ras, orang kamu kasih Ahtar sereal, ya mana lapar lagi." celetuk Adwan.

"Iya sih, tapi takut tadi kalau Ahtar sakit perut, soalnya kan tadi malam dia juga gak makan. Makanya kasih sarapan sereal aja."

"Kita makan sama-sama aja nanti. Emang kamu udah selesai masaknya Sayang?"

"Belum sih, masih mau masak capcay wortel-buncis.

Saranghaeyo, Gus Tampan [TELAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang