15. My Rosy My All

1.2K 294 116
                                    

Baidewe eniwe, happy reading readers🥰

_______

"Steve, kamu dimana sih!"

Ini sungguh menyeramkan. Bagaimana bisa bandara sore hari semenakutkan ini. Rosy sampai berkali-kali  mencoba memegang anak buah Steve yang jadi menatap canggung. Padahal Rosy hanya mencoba kemungkinan lain, bahwa penglihatannya akan hantu-hantu itu lenyap seperti saat memegang Steve.

"Sudah merindukanku My Rosy?" Steve tersenyum penuh kemenangan, yakin sekali nada tak berdaya dari mulut kekasih tercintanya itu memang karena dia takut Steve tinggalkan. Bolehkan Steve bilang maminya anak-anak itu kekasihnya?

'Oh tentu boleh', Steve tersipu-sipu seperti remaja tanggung yang baru pertama merasakan namanya jatuh cinta. Di sebelahnya, Timo dan Garry adu tatap yang seakan tengah berdialog secara telepati.

Garry: Papi kenapa?

Timo: Positif tergila-gila mamimu.

Garry: *#?/@$#!%°€¥¢!

"Aku..." Rosy terbata, irisnya melirik ke arah samping kiri di mana hantu pramugari cantik tapi seluruh bagian matanya berwarna merah darah mengintip dirinya dari balik rambut yang terurai. Rosy bergidik, "...ingin menyentuhmu." Lanjutnya tak sadar apa yang dikatakan pada Steve di ujung telepon.

"Mak... maksudnya aku takut kamu membawa Garry dan menyisakan aku sendirian di sini." Rosy memarahi dirinya sendiri segera setelah tersadar. Kenapa bisa kalimat yang muncul dari bibirnya justru terdengar ambigu. Bau mayat terpanggang yang menyengat dari si pramugari membuat Rosy merasa bodoh.

Di atas kursi jet mewah, Steve mendongakkan kepalanya ke langit-langit pesawat. Matanya menyipit riang penuh kebahagiaan merasa berhasil memikat si dokter menggoda itu. Senyuman dari bibirnya sudah jadi terlalu lebar. Irama suaranya mendayu merayu, membujuk lawan bicara, mirip artis Vicky Prasetyo. "Jangan khawatir, selamanya aku adalah milikmu. Tentu kamu bebas menyentuh ku, di semua tempat di seluruh tubuhku, Rosy sayang. Aku tidak sabar me..."

Tanpa menunggu lanjutan ucapan Steve, Rosy menutup sambungan telpon mereka dengan amarah memuncak. Keinginan mencekik Steve sekarang juga sungguh teramat besar. Sudah membawa putranya seenaknya, mulutnya masih melantur kemana-mana.

Sedang Steve terbahak-bahak memperlihatkan kegilaan yang baru kali itu dilihat Timo.

Wanita berparas ayu itu terus berjalan mengikuti dua anak buah Steve dengan cepat. Tidak mau melihat rupa-rupa makhluk tak kasat mata, Rosy menundukkan kepala dalam-dalam, menggenggam jemarinya sebagai pengalihan dari rasa takut yang menjadi. Tubuhnya yang gemetar adalah tanda bahwa dirinya dalam bahaya. Beberapa jiwa-jiwa tak beraga itu mendekat padanya dengan tertarik. Ada yang menatap penuh seringai, ada pula yang terang-terangan mengirimkan energi dingin yang menyesakkan dada. Semua itu demi untuk mengambil alih tubuhnya.

Rosy yang masih fokus pada para hantu itu tidak menyadari sedikitpun bahwa jalan yang dia lewati bukan untuk penumpang komersil biasa. Maka saat dia sudah menemukan ruang terbuka yang luas, jajaran pesawat memenuhi pandangannya. Barulah Rosy sadar, 'bukankah seharusnya dia tidak bisa ke tempat ini tanpa melakukan boarding pass? Atau seperti dugaannya, Steve menggunakan private jet? Apa jadi gangster semenghasilkan itu ya? Pasti duitnya banyak, dapat hasil malak seperti di film-film itu, pikir Rosy kejauhan. Padahal tanpa sepengetahuan Rosy, Steve adalah pialang saham yang terkenal membeli saham dengan harga murah menggunakan sedikit ancaman, lalu menjualnya mahal saat situasi dan kondisinya mendukung.

Memangnya siapa yang tidak tahu pria licik banyak ulah yang dikenal sebagai pengusaha itu?

Rosy kembali terganggu dengan aura hitam yang menyebar di kejauhan, sepertinya itu titik kecelakaan pesawat yang menimbulkan banyak korban. Yang membuat Rosy kelabakan adalah banyaknya penampakan korban kebakaran yang meringsek mendekati dirinya.

Boss Gangster dan Bu Dokter IndigoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang